Kuala Lumpur, Februari 2012: Beach Club

21 02 2012

“Chang.”

Aku mengangkat alisku.

“Vietnam. You know the place right?

Aku mengangguk.

—Sejarah negerimu selalu diulang-ulang di banyak film, bagaimana bisa aku tidak tahu. Ujarku dalam bahasa Inggris.

Ia tertawa. Aku memperhatikan wajahnya dari jarak yang cukup dekat. Aku berpikir keras, siapa yang mirip dengan wajah perempuan Vietnam ini. Tapi otakku bermain-main denganku, ia tak mau menjawab, padahal mataku merasa mengenali wajahnya.

Ia kembali menghisap rokoknya, seraya wajahnya menatap ke arah panggung.

Di atas panggung, perempuan berdada besar dan berpenampilan minim itu masih bernyanyi seraya menggoyangkan tubuhnya. Meliuk-liuk. Berusaha membelai hasrat seksual para tamu yang datang, sepertinya. Di meja depanku, seorang lelaki Kaukasian memegang bahu seorang perempuan yang sedang memeluk seorang lelaki lain di hadapannya. Sang Kaukasian seraya tertawa-tawa, melakukan gerakan seperti sedang melakukan doggy style. Irama dorongan badannya mengikuti irama musik yang dilantunkan memenuhi ruangan dengan volume tinggi. Orang-orang di sekitar tak ada yang peduli. Sebagian sibuk memerhatikan sang penyanyi. Sebagian lain terlalu mabuk untuk dapat beranjak. Sebagian lagi sibuk berpelukan.

Aku meneguk botol Heineken di tanganku beberapa kali. Lantas aku menatap perempuan yang berdiri bersandar pada meja tinggi di sebelahku. Want some?

Ia tersenyum sambil mengangguk.

Aku melambaikan tangan kala seorang pelayan memandang ke arah kami. Tangan kananku mengangkat botol bir seraya kuacungkan telunjuk tangan kiriku.

Tak sampai satu menit sang pelayan datang sambil menyodorkan botol bir yang sama. Botol yang lantas kuberikan pada sang perempuan.

Ia meneguknya dua kali. Aku memperhatikannya kala ia meneguk bir. Tenggorokannya yang bergerak kala meneguk. Ia menurunkan botolnya dan menatapku seraya menghisap dalam rokoknya. Aku mengalihkan pandangan, kembali memperhatikan sang lelaki Kaukasian. Goyangan pinggulnya berhenti. Kini kedua tangannya yang sibuk meremas-remas buah dada sang perempuan. Sementara sang perempuan melakukan french kiss dengan lelaki di hadapannya. Tapi saat pandanganku menatap mereka, pikiranku mengembara. Berpikir keras soal siapa yang mirip dengan perempuan di sebelahku ini.

Mendadak ada hembusan asap rokok dari sebelahku.

Perlahan aku menoleh. Sang perempuan Vietnam. Ia menatapku lekat, sambil menarik sudut bibir kirinya membentuk senyuman yang menurutku tampak sedikit sinis.

“Wanna do that with me?”

Aku hanya mengangkat bahu, lantas kembali meneguk birku sambil kembali mengarahkan pandanganku ke depan. Chang mendekatiku dan tangan kirinya mulai merangkulku dan membelai punggungku. Aku tetap tidak bergeming. Pikiranku masih sibuk berusaha mengingat. Bintang film. Bukan penyanyi. Aktris Hollywood. Tapi aku tak mampu mengingat siapapun.

Aku tidak sedang jual mahal, Chang menurutku cantik. Tapi aku memang tidak terbiasa melakukannya dengan orang-orang yang tidak kukenal. Dengan mereka yang kukenal saja, aku biasanya tidak langsung mampu melakukan hubungan seksual. Bila tetap kupaksakan, biasanya penisku tidak akan berfungsi. Ia tetap terkulai lemas. Harus dilakukan blowjob dulu sekian lama, baru ia tegak dan keras. Tapi itupun tak bertahan lama, karena begitu penisku hendak melakukan penetrasi, maka ia akan lemas kembali. Maka harus dilakukan blowjob ulang. Saat akan melakukan penetrasi kembali lemas. Blowjob lagi. Dan begitu seterusnya hingga biasanya sang perempuan akan bosan. Aku melakukan hubungan seks dengan baik hanya apabila aku mampu merasa nyaman dengan sang perempuan. Aku harus mengenalnya dengan cukup baik, atau segalanya berantakan. Satu kata salah terucap, maka penisku dapat kembali lunglai. Aku sadar perilaku penisku tersebut, itu karenanya aku tidak tertarik menanggapi ajakan Chang.

Selain itu, pikiranku sedang sibuk menggali laci-laci tempat ingatanku disimpan.

Tak lama Chang telah menempel ketat punggungku. Tangan kanannya merabai penisku. Membuka retsleting celanaku dan dengan segera menyusup ke dalamnya, berusaha meraih ke dalam.

Aku tetap membiarkannya. Aku tetap menatap ke depan seraya meneguk bir.

Penisku mulai mengeras. Tangannya terus membelai penisku yang masih tertutup celana dalam.

“Let’s put it in mine,” bisiknya di telingaku. Ada hembusan hangat nafasnya. “Just take me to your place.”

I’m staying at my friend’s house. Sorry.

“There’s a hotel in front of this club.”

—I don’t have any money.

Mendadak tangannya berhenti mengusap penisku yang telah amat keras. Ia juga segera menjauhkan tubuhnya sedikit. Menyandar di sebelahku seraya menatapku tepat di mata.

“What? I’m working here, you know.”

Aku menjelaskan padanya, bahwa aku tahu, dan lantas kuceritakan alasan mengapa aku tidak berminat padanya. Bukan soal fisik, tegasku, melainkan karena aku paham betul perilaku penisku yang memang tidak bisa diatur. Ia tertawa-tawa mendengar penuturanku, terutama saat kukisahkan bahwa aku pernah beberapa kali mencoba dengan seorang yang baru saja kukenal, dan tak berhasil, selain malah menghasilkan anggapan bahwa aku setengah impoten.

—If Paulo Coelho said eleven minutes, I said twenty minutes is minimal. Thirty is okay. But only with the right woman. Otherwise, yes, I’m impotent.

Perempuan ini tertawa-tawa sambil menyalakan rokoknya kembali. Ia bersandar di meja dan tangan kanannya kembali mengusap-usap penisku yang belum juga kututup retsleting celananya. Tapi kini dengan tangan kiri memegang rokok atau kadang memegang botol bir.

Kami mulai saling berbagi kisah. Tertawa-tawa ringan. Matanya yang sipit semakin sipit setiap kali ia tertawa. Perempuan ini berbeda dengan para pelacur lain di klab malam ini. Saat pelacur lain berlomba-lomba mengenakan pakaian minim dan terang-terangan mengundang, Chang justru mengenakan kemeja berwarna lengan panjang putih polos yang ia gabungkan dengan celana denim biru dan stilleto hitam. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, menutupi kalung yang menggantung di leher serta menjuntai manis di dadanya yang tak terlalu besar. Ia lebih mirip seorang karyawan kantoran, hanya lebih sederhana saja. Beri ia iPad dan ponsel Blackberry di genggamannya, ganti tas tangannya dengan tas kulit yang agak besar, sangkutkan di bahunya, maka ia tak akan bisa dibedakan dengan karyawan kantoran di Jakarta.

Aku masih membiarkan tangannya yang terus membelai penisku seraya pikiranku masih belum berhasil menemukan jawaban, kala mendadak seseorang menepuk bahuku, mengagetkanku. Aku menoleh dan berbalik. Dengan tangan Chang masih di celanaku.

Manager dari perusahaan yang menjadi partner kerjaku di sini.

“Oooh. Hmmm,” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Wajahnya tak bisa menyembunyikan kekagetannya. Aku hanya meringis. Tak lama ia juga meringis, menyeringai tepatnya, dan sorot matanya mulai berubah. “Hmmm.”

Ekspresi wajah yang menyebalkan. Pikirku.

Aku melepaskan tangan Chang. Mengecup pipinya seraya kubenahi retsletingku. Kusambar jaket kulitku yang sedari tadi kubiarkan tergeletak di meja dan kutandaskan botol birku.

Sang manager mendekatiku lantas berbisik: Maggie Q.

Aku terperangah sejenak. Akhirnya! Akhirnya aku mendapatkan jawabannya. Aku menyeringai. Akhirnya aku tahu. Ya. Aku tahu.

Kini aku dapat tidur nyenyak sepulang dari klab malam ini.





Sesuatu Bernama Kenangan

21 02 2012

“Where you used to be, there is a hole in the world, which I find myself constantly walking around in the daytime, and falling in at night.”

—Edna St. Vincent Millay

Aku melewati bulan demi bulan, untuk melupakanmu. Tapi engkau semakin lekat di hatiku. Aku berusaha mengingat hanya semua kenangan buruk bersamamu, demi mengusir dirimu dari benakku, tapi aku hanya berakhir dengan membencimu. Dan membencimu, berarti membuatmu tetap ada bersamaku, selalu. Maka aku berhenti mengingat sisi burukmu.

Mungkin ini menegaskan fakta bahwa aku menua, bukan sekedar bertambah usia. Bahwa apa yang penting kini bukan lagi menari di ambang batas dunia, melainkan bahwa bahkan air mataku, bukan lagi mengalir dari hadirnya harapan ataupun dari visi kesedihan, melainkan dari hadirnya kenangan yang terlalu sering diputar ulang dalam benakku.

Mengapa aku masih bersedia melakukan apapun untukmu? Mengapa aku masih juga memercayaimu? Mengapa aku dapat begitu mudah memaafkan apapun kesalahanmu? Mengapa aku masih juga tersenyum saat engkau terkadang mendera emosiku? Mengapa aku masih kesal saat seseorang berujar buruk tentangmu? Demi surga, mengapa?

Aku tak pernah mengatakannya padamu. Ironis karena aku dapat mengumbar ribuan kata cinta untuk siapapun, tapi justru tidak bagimu. Aku tak pernah mampu menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku padamu. Toh semua tak penting lagi saat ini, memang, karena segalanya telah berlalu. Tapi seandainya saja engkau tahu, betapa tersiksanya diriku kini, hanya karena aku merindukanmu.

Ingin kukatakan bahwa aku hanya ingin memelukmu malam ini. Hingga pagi hari datang menjelang dan kutemukan dirimu masih terlelap di pelukanku. Tapi apakah engkau juga menginginkan hal tersebut seperti aku menginginkanmu? Untuk sekedar dapat memelukmu?

Aku tak tahu. Aku hanya tahu betapa sakit rasa rindu akan dirimu menderaku. Api dirimu akan terus kuhidupkan dalam sebuah ruang mungil dalam jantungku. Ruang yang pernah, dan akan selalu, menjadi ruanganmu, seperti janjiku dulu. Walau mungkin kau tak bersedia lagi untuk tinggal di dalamnya. Walau mungkin terlalu mungil dan aku tahu itu tidak cukup bagimu. Mungkin. Aku tak tahu. Aku hanya tahu bahwa ruangan itu akan tetap milikmu, sebagaimana aku tak pernah dapat berhenti mencintaimu.

Tidakkah kau dengar aku memanggil namamu malam ini?





Jakarta 101: Ruang Istana sang Raja Bisnis

14 02 2012

Lantai 46. Aku tidak tahu apakah ini bangunan tertinggi di Jakarta. Tapi setelah aku melayangkan pandangan ke sekitar, kepada area sekeliling yang mampu terlihat dari jendela super besar ini, tak ada bangunan yang lebih tinggi. Setidaknya di sekitar sini tak ada. Artinya di sekitar sini, inilah gedung tertinggi.

Lantai yang dilapisi karpet super tebal dan empuk. Dinding yang dilapisi wallpaper yang sengaja dipesan khusus sehingga ukurannya menyatu. Suatu hal yang merepotkan, pikirku, karena begitu ada kerusakan di satu bagian, artinya seluruh bagian harus diganti. Ada meja super besar, rak buku yang tak kalah besar, tapi kosong. Aku dapat menebak, bahwa rak buku tersebut akan diisi dengan buku-buku yang kemungkinan besar tidak akan dibaca—buku-buku yang apabila dipajang akan menaikkan gengsi si pemilik. Buku-buku yang tentu akan berharga ratusan ribu rupiah. Di dekat ruang utamanya dipajang foto-foto pemilik gedung ini sedang bersalam-salaman dengan sang presiden, Susilo Bambang Yudhoyono. Entahlah, aku tidak terlalu paham mengapa bagi banyak orang, bersalaman dengan presiden menjadi sesuatu yang layak dikenang dan perlu dipamer-pamerkan.

Aku tidak terlalu banyak bicara di sini. Aku tak ingin berbicara. Aku tidak suka di sini. Mungkin aku bisa menikmati ruangan di tempat tinggi begini, aku bisa berendam-rendam di bathtub dan menenggak minuman mahal, bercinta di hadapan jendela yang terbuka. Tapi aku tidak suka orang-orang di sekitarku saat ini. Aku tidak suka berada di sekitar orang-orang yang terlalu berkelimpahan uang.

Mungkin kami adalah spesies yang berbeda.

Sang manager masih sibuk mengomentari furnitur dan berbagai perlengkapan yang ia rasa salah. Terlalu pendek, katanya. Ada cacat di ujungnya, katanya. Posisi lampunya miring, katanya. Lemarinya terlalu ke kanan, katanya. Ada goresan tipis di ujung pintu, katanya. Bantalnya harus diganti warnanya, bahan sarungnya juga harus dicari yang lebih lembut, katanya. Sementara sang akuntan berdiri tak nyaman di sebelah sang manager. Ia hanya mengangguk dan mengangguk. Dua telapak tangannya terkatup di depan seraya badannya agak menunduk. Seperti seorang anak SD yang ditegur dan bersiap dihukum oleh gurunya.

Sementara aku hanya berdiri bersandar pada meja jati super besar di dekatku. Memperhatikan mereka. Kedua orang anggota tim kerjaku berdiri tak jauh dariku. Tak berkata apapun, tak ada ekspresi. Aku dapat menebak dari cara mereka berdiri dan memandang ke sekeliling, bahwa mereka sama tak nyamannya denganku. Saat pandanganku beradu dengan salah seorang dari mereka, tangan kanannya menunjuk tenggorokannya seraya mulutnya membentuk sebuah garis memanjang dan keningnya berkerut. Aku meringis. Aku paham maksudnya. Ia kehausan.

Di dunia yang berkelimpahan uang seperti ini, bukan pertama kalinya aku mendapati bahwa orang-orang super kaya tersebut seringkali memperlakukan mereka yang posisi sosialnya jauh di bawah mereka seperti bukan manusia. Seperti kali ini, saat aku datang bersama dua orang tim kerjaku—yang artinya kedua orang tersebut adalah bawahanku—maka yang disalami kala datang, diajak berbincang, disuguhi minum, hanyalah diriku. Tak seorangpun yang menyapa kedua orang timku. Bahkan tak ada air bagi mereka. Di dekat mereka ada air minum yang terpampang di atas meja. Tapi aku tahu, itu adalah pajangan belaka. Karena posisinyapun telah diatur sedemikian rupa. Air yang disuguhkan bagiku juga bukan berasal dari air minum di meja tersebut.

Di sini, buku tidak untuk dibaca. Lampu tidak untuk menerangi. Kursi tidak untuk diduduki. Bahkan air minumpun tidak untuk diminum. Semua diletakkan pada tempatnya secara tepat untuk sebuah pajangan. Bukan untuk digunakan.

Aku menggerakkan kepalaku sedikit ke arah gelas yang kutaruh di sebelahku. Gelasku masih berisi air. Aku sesaat memperhatikan para tuan rumah. Mereka masih sibuk mengeluh dan merengek. Aku menggeser sedikit gelasku ke arah timku. Mengerti, mereka dengan cepat menyambar gelasku dan menandaskan isinya. Secepat itu pula mereka segera berdiri seakan tak ada apapun yang terjadi.

Aku melirik jam tanganku. Waktu terasa begitu lambat di sini. Pandanganku kembali menerawang keluar jendela. Di atas tanah yang super luas ini, untuk membiayai semua pajangan yang ada di sini, berapa harga yang harus diberikan, benakku bertanya. Tak ada yang gratis di atas dunia ini. Untuk segelintir orang agar dapat menjadi serba berkelimpahan seperti ini, maka ada ratusan atau ribuan lainnya harus menjadi serba kekurangan. Aku tidak suka berada di dekat orang-orang seperti mereka yang sedang sibuk merengek di dekatku ini. Mereka yang telah memiliki segalanya tetapi tak juga merasa terpenuhi.

Tetapi mungkin aku salah. Mereka mungkin justru tidak memiliki segalanya. Dari rengekan dan keluhannya, aku dapat menebak: mereka tidak berbahagia.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.