Le Jeune Homme Amoureux: Mainan

29 07 2014

It is better to conquer yourself than to win a thousand battles. Then the victory is yours. It cannot be taken from you, not by angels or by demons, heaven or hell. 

Buddha

Balik menghadap ke arah sana, kataku.

Engkau tersenyum dan melakukan apa yang kukatakan.

Pentangkan yang lebar. Aku ingin melihat lubangmu lebih jelas, kataku lagi.

Engkau menoleh sambil mengangkat alis. Mengangkat bahumu, tapi tetap, kau lantas melakukan yang kukatakan.

Aku memerhatikan dengan seksama lubangmu.

Bagaimana dengan latihannya, Ci. Tanyaku.

—Setiap pagi dan malam.

Bagus sih. Karena tanpa latihan hal ini tidak akan menyenangkan. Kita berdua tahu soal itu. Coba buka barang yang Cici beli kemarin, pintaku.

Engkau mengangguk dan berjalan meraih tas tanganmu. Sibuk sebentar, menggenggam sebuah kotak kardus kecil lantas berbalik dan mengacungkannya padaku.

—Buka?

Aku mengangguk.

Engkau duduk di atas kasur kemudian sibuk merobek kemasannya. Dalam kemasannya dipenuhi oleh kertas lembut yang kau buka perlahan-lahan seakan menjaga agar kemasannya sama sekali tidak rusak. Di dalamnya lagi, masih ada bungkusan lain yang lebih rapat dan rapi. Mungkin itu karenanya mengapa kau buka dengan amat berhati-hati.

Agak lama, akhirnya selesai. Engkau meringis dan mengacungkannya padaku. Lalu tertawa pelan.

—Besar juga ya? Bisa masuk ya sebesar ini?

Aku juga tertawa.

Engkau juga ikut memilih setelah melihat pilihan gambar mainannya, ujarku sambil tetap tertawa.

Tetap jadi atau batal, sambungku kemudian.

—Jadi.

Engkau mengangguk mantap. Aku tersenyum. Aku suka sikapmu.

Aku berdiri dan membuka lemariku mengambil satu tube Durex Play yang sudah habis setengahnya. Lalu kutarik kursi oranye kemerahanku dan duduk menghadap dirimu.

Engkau masih mengacungkan tanganmu menggenggam mainan tersebut sambil tetap tersenyum.

Sekarang olesi lubangmu dengan ini, kataku seraya kuacungkan tube di tanganku.

Engkau selalu antusias setiap kali memulai permainan baru. Tanpa takut. Tanpa khawatir apapun. Amat berbeda dengan mereka yang usianya jauh lebih muda yang mengaku ingin mencoba apapun, tetapi selalu saja ketakutan saat aku mengajukan permainan baru. Amat berbeda denganmu, yang kini langsung melakukan apa yang kukatakan tanpa pertanyaan, tanpa sanggahan. Menyusul ucapanku tadi, engkau sibuk melumasi jemarinya dan mengolesi bukaannya.

Tambah lagi. Sekarang masukkan satu jari dan berikan pelumasnya di bagian dalam juga, komentarku.

Engkau melakukannya begitu saja. Begitu saja.

Sekarang mainan tadi itu perlu dilumasi juga dengan baik, ujarku seraya mataku terus terfokus memerhatikan bagaimana engkau melumasi bukaanmu.

Mainan itu secara aneh bentuknya sedikit menyerupai tetesan air mata dengan sebuah dudukan kecil di bawahnya. Atau mungkin pohon cemara dengan setiap sudut yang membulat dengan lembut dan halus. Tanpa sudut tajam sedikitpun. Berbahan fiber bening sehingga mirip kaca.

Engkau masih dalam posisi menungging di mana bagian belakangmu menghadapku. Dada dan tubuhmu kau baringkan di atas kasur.

Kini mainan tersebut sudah dilumasi dengan sempurna. Tangan kananmu memegang dudukannya yang kecil tetapi begitu pas di tangan. Lalu engkau menoleh.

—Sekarang?

Kapan Cici siap, ujarku sambil mengangguk.

Lantas kubantu pentangkan kedua bulatan pantatmu, sementara kau sibuk dengan mainan bening tadi. Perlahan kau pastikan ujung atas mainan seperti cemara yang membulat itu pada bukaanmu. Perlahan juga, tangan kananmu mendorongnya masuk. Perlahan. Amat perlahan. Badanmu sempat bersitegang selama sepersekian detik, persis ketika ujung mainan bening tersebut mementangkan bukaanmu sedikit demi sedikit. Dan aku melihat itu semua.

Engkau melakukannya tanpa bicara sama sekali. Amat fokus.

Perlahan-lahan mainan bening tersebut masuk semakin dalam. Senti demi senti. Mengatur nafas. Tegang sejenak. Menarik dan menghembuskan nafas. Rileks. Masuk lebih banyak. Begitu dan begitu terus. Hingga akhirnya, “plop” bagian yang berbentuk air mata itu sudah berada di dalam sepenuhnya dan hanya tersisa pegangannya yang berada di luar. Bukaanmu telah terbuka dengan baik dan kini tertahan. Lubangmu terisi lebih baik dan lebih penuh dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Engkau seperti membeku. Tetapi tubuhmu sedikit gemetar.

Aku meraih tubuhmu dan perlahan membalikkannya, menghadapku. Engkau kini dalam posisi berjongkok di hadapanku. Kuangkat dagumu perlahan hingga aku dapat menatap matamu.

Apakah itu air mata, tanyaku.

Engkau mengangguk. Lantas meringis. Tanganmu segera bergerak menghapusnya.

—Sekarang coba untuk duduk.

Engkau menatapku sambil perlahan-lahan menggerakkan badanmu ke belakang dan mengambil posisi duduk di atas karpet.

Begitu duduk, sontak kepalamu tengadah dan matamu menutup sambil mengernyit. Mulutmu terbuka. Aku tahu, engkau berusaha menahan suaramu saat beban tubuhmu saat duduk mendorong mainan bening tadi memasuki dirimu lebih dalam.

Aku berdiri dari kursiku kemudian berlutut di hadapanmu. Kuusap rambutmu perlahan. Engkau masih menutup mata, tapi kernyitan di dahimu telah hilang. Kini yang ada adalah senyumanmu. Kukecup bibir itu pelan. Kugigit lembut dan dalam sepersekian detik lidah kita saling bergumul dalam desah dan basah. Kuraih tangan kirimu dan kuangkat perlahan. Kini posisi dudukmu disangga oleh tangan kananmu ke belakang. Kuhentikan pagutan kita lalu kuganti, kumasukkan, kuhisap jari tengah dan telunjuk kirimu dengan perlahan, seraya mataku masih menatapmu. Engkau juga menatapku lurus.

Tak lama kukeluarkan jemarimu dari mulutku dan kuarahkan pada klitorismu. Kuusap-usapkan perlahan, lantas kulepaskan genggamanku setelah tanganmu otomatis bekerja sendiri.

Kembali mulutku menyerbu mulutmu. Perlahan, engkau mulai mendesah. Nafasmu berat dan memburu. Gerak tubuhmu semakin aktif.

Aku menarik diriku. Berdiri. Kuacungkan tangan kananku yang segera kau sambut dan berdiri perlahan-lahan dengan mainan bening itu masih menempel pada lubangmu. Engkau lantas berdiri dengan posisi yang aneh karena mungkin rasanya memang aneh ada benda yang menancap di bawah belakangmu.

Kubimbing perlahan dirimu agar dirimu berdiri dan menumpukan beban tubuhmu di meja.

Aku berlutut di belakangmu.

Siap, Ci? Tanyaku.

Engkau mengangguk.

Kurenggangkan kedua bongkah pantatmu. Lalu kuraih pegangan mainan bening tadi. Lalu kutarik perlahan. Amat perlahan. Seperlahan saat ia memasuki tubuhmu tadi. Engkau menahan nafas beberapa saat. Lalu menghembuskannya perlahan. Perlahan. Perlahan. Perlahan.

Hingga, “plop”. Mainan itu lepas dari tubuhmu sepenuhnya, seiring dengan hembusan lega nafasmu. Kuperhatikan hasilnya. Mainan bening ini telah meninggalkan lubang dengan pinggiran kemerahan sementara tengahnya gelap menganga.

Diam dulu, Ci. Ujarku seraya aku berdiri dan meletakkan mainan bening itu berdiri di atas meja tepat di hadapanmu. Mainan itu berdiri seperti cemara berbentuk aneh.

Engkau menoleh dan berdehem tanda setuju.

Aku meraih tube Durex yang tadi tergeletak di atas kasurku, seraya aku membuka celanaku. Kubuka tutupnya dan kuolesi dengan baik penisku. Lalu kudekati tubuh telanjangmu. Kujilat pundakmu sedikit.

Kini giliranku, Ci, bisikku perlahan.

Dengan mudah, teramat mudah malah, penisku menelusup ke dalam bukaanmu tadi. Engkau sedikit tersentak. Kupeluk tubuhmu erat dari belakang dan kutancapkan gigiku di pundakmu. Engkau melenguh pelan seraya kepalamu tertengadah. Dengan tangan kananku segera kuraih mainan bening tadi seraya kugerakkan badanku maju mundur teratur. Kuangkat ke hadapan wajahmu.

Kini tangan kiriku meraih leher depanmu. Melingkar di sana dengan tepat, menjaga agar kepalamu tetap tengadah. Tangan kananku dengan perlahan mengarahkan ujung atas mainan bening tumpul itu ke mulutmu seraya gigitanku masih menancap di pundak kananmu.

Selanjutnya, di antara eranganmu, sebagaimana dirimu yang tak pernah mengenal kata menyerah untuk hal apapun, yang selalu mampu mengalahkan dirimu sendiri, tanpa perlu komentar dan kata-kata, engkau membuka mulutmu.





Jagat Raya yang Dilihat Melalui Lensa Kanta: Mainan

22 07 2014

Boys are easy. I mean, there are just a lot of bruises when they’re young. With boys, you get a lot of accidental jabs in the eye and stepping on your feet, and those tantrums they cause when they don’t want to leave the toy store.

—Jodie Foster

62533_10152301551323271_3608869858538614457_n

Semenjak di Jakarta, aku memiliki koleksi mainan. Tepatnya action-figure Star Wars berukuran 3,75 inchi. Termasuk barang murahan untuk kalangan para kolektor Star Wars tetapi tetap mahal apabila diukur dari kapasitas urusan finansialku. Tapi toh aku tetap mengumpulkannya. Aku menyukainya. Aku menyukai kisah fiksi Star Wars dan karenanya aku menyukai koleksi mainan kecilku.

Sesungguhnya, koleksi kecil ini hanyalah sebagian dari ketertarikanku. Komik Eropa, komik Amerika, novel, sejarah, sci-fi, Lego, dan banyak lainnya. Aku memiliki banyak ketertarikan, walau rasanya tidak sebanyak orang lain. Tetapi aku juga cukup spesifik, walau tidak sespesifik orang lain juga. Aku menyukai sebagaimana aku merasa menyukai. Aku menyukai sesuatu karena aku memang menyukai sesuatu tersebut. Tidak peduli orang lain menyukai apa yang kusuka atau tidak. Tidak perlu rasanya pembenaran mengapa aku suka sesuatu hal. Aku suka, karena aku suka. Argumen mengapa aku suka, adalah urusanku, bisa kuutarakan tapi tak pernah ingin kuperdebatkan.

Aku bahagia setiap kali aku mendapatkan satu saja figur Star Wars yang kuinginkan. Aku ulangi: bahagia.

Beberapa orang menganggap bahwa hal ini adalah kebahagiaan semu. Ilusif. Semenjak kebahagiaanku bertautan dengan urusan kebendaan.

Bisa jadi orang-orang tersebut benar. Tapi toh aku tahu aku bahagia dan apa yang tahu perasaanku, bukankah hanya diriku sendiri dan bukan orang lain? Lagipula aku selalu tahu apa yang aku mau, aku inginkan. Misal ada seseorang bertanya padaku sebagaimana Durden bertanya pada anak-anak buahnya soal apa yang mereka inginkan, aku bisa menjawabnya dengan teramat mudah.

Aku bahagia karena figur-figur mainan yang kudapatkan ini merepresentasikan karakter-karakter fiktif yang merupakan sebuah hasil kreasi yang dipikirkan masak-masak. Figur-figur ini melengkapi kamarku, di mana aku suka berada di dalamnya hanya seorang diri sebagaimana orang Inggris yang menyatakan bahwa “Tempatmu berada, seburuk apapun, adalah istanamu.” Satu saat memang aku sadar benar, figur-figur ini akan dapat hilang, patah, rusak dimakan usia. Tentu saja.  Bukankah semua hal memiliki akhir? Aku sadar betul hal tersebut, tetapi aku tidak menjadikan hal itu penghalang kebahagiaanku. Aku bahagia karena setidaknya figur-figur ini pernah menemani hari-hariku.

Beberapa orang berkata bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan.

Bisa jadi orang-orang tersebut benar. Tapi bagiku, uang dapat membantuku dengan sangat baik dalam meraih kebahagiaanku. Tidak sepenuhnya kebahagiaanku diraih dengan uang, tapi uang amat membantu. Mereka yang berkata bahwa uang tak pernah bisa membeli kebahagiaan, mungkin adalah mereka yang memang tidak pernah tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka. Sehingga berapapun banyaknya uang yang mereka punya, tak pernah membuat mereka bahagia. Mungkin standar kebahagiaan mereka terlalu tinggi. Mungkin saja. Tapi aku tidak.

Aku bahagia dengan figur-figur kecil Star Wars-ku. Aku bahagia memiliki seorang isteri yang tidak pernah rewel hanya karena aku memiliki hobi mengumpulkan mainan.

Aku bisa berbahagia dengan hal-hal yang kecil, dapat teraih dan hadir di kehidupanku sehari-hari.





Le Jeune Homme Amoureux: Aku Ingin Terlelap di Sisimu 7 Hari Lagi

10 07 2014

Aku tidak tahu mengapa, tapi beberapa malam semenjak aku menjejakkan kaki kembali di Jakarta, aku begitu gelisah. Tentu saja, awalnya karena jetlag. Tapi tidak selama ini juga mestinya. Dan dalam setiap kali gelisahku tersebut, aku menghubungimu, karena di Jakarta ini, engkaulah yang mengerti bagaimana menemaniku dalam tenang. Dan tentu saja, kita bisa berjumpa. Kukatakan aku sedang ingin berada dekat denganmu. Aku ingin bersamamu.

Engkau takut kehilangan Cici? Tanyamu sambil tertawa.

Mungkin. Jawabku. Sambil tertawa juga. Tapi bukan tertawa lepas sepertimu.

Kukatakan dalam hati, aku benar-benar tidak tahu. Apa yang aku tahu hanyalah dalam hal seperti ini engkau benar-benar sabar.

Seperti malam ini saat engkau memutuskan untuk menemaniku tidur.

Apakah Cici harus telanjang? Tanyamu.

Aku mengangguk seraya membuka bajuku sendiri.

Maka kita berdua telanjang. Aku ereksi sedikit. Tentu saja.

Tapi entah bagaimana, malam ini aku tidak ingin menyetubuhimu. Bukan birahi yang menyelusup dalam diriku malam ini. Engkau tampaknya mengerti. Engkau tidak memintaku melakukan apapun. Engkau hanya diam seraya tangan kananmu membelai-belai lembut penisku seperti seseorang yang dengan penuh kasih membelai hewan piaraannya.

Engkau juga masih diam saat kubenamkan wajahku di ketiakmu yang berambut halus lembut. Kutumpangkan tangan kiriku di atas payudaramu. Aku hanya membelai-belainya, bukan kuremas keras hingga kau mengaduh seperti biasa. Kadang kupilin lembut putingmu, bukan kujepit hingga kau menjerit seperti biasa. Beberapa saat kemudian, aku masih membenamkan wajahku, menghirup aroma ketiakmu yang apabila malam tak pernah menyimpan aroma artifisial, saat aku merasakan bahwa engkau menatapku.

Kutarik wajahku sedikit dan aku melirik pada wajahmu.

Engkau tersenyum lembut.

Lalu tangan kananmu yang sedari tadi mengusap penisku, kini mengusap-usap kepalaku, menepuk-nepuk lembut bahuku. Kau kecup kepalaku perlahan dan lembut seraya kau usap punggungku. Begitu saja. Begitu saja. Dan memang dengan begitu saja itu pulalah penisku mengendur, gairah birahiku menguap entah kemana padahal kita berdua masih telanjang bersisian. Mungkin karena aku merasakan kedamaian.

Kuselipkan tangan kiriku di selangkanganmu. Mengusapnya perlahan. Memainkan rambut pubismu. Hingga entah kapan tepatnya, aku telah tertidur dalam damai.

*****

Saat aku terbangun pagi harinya, aku merasa segar. Kau juga masih ada di sebelahku dan sudah membuka matamu seraya masih berbaring di sebelahku. Kau mengecup keningku.

Aku menatapmu. Engkau balas menatapku sambil tersenyum. Ada guratan-guratan di sudut bibirmu yang tipis dan matamu yang sipit. Aku menyukainya. Kuusap setiap guratan tersebut perlahan. Kau tampak begitu menawan. Kau singkirkan tanganku perlahan lalu kau dekatkan wajahmu. Kau kecup keningku, lagi. Lalu kedua pipiku dan terakhir bibirku.

Seperti lelaki lainnya saat bangun pagi, penisku menegang, ereksi, tetapi bukan karena birahi. Kau menatapku lekat. Tanganmu mengelus penisku—yang semakin menegang dan kini kebangkitannya mulai tercampuri birahi. Engkau menggeser dan mengangkat tubuhmu. Bergeser pelan dan setelah dengan tanganmu kau usapkan rambutmu yang berjatuhan pada wajahmu ke belakang, lidahmu mulai menyusuri batang penisku. Dari ujung ke ujung. Ujung ke ujung. Beberapa kali, lalu kau kulum perlahan.

Hanya sebentar. Lalu kau rebahkan lagi tubuhmu seperti semula dan seperti semula juga kau menatapku lekat dan dekat.

Apa yang ingin kau lakukan pagi ini, tanyamu. Mumpung aku masih di sini.

Aku diam, mataku menerawang ke tempat lain. Tak butuh waktu lama hingga aku membisikkan sesuatu di telingamu. Engkau mengangkat alis seakan heran, tetapi akhirnya mengangguk juga.

Aku bangkit, berdiri dan membuka laci mejaku. Tak lama tangan kananku sudah membawa sebuah mistar dan kulakukan apa yang tadi kubisikkan padamu. Engkau tertawa.

*****

Engkau tertawa geli saat kusampaikan hasil pengukuranku terhadap helai-helai rambut di tubuhmu.

Rambut pubismu rata-rata 6,5 cm. Agak ikal tapi ada cukup banyak yang lurus. Agak aneh juga, karena milikku dan perempuan-perempuan bukan berdarah Cina sepertimu tak pernah memiliki yang lurus.

Rambut ketiakmu pendek, hanya 3 cm. Semuanya lurus dan lembut. Tidak seperti pubismu yang mana satuannya tebal, rambut di ketiakmu halus dan lembut.

Rambut di lenganmu lebih pendek lagi, rata-rata 1 cm. Jauh lebih halus dari rambut manapun. Nyaris tak nampak malah saking halusnya. Warnanyapun terang kecoklatan nyaris sama dengan warna kulitmu.

Sementara rambut di kisaran anusmu rata-rata 2,8 cm. Lurus dan agak melengkung. Lemas karena sama sekali belum pernah dicukur.

Engkau masih terbahak.

Ah, andai engkau tahu betapa inginnya kuabadikan momen tersebut dengan kameraku. Andai engkau mengijinkannya. Andai saja.

Tetapi nyatanya tidak.





Tentang Menjadi Manusia Indonesia: Adaptasi atau Mati

5 07 2014

“It’s the perfect place to grow up neurotic.” —Tommy Ramone

Beberapa bulan lalu, di pinggiran Jakarta terjadi benturan antara diberlakukannya jalur transportasi yang serupa Transjakarta, yang menjanjikan ketepatan waktu yang lebih baik, layanan yang lebih nyaman dan keamanan yang terjamin, dengan mereka para pengemudi metromini dan mikrolet. Para pengemudi metromini dan mikrolet marah karena keberadaan angkutan baru itu akan merusak alur mata pencaharian mereka.

Seorang kawan yang kukenal dengan segera menyatakan padaku dukungannya terhadap para pengemudi metromini dan mikrolet. Mereka orang-orang kecil, katanya.

Aku bertanya pada kawanku tersebut, bagaimana ia bekerja setiap hari. Apakah ia menggunakan metromini atau mikrolet.

Tidak jawabnya. Ia menggunakan motor.

Tentu saja, keparat. Umpatku.

Karena aku tidak ingin terlambat, ujarnya lagi.

Bodoh. Kau pikir hanya dirimu yang tak ingin terlambat, umpatku.

Mereka yang mengandalkan metromini dan mikrolet pasti hafal betul, bagaimana para pengemudinya bisa menunggu calon penumpang sekian lama, tak peduli akan waktu yang dibutuhkan para penumpang yang sudah naik ke dalam mobilnya, yang penting muatan penuh. Para pengemudi tak peduli kalaupun kendaraannya berhenti di tengah jalan, mengganggu kendaraan lain dan membahayakan penumpang yang turun. Seringkali juga mobil tak bersedia benar-benar berhenti sehingga penumpang yang turun harus melompat dan kalaupun jatuh, kernetnya malah memaki. Para pengemudi tak peduli apabila para bajingan masuk menganggu penumpang dengan berkata, “Ya Bapak Ibu sekalian, daripada kami harus merampok, daripada kami terpaksa menodong…” Tak semua memang, beberapa pengemudi tidak seperti di atas, tapi hal-hal di atas juga seakan sudah dianggap lazim. Tak ada yang mengeluh selama ini, pengemudi juga tetap seenaknya karena kedua pihak seakan sadar satu hal: karena toh para penumpang tak memiliki alternatif lain. Tapi saat sekarang hadir pilihan lain. Lihat yang terjadi.

Dan kini mereka, para pengemudi itu marah karena para penumpang lebih memilih angkutan lain tersebut?

Dan kini engkau yang menggunakan motor setiap hari berkata padaku bahwa kita harus berpihak pada para pengemudi sialan itu?

Aku bukannya tak peduli pada nasib ‘orang kecil’—aku benci istilah ini—dan juga soalan perang kelas. Satu hal yang pasti, aku tak akan menempatkan kesadaran kelasku pada hal konyol dan bodoh seperti itu.

*****

AFTA direncanakan akan mulai resmi menjadikan Indonesia sebagai salah satu bagiannya di tahun 2015, alias tahun depan. Ketika ditandatangani pertama kali, negara yang terlibat selain Indonesia adalah Brunei, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Lantas menyusul di tahun-tahun berikutnya negara Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Tujuan awalnya memang untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN di tingkat global.

Dulu aku melihat hal ini sebagai sebuah ancaman yang mengerikan. Tenaga kerja di Indonesia akan diperas habis-habisan, demikian juga dengan sumber daya alam yang ada. Betapa privatisasi gila-gilaan yang akan menyertai AFTA tersebut hanya akan membawa kesengsaraan yang skalanya juga besar-besaran.

Dulu.

Tapi terus terang, setelah sekian lama tinggal di Jakarta. Setelah sekian lama berjumpa dan berbincang dengan orang-orang di Jakarta, baik di kantor-kantor ber-AC hingga pedagang di sisi jalan, baik pengendara mobil pribadi hingga pengguna metromini rombengannya Jakarta, baik boss korporat maupun petugas kebersihan korporat tersebut, aku justru seakan mendapati apa yang dulu tidak pernah kusadari sebelumnya. Bahwa aku dulu terlalu naif.

Dulu.

Selama nyaris tujuh tahun lamanya, khususnya dua tahun terakhir, aku semakin intens dalam melakukan perjalanan-perjalanan ke luar negeri. Aku berjumpa dengan banyak orang, aku hidup di negeri-negeri yang beragam, menyambangi kawasan-kawasan yang beragam. Aku juga menyadari, bahwa dulu aku tak mampu melihat lebih luas. Aku hanya melihat apa yang aku ingin lihat. Aku terlalu ideologis.

Dulu.

Kini. Aku melihat bagaimana publik menjaga sendiri alat transportasi yang ada. Itu terjadi di Singapura, Hong Kong, Jepang, London. Minimal kemampuan untuk menjaga dan menghormati publik lain seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan, itu ada. Di sini? Coba masuk ke Transjakarta. Coba gunakan metromini. Itu baru kebersihan. Belum soal ketepatan waktu. Para pengguna alat transportasi publik di sini tentu paham soal apa yang kubicarakan. Sejauh ini, alat transportasi yang bisa diandalkan baru kereta api, itupun baru nyaman dan masuk akal setelah kepala PT. KAI diganti oleh seorang mantan bankir kenamaan yang dianggap bodoh oleh rekan-rekan sejawatnya karena memilih menataulang PT. KAI dibandingkan memilih bidang usaha yang jauh bergelimang harta.

Apakah harus ada perusahaan privat yang menanggulangi masalah kebersihan? Sebagaimana kita tahu bahwa taman-taman dan perumahan-perumahan privat adalah nyaris satu-satunya lokasi di mana kawasannya bisa terjaga tetap bersih. Apakah harus selalu perusahaan privat untuk menanggulangi masalah keamanan? Apakah harus alat transportasi diurus dengan cara yang diterapkan oleh PT. KAI? Karena pola yang diterapkan oleh PT. KAI adalah pola yang digunakan oleh perusahaan privat. Mau menunggu orang-orang rela berkorban seperti sang direktur PT. KAI saat ini untuk hadir di Indonesia?

Aku bekerja di bidang seni dan desain. Aku berurusan dengan berbagai macam kertas, tinta, dan alat cetak. Terutama kertas. Coba pertanyakan dari negeri mana bahan baku kertas berasal. Tentu saja, Indonesia. Tapi kalau engkau akrab dengan urusan cetak mencetak, tentu engkau tahu bahwa kertas-kertas terbaik semuanya adalah kertas impor.

Aku juga berurusan dengan urusan packing dan juga peti, karena aku berurusan dengan distribusi ekspor impor. Coba pertanyakan negeri mana yang menjadi produsen kayu untuk bahan peti? Tentu saja, Indonesia. Tapi mengapa kualitas peti yang dibuat oleh para tukang di Indonesia mayoritas jauh di bawah standar peti negeri-negeri lain? Apakah di sini, di Indonesia, hanya bisa mengimpor kayu tapi tak memiliki tenaga terlatih untuk mengolah kayu?

Aku berurusan dengan para desainer interior dan arsitek. Aku berurusan dengan para tukang, kuli bangunan dan mandor. Coba tanyakan pada para desainer dan arsitek tersebut, bagaimana kualitas tenaga kerja di sini. Kerapihan, kebersihan, keamanan, ketelitian, kepresisian. Apakah mayoritas para tukang dan kuli di sini mampu mengejar kualitas yang sama dengan di negeri-negeri lain, minimal negara-negara ASEAN?

Pertanyakan mengapa harga sepatu Doc Martens buatan Inggris jauh lebih mahal dibanding harga buatan Thailand atau Cina? Karena kualitasnya berbeda, tentu saja. Buatan Inggris jahitannya lebih tahan lama. Cintai produk dalam negeri, kata orang-orang. Beberapa tahun ke belakang, seorang kawan, seorang skinhead yang sudah jelas gemar mengenakan sepatu boot, membuat sepatunya dengan merk lokal yang sudah cukup ternama. Bentuknya baik. Kulit yang ia pilih juga baik. Tapi saat berbicara kualitas dan ketahanan, ia hanya bisa mengurut dada.

Pertanyakan mengapa produk jus kemasan di supermarket Indonesia berbeda dengan rasa produk yang sama di supermarket luar negeri? Karena di Indonesia terlalu banyak digunakan zat pengawet.

Pertanyakan mengapa rasa makanan apapun di warteg-warteg ibukota ini selalu sama? Ambil sayur apapun. Ambil lauk pauk apapun. Bukankah rasanya selalu mirip, apabila tidak dikatakan sama? Karena juru masak di sini mengandalkan penyedap semata dan untuk menyamarkan semua itu, kita tahu bahwa rasa pedas bisa mengaburkan segalanya. Para pengonsumsi makanan warteg tentu tahu pertanyaan standar saat kita memesan makanan: “Mau pakai sambal?”

Mengapa hal itu tidak terjadi di Singapura, Malaysia, Hong Kong, terutama Jepang?

Dan orang-orang di sini menuntut agar ada kesetaraan upah? Ingin memiliki bayaran dan penghasilan sebanyak mereka yang mampu menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada di sini?

Para pekerja di Indonesia adalah salah satu pekerja yang paling sering menuntut dan mengeluhkan kenaikan upah. Aku tidak menyalahkan mereka. Biaya hidup memang mahal. Tapi pertanyaannya, apakah kualitas kerja mereka juga meningkat? Kita menyalahkan kurs yang tak seimbang. Tapi seberapa sering kita bercermin apakah kemampuan kerja kita juga sudah seimbang?

Beberapa orang menyalahkan pendidikan. Mungkin saja benar. Karena memangnya apa alasan mengapa mereka yang kaya raya berlomba menyekolahkan anaknya di luar negeri? Untuk gengsi? Betul, sebagiannya untuk itu. Tetapi bukan hanya itu juga, para pengusaha itu ingin agar anak mereka sendirilah yang nanti akan mewarisi perusahaannya. Dan mereka tidak ingin anak-anak mereka dididik di sini, yang mana produknya kebanyakan hanya bisa mengeluh dan menyalahkan keadaan, tak memiliki kemampuan berjuang yang tangguh. Saat AFTA datang menjelang, Indonesia malah sibuk menyusun kurikulum pendidikan baru yang konon lebih bermoral tetapi dalam pandanganku justru semakin menyempitkan pikiran. Dengan kondisi demikian, apakah engkau tidak memikirkan anakmu? Masa depan anakmu adalah sebuah dunia yang jauh lebih keras. Apakah kau tega membiarkan anakmu kalah dalam persaingan begitu saja? Kini salahkah mereka yang berusaha mati-matian agar anaknya menuntut ilmu di luar Indonesia?

2015. Sebentar lagi AFTA. Sebentar lagi Indonesia menjadi bagian darinya. Orang-orang di sekelilingku. Para juru kampanye dadakan yang mendadak melek politik dan sadar HAM, ahli sejarah dan paling tahu soal apapun, tak satupun yang kukenal membahas mengenai AFTA. Pilih nomor satu. Pilih nomor dua. Nomor satu gembar-gembor soal nasionalis padahal ia adalah anak dari salah satu orang utama penggagas agar Indonesia terlibat dalam sistem ekonomi kapitalisme global seperti AFTA dan komentar-komentar calon wakilnya sudah menggambarkan dengan jelas usulnya untuk terintegrasi dengan ekonomi global. Nomor dua sudah jelas merengkuh seluruh konsep yang ditawarkan sistem ekonomi dunia baru dengan sisi yang lebih humanis. Kalian pikir ada pilihan? Militer atau bukan, evolusi ekonomi terus berjalan dan akan diterapkan. Para pendukung nomor dua mengandalkan isu kebebasan dari kekuasaan absolut militeristik, tetapi seakan lupa bahwa kebebasan adalah pedang bermata dua yang tak selalu hanya bisa melukai musuh. Pedang ini juga yang di era ‘kebebasan’ pasca era Orde Baru justru lebih banyak melukai si pemegangnya.

Menurutku ada pertanyaan penting yang seharusnya menjadi kepedulian orang-orang di sekelilingku dibandingkan menjadi juru kampanye karbitan. Yaitu, apakah Indonesia mampu bersaing? Ataukah orang-orang di sekelilingku akan tumbang satu persatu dan digantikan oleh orang-orang yang berasal dari bangsa yang berbeda sebagai rekan-rekan kerjaku? Karena sepertinya semakin hari, AFTA adalah salah satu evolusi sistem yang tak terhindarkan dari kapitalisme sebagaimana yang sudah V.I. Lenin prediksikan jauh-jauh hari. Evolusi tak bisa berjalan mundur. Dunia tidak bergerak mundur. Antara opsi pertama, membangun dunia baru seperti apa yang dilakukan oleh para pejuang Zapatista di hutan-hutan Lancandon, Meksiko, atau opsi kedua, beradaptasi dengan evolusi sistem ekonomi tahap lanjutan ini. Atau. Opsi terburuk: kita akan bernasib sama dengan burung Dodo. Aku sadar diri kalau aku tak mampu menjalani opsi pertama dan aku tidak mau opsi terakhir yang berarti punah. Pilihan yang ada bagiku hanya opsi nomor dua: adaptasi.

Itu jalan yang kupilih saat ini. Kelas menengah ngehe? Sebutlah apapun, tapi toh pasca heboh pemilihan calon presiden, itu hal yang mau tak mau akan dipikirkan oleh kita semua. Dan kubilang semua.

Mungkin aku yang berubah hingga kini memiliki pandangan seperti itu? Mungkin saja. Mungkin saja. Mungkin saja dulu aku marah, kawan-kawanku marah, pada dunia ini, bukan benar karena dunia ini terasa tidak adil, melainkan karena sesungguhnya di lubuk hati yang terdalam kami sadar bahwa kami tidak mampu dan kami sadar bahwa kamilah yang pertama-tama akan tersingkir dari arena evolusi dunia. Kami marah karena kami takut. Masalahnya, hidup ini tidak bisa dijalani oleh para penakut, bukan?

Atau apakah kami ini tak berbeda dengan para pengemudi metromini dan mikrolet yang marah yang kukisahkan di awal? Para pengemudi yang dulu besar kepala karena merasa diri penting dan dibutuhkan—hingga hadir alternatif lain dan kemudian hanya bisa marah. Marah karena takut. Marah karena sadar kalau diri mereka akan tersapu dari arena evolusi ekonomi.

Mungkin aku seperti itu.

Dulu.





London, Juni 2014: Kisah Satu Malam di Chinatown

30 06 2014

Seperti sudah kukatakan sebelumnya, aku memang tidak tertarik dengan konsepsi wisata seperti kunjungan melihat istana Buckingham atau mengambil foto selfie  di depan Big Ben, atau ke lokasi-lokasi wisata standar yang sekedar memerlihatkan betapa jayanya Inggris—itu mengapa aku memilih untuk mengenal lebih jauh soal Jack the Ripper, misalnya, dibanding mengelu-elukan kisah cinta dan pernikahan Pangeran Charles, berdiskusi denganmu tentang lokasi-lokasi dan apa yang harus kita berdua lihat. King’s Road? Ah, tempat kerjaku di sini justru di King’s Road, lagipula era Sex Pistols sudah lama lewat. Pub-pub punk rock? Ah, aku tidak kenal grup-grup musik masa kini. Ke toko musik dan rekaman? Ah, aku tidak punya banyak uang dan aku tidak ingin belanja. Dan kala sedang berdiskusi tersebut, aku juga mulai bosan dengan roti. Aku ingin nasi. Dan lokasi di mana ada banyak makanan dengan nasi, tentu saja: Chinatown. Lagipula lokasi Chinatown ada di daerah yang bukan menjadi tempat berkeliaran para yuppies seperti di King’s Road. Pasti ada banyak hal menarik di sana.

Benar saja.

Pertama kita berdua melangkahkan kaki keluar kereta, sosok mencolok pertama di tengah kerumunan lalu lalang orang-orang adalah seorang perempuan, mungkin kisaran 35 tahun, dengan rambut mohawk berwarna pink terang, dengan eye shadow berwarna pink, lipstik pink, menghiasi wajahnya dengan piercing di berbagai tempat, mengenakan jaket berbahan parasut berwarna pink, rok pendek pink, stocking pink dan juga stiletto pink. Pendeknya, manusia pink. Aku tidak tahu apa yang dilakukan perempuan itu. Ia hanya berdiri di sudut stasiun yang ramai sambil merokok. Menunggu seseorang mungkin.

Engkau ternganga. Wajar, pikirku. Engkau tidak pernah berada di kerumunan punk rocker. Aku harus menggamitmu untuk tetap berjalan.

Awal yang bagus, pikirku. Ini baru London. Kalau sekedar yuppies di negeri manapun yang pernah kukunjungi juga banyak. Cantik, tampan, pilihan fashion yang mereka kenakan cocok dan enak dilihat walaupun sederhana. Membosankan.

Kita berjalan menembus kerumunan orang-orang. Saat kami menaiki eskalator, di jalur seberang, tiga orang lelaki muda bernyanyi-nyanyi dengan wajah yang sudah memerah. Mabuk, pikirku. Jarak dua meter di hadapanku, sepasang kekasih paruh baya yang tampaknya dimabuk asmara berciuman mesra dan saling meraba. Inggris memang dipenuhi orang-orang yang ekspresif, mereka tidak sungkan memerlihatkan perasaannya. Melihat orang bermesraan di jalanan—atau di manapun juga—adalah sesuatu yang biasa.

Dari stasiun kereta Leichester, untuk berjalan kaki menuju Chinatown kita harus melewati deretan bar dan kafe. Kontras dengan King’s Road, di sini jalanan penuh dengan orang lalu lalang dan beberapa di antaranya berdandan tak biasa.

Aku tidak tahu apakah memang setiap hari seperti ini ataukah ini hanya kebetulan saja kita datang di kala ramai, kutanyakan pada dirimu. Engkau hanya menjawabku dengan mengangkat bahu. Pertanyaan bodoh, pikirku. Ini bukan areamu.

Ada kerumunan yang lebih tak biasa dalam pandanganku. Mereka bernyanyi-nyanyi. Berteriak-teriak. Tertawa-tawa. Mabuk. Banyak sekali memenuhi jalanan. Saat kukatakan banyak, ini benar-benar banyak. Berseliweran tidak teratur. Tapi apa yang kukatakan tak biasa, bukanlah soal jumlah. Bukan pula soal perilaku mereka. Melainkan, di keramaian ini, mayoritas orang-orang yang ada adalah lelaki berpasangan dengan lelaki dan perempuan dengan perempuan. Pasangan yang berjalan di hadapan kita adalah dua orang lelaki kaukasian bertubuh kekar, mengenakan kaos ketat dan celana super pendek, bersepatu kets. Mereka bergandengan tangan. Aku melirik padamu sambil berjalan. Engkau menunjuk mereka dengan gerakan dagu dan kerlingan matamu, lalu meringis. Aku juga meringis dan mengangguk tanda mengerti.

Makan dulu, sudah itu kita berdiam dulu di kawasan ini. Engkau setuju, tanyaku.

Engkau hanya mengangguk. Kita melangkah ke salah satu restauran.

Selesai makan, kita bergegas untuk mencari salah satu bar yang berada dekat dengan lokasi bar khusus gay yang menjadi pusat kerumunan tadi. Mengambil lokasi di luar setelah menunggu cukup lama untuk mendapat tempat, aku memesan cider dan keripik kuping babi. Menu yang cocok.

Ada apa keramaian ini, tanyaku pada pelayan bar.

Ia menoleh ke arah keramaian di luar sekilas.

Dari mana asalmu, tanyanya. Ia belum menjawab pertanyaanku.

Indonesia, jawabku.

Ia tertawa.

Negara muslim, tanyanya. Entahlah, nadanya seperti bertanya tapi perasaanku mengatakan bahwa itu sebuah pernyataan.

Sampai saat ini bukan, tapi memang mayoritas penduduknya muslim, sahutku.

Kalau begitu ini hal baru bagimu, katanya lagi seraya sibuk mengelap meja.

Apa ini, tanyaku. Lagi. Walaupun dalam benakku aku sudah berpikir bahwa ini pasti ada kaitannya dengan soalan homoseksualitas.

Gay Pride, jawab sang pelayan. Engkau tak akan punya hal seperti ini di negaramu, sambungnya lagi. Selamat datang di London.

Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih.

Tidak salah kan kita berada di sini, tanyamu yang duduk di seberangku.

Aku hanya tertawa kecil dan seperti dirimu, memerhatikan kerumunan.

Malam ini memang ramai dan menarik. Seperti kubilang tadi, di Inggris orang-orang terbiasa mengekspresikan perasaannya. Kita bisa melihat orang-orang berciuman, bermesraan, bahkan di beberapa kasus malah lebih ekstrim. Itu hal yang biasa dijumpai di jalanan, toko atau kereta. Di mana saja. Termasuk di sini. Hanya saja, di sini yang berbeda adalah komposisi pasangannya saja. Malam yang menarik dan begitu berisik oleh tawa, teriakan dan nyanyian di jalanan. Malam yang riuh rendah dan diselingi beberapa bunyi botol pecah. Malam yang hidup.





London, Juni 2014

27 06 2014

People are always shouting they want to create a better future. It’s not true. The future is an apathetic void of no interest to anyone. The past is full of life, eager to irritate us, provoke and insult us, tempt us to destroy or repaint it. The only reason people want to be masters of the future is to change the past. They are fighting for access to the laboratories where photographs are retouched and biographies and histories rewritten.

—Milan Kundera, The Book of Laughter and Forgetting (1979)

london-at-night-20

Aku menegakkan kerah jaket kulit hitamku untuk melindungi leherku dari terpaan angin yang menyerbu mendadak. Sementara engkau mengumpat pelan—walaupun dalam kamusku umpatanmu masih tetap masuk dalam kategori sopan.

Seingatku engkau sendiri yang mengingatkanku untuk membawa jaket, komentarku sambil lalu.

Engkau tidak menjawab. Hanya bersungut-sungut dan mengikuti langkah orang-orang lainnya mengikuti sang pemandu menyusuri lorong-lorong jalanan yang tampak menguning disinari pendar temaram lampu jalanan, diapit oleh dinding-dinding gaya lama, yang menampakkan batu bata yang tersusun rapi tanpa ditambahi semen pelapis. Aku juga tidak berkomentar lebih lanjut.

Sang pemandu, seorang lelaki muda berbadan tegap, berkisah dengan lancar tanpa sekalipun membuka catatan. Mungkin ia sudah berbulan-bulan bekerja seperti pemandu tur ini.

Pada satu pagi buta di 31 Agustus 1888, seorang lelaki berjalan menyusuri jalanan yang kami lalui—tanpa penerangan lampu jalanan kuning yang terang—di area Whitechapel ini dan menemukan sebuah buntalan yang bentuknya tak keruan, tergeletak begitu saja di satu sudut jalan. Dipenuhi rasa ingin tahu ia mendekati buntalan tersebut. Saat mengetahui isi buntalan tersebut ia terkejut dan lari pontang panting melaporkannya pada polisi. Polisi mengira bahwa itu adalah kasus kriminal biasa, seperti juga yang ada di benak para jurnalis pada masa tersebut. Tak seorangpun sadar bahwa itu hanyalah awal dari sebuah rangkaian pembunuhan yang paling terkenal di tanah Inggris; sebuah misteri yang mana pelakunya tak pernah benar-benar ditemukan hingga hari ini: Jack the Ripper.

Demikian kisah mengalir dari mulut sang pemandu.

Ia bahkan tampaknya gemar sekali memberikan ilustrasi-ilustrasi detail mengenai bagaimana korban-korbannya dibunuh. Beberapa orang mengeluarkan bunyi “uh” tanda tak nyaman, terutama para perempuannya. Tapi hal itu justru sepertinya malah membuat sang pemandu semakin bersemangat. Ia semakin berapi-api dalam berkisah.

Engkau menatapku.

Menarik melihat bagaimana sebuah kasus pembunuhan berantai bisa menjadi bagian dari daya tarik wisata, katamu.

Mungkin memang negeri ini membuatku heran, seheran diriku saat pertengahan bulan lalu mengurus visa untuk masuk ke negeri ini. Tebak, apa gambar poster selamat datang yang kalian bayangkan untuk lihat saat pertama kali masuk ke kantor imigrasi untuk visa Inggris? Istana sang ratu? Sungai Thames? Big Ben? Foto sang ratu? Salah. Poster pertama yang kulihat adalah poster Judge Dredd. Apakah engkau bisa membayangkan kalau poster selamat datang di kantor imigrasi RI di luar negeri bergambar Gundala misalnya, dan bukan candi Borobudur atau pura Bali?

Baiklah, mungkin kita bisa berargumen bahwa Gundala belum mendunia sebagaimana halnya Judge Dredd, maka tetap dipilih gambar candi Borobudur. Bisa jadi. Hanya tetap saja, memasang poster Judge Dredd di kantor yang demikian resmi adalah hal yang luar biasa di mataku.

Kembali pada wisata napak tilas Jack the Ripper, kalau wisatawan adalah orang-orang sepertiku, tentu saja jelas wisata seperti ini lebih menarik dibanding kunjungan wisata ke istana atau ke tempat-tempat yang lebih ‘terpelajar’, pikirku.

Lagipula justru dari sini aku melihat satu hal yang menarik, yaitu bagaimana orang-orang Inggris ini memerlakukan sejarah sebagai sejarah. Dalam kunjunganku ke museum lilin Madame Tussaud, aku menyadari hal tersebut. Dalam satu tur sejarah Inggris, diperlihatkan bagaimana penggantungan Guy Fawkes, yang dinyatakan sebagai musuh negara pada masa hidupnya, justru malah dirayakan. Menerima keberadaan Guy Fawkes adalah berarti menerima juga bahwa pernah ada rezim penguasa di Inggris yang religius tetapi demikian represif dalam sejarah Inggris. Kebangkitan punk rock juga masuk jadi bagian sejarah yang diakui padahal hal tersebut dianggap sebagai sesuatu yang memalukan, terutama bagi kalangan istana—pada pembabakan dekade 70-an, ada figur punk rocker bersanding bersama figur-figur formal, berdiri nyeleneh di sebelah penjaga istana. Lalu digambarkan juga soal bagaimana kekerasan yang menjadi efek langsung dari revolusi industri serta akibatnya pada generasi muda pada masa tersebut dengan sangat gamblang. Lalu dalam satu tur wisata resmi lain topiknya adalah kunjungan ke lokasi di mana pernah dilakukan penyiksaan William Wallace, sang Braveheart. Padahal bukankah itu sesungguhnya merupakan aib bagi Inggris, bahwa Inggris pernah menyiksa seorang pejuang kemerdekaan? Bagian sejarah ini juga diakui dengan terbuka.

Apa yang membuatku heran justru di Indonesia. Mengapa sesulit itu di Indonesia menerima sejarah sebagai bagian integral dari kemenjadian identitas? Pembantaian anggota dan simpatisan PKI misalnya, mengapa sulit untuk mengakui saja bahwa memang terjadi pertumpahan darah besar-besaran di era tersebut dan hal tersebut memang dikomandoi oleh pemerintah? Mengapa sulit untuk berkata bahwa memang begitu adanya sejarah kita, bahwa ada sisi-sisi gelap yang memang gelap dan tak perlu disembunyikan atau disisipi berbagai pembenaran? Karena terlepas dari benar salahnya PKI, toh rasanya tetap tidak layak bahwa sekian banyak orang dibantai begitu saja. Tidak untuk mengatakan bahwa Inggris sempurna, tetapi bisakah kita mengakui kesalahan-kesalahan ini sebagaimana Inggris mengakui bahwa mereka pernah berlaku kejam dalam menindas oposan-oposannya melalui pampangan sejarahnya?

Apakah akan ada tur wisata mengunjungi kuburan-kuburan massal pembantaian mereka yang pernah dicap sebagai anggota PKI? Sangsi. Membuat film soal kuburan massal saja bisa membuat dirimu dicap sebagai komunis. Hingga hari ini menyandang label tersebut toh masih cukup fatal. Jadi kalaupun ada kunjungan wisata seputar tragedi 1965, cukuplah sudah kunjungan ke Lubang Buaya. Titik.

Itu baru satu contoh tentang sejarah kelam Indonesia yang hingga kini tak juga diakui dalam sejarah resmi. Ada beberapa contoh lainnya. Di negeri kelahiranku sejarah yang beredar dan resmi hanya berujung dengan ditemukannya pengingkaran yang ditumpuk dengan pengingkaran lainnya.

Apabila dikatakan bahwa seseorang yang besar adalah ia yang mampu mengakui dan menerima kesalahannya, maka bukankah sebuah bangsa yang besar seharusnya adalah juga sebuah bangsa yang mampu mengakui dan menerima kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu?

Entahlah. Karena mungkin pendapat Pramoedya memang benar, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa pelupa. Pelupa dalam artian mudah melupakan kesalahannya sendiri. Atau. Atau. Bangsa Indonesia sedemikian tak pedulinya pada apapun sehingga memang tak tahu apapun. Bagaimana bisa dibilang lupa kalau tahupun tidak? Atau lagi, mungkin kita adalah bangsa yang amat pemaaf. Kita bisa memaafkan apapun dengan mudah dan dengan amat mudahnya pula berkata, “Mari kita berikan kesempatan”. Oh betapa bijaksananya bangsaku! Entahlah. Kadang bijak dan dungu itu batasannya terlalu tipis.

Dalam setiap kunjunganku ke negeri-negeri lain, apa yang hadir dalam benakku hanya satu: betapa ruwetnya Indonesia. Saking ruwetnya sehingga upaya apapun untuk menatanya jadi tampak nyaris tak masuk akal.

Aku menyecap botol Heineken yang kugenggam. Seketika aliran air dingin merayap dalam tubuhku. Memberiku tenang.

Mendadak engkau menggamit lenganku untuk menyusul rombongan yang kini sudah berada sekitar sepuluh atau lima belas meter di hadapan kita. Lupakan sejenak soal Indonesia. Biarlah mereka di sana kini saling berkoar dengan urusan capresnya yang dalam pandanganku tak lebih dari memilih mana yang lebih baik antara fasisme dan neoliberalisme. Satu atau dua. Biarlah. Biarkan mereka di sana sibuk, karena toh kita berdua di sini juga sibuk. Sibuk mengikuti kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Jack the Ripper. Dan menembus gerimis lembut yang mulai turun, kita berdua berlari-lari kecil menyusul yang lain.





Le Jeune Homme Amoureux: Kegunaan Vitamin C

15 06 2014

Vios Blue Bird ini bergerak perlahan karena jalanan masih padat padahal malam sudah merambat. Mungkin orang-orang memang menunggu malam, berharap jalanan lebih lengang. Tetapi kini bayangkan, apabila sepertiga saja para pekerja di Jakarta ini berpikiran hal yang sama, tentu situasinya akan sama saja: jalanan tetap padat.

Aku melirik padamu yang duduk di sampingku.

Tidak bosan, tanyaku.

Engkau hanya mengangkat bahu.

Jakarta memang macet, mau mengharapkan apa. Jawabmu.

Sok bijak, pikirku. Selama ini engkau yang jauh lebih tidak sabaran dibanding diriku setiap kali terjebak dalam kemacetan.

Mau permen vitamin C, tanyamu.

Aku mengangguk dan mengulurkan tangan kananku. Tapi engkau hanya menatapku sambil tersenyum. Tak ada vitamin C. Tak ada apapun.

Aku diam sejenak karena heran.

Ambil sendiri punya Cici, ujarmu lagi. Kali ini sambil menjulurkan lidah. Ada sebutir tablet kuning di lidahmu. Aku tergelak pelan. Tangan kananku meraih belakang kepalamu, menelusup di antara rambut kecoklatanmu dan menarik kepalamu mendekatiku. Hingga bibir kita bertemu.

Aku mengulum bibirmu. Engkau membuka katupan bibirmu dan membiarkan lidahku menjelajah dalam mulutmu. Nafas kita memburu. Lidahku bertransformasi menjadi pemburu. Lidahmu berusaha memertahankan tablet kuning kecil itu mati-matian, tetapi akhirnya sang pemburu keluar sebagai pemenang.

Aku melepaskan pelukan, mundur sedikit dan mengambil jarak. Lalu kujulurkan lidahku memamerkan vitamin C milikmu. Engkau tertawa-tawa. Itu tinggal sisa-sisanya saja, komentarmu. Tentu saja, jawabku. Perjuangan tadi mengikis hampir semua fisik benda yang kita perebutkan.

Ada lagi, Ci, tanyaku.

Engkau menatapku dengan mata sipitmu. Ah, ada kilat nakal pada sepasang mata oriental itu. Engkau memang memiliki banyak ide ajaib untuk seorang perempuan di usiamu. Lalu engkau merogoh tas tangan kelabumu, tanpa mengalihkan tatapanmu padaku, hanya kali ini dibumbui segurat senyum di bibir tipismu.

Kau mengeluarkan dompetmu. Aku segera menukas.

Loh, kalau harus beli ya tidak usah—

Ssshh, potongmu cepat dengan dua jari lembutmu di bibirku. Aku diam seperti seekor anjing yang penurut.

Engkau menunduk dan tekun membuka dompetmu. Mempertimbangkan beberapa saat, lalu mengambil selembar uang 100 ribu rupiah dari dalamnya. Aku masih diam.

Engkau mencondongkan tubuhmu sedikit ke depan lalu melalui celah di antara dua bangku depan, kau tepuk sang sopir dengan tanganmu yang menggenggam uang kertas merahmu.

Ya, Bu, sahut sang sopir. Ia melirik sepintas melalui kaca spion tengah, tanpa menghentikan laju mobilnya.

Ambil saja ini untuk bonus, nanti ada lagi kalau kita sudah sampai, ujarmu cepat. Sang sopir tampak ragu. Mau atau tidak, tanyamu. Sang sopir mengangguk sambil tangannya cepat mengambil dan kembali kepada fokusnya mengemudi. Terima kasih, Bu, ujar sang sopir.

Aku masih diam saja dan sama sekali tak berkomentar atas apa yang kau lakukan. Engkau kemudian sibuk dengan tas tanganmu lagi. Memasukkan dompet dan mengeluarkan satu tube Redoxon. Engkau menatapku sambil meringis saat kau buka tutup dan kau tuang satu butir ke tangan kirimu. Aku masih diam dan hanya memerhatikan. Engkau mengacungkan tablet itu dan berkata pelan, berbalik, lihat ke luar jendela dan jangan menoleh. Nanti dikasih tahu kapan boleh berbalik lagi. Seperti anjing jinak lagi, aku menurut. Aku melayangkan pandanganku keluar jendela, menatap mobil-mobil dan motor yang semwrawut ditimpa kuning lampu jalanan malam hari.

Rasanya lama dan kudengar engkau agak berisik. Sesungguhnya aku penasaran akan apa yang engkau lakukan, tapi aku tidak menoleh sama sekali. Aku tetap menerawang memerhatikan jalanan walau pikiranku melayang kemana-mana.

Oke, ini ambil, katamu memecah hening. Aku menoleh. Akhirnya, pikirku.

Engkau telah menyingkapkan bagian depan gaun hijau tosca favoritmu hingga sebatas pinggang. Di kegelapan malam seperti ini, yang hanya diterangi lampu jalanan yang terkadang masuk ke dalam taksi, tak terlalu jelas apa yang kita dapat lihat, tapi aku dapat membedakan antara pucat kulitmu dan segitiga gelap yang berada di antara kedua pangkal atas pahamu. Aku tergelak. Engkau meringis.

Ambil punya Cici, dengan cara tadi, tanpa jari, ujarmu. Aku mengangguk. Kini aku mengerti mengapa kau berikan bonus pada sang pengemudi.

Aku menarik paha kananmu, memosisikannya mengangkang, memisahkan sejauh mungkin dari paha kirimu. Kutarik tubuhmu sedikit lalu kudorong tubuh bagian atasmu. Agak sulit untuk kulakukan di area yang sedemikian sempit. Tapi sepertinya sang sopir paham, ia memajukan sedikit bangku depan. Juga bangku yang ia duduki. Tanpa berkata apa-apa. Bonus tadi memang manjur, pikirku. Ia begitu pengertian.

Aku mengambil posisi yang sulit, menekuk tubuhku sedemikian rupa hingga kepalaku dapat berada tepat di area bawah pusarmu. Kutaruh lidah dan kujelajahi perlahan melalui rerimbunan yang gelap. Baru kali ini lubangmu terasa manis dan beraroma vitamin-C. Agak lama, aku masih tak berhasil. Tanganmu mengusap-usap kepalaku dan kudengar kau menahan nafas, berusaha tidak bersuara. Kuangkat pinggulmu dan kukangkangkan penuh kedua pahamu. Susah payah memang. Tapi lidahku tidak menyerah, hingga entah berapa menit lamanya akhirnya kutemukan tablet kuning tersebut dan kutarik keluar dengan lidahku. Belum banyak menyusut kali ini. Mungkin karena tidak dihisap seperti di dalam mulut. Kuangkat tubuhku dan area sekitar mulutku yang basah menyunggingkan senyum.

Aku dapat, ujarku. Kujulurkan lidahku untuk memamerkan tropi kemenangan. Aroma khas bagian dalam tubuhmu terasa kental mengudara.

Engkau tersenyum. Dalam gelap aku tak dapat melihat kerut di sudut-sudut bibirmu yang kusuka setiap kali engkau tersenyum, tapi aku tetap dapat menikmati senyummu.

Kau tarik kepalaku mendekatimu.

Kembalikan, ujarmu pelan.

Bibir kita kembali bertemu. Kita kembali berpagutan, kita habiskan tablet kuning itu bersama-sama. Hingga habis dan hanya menyisakan aroma vitamin C dalam mulut. Hingga tandas. Hingga aku merasakan ereksi penuh. Hingga kedua putingmu berdiri mengeras tanpa kusentuh. Hingga vaginamu kuyup tanpa kuusap. Hingga aku merasakan semenku meletup tanpa adanya gesekan yang berarti.

Hingga pada akhirnya, suara sang sopir menghentikan aktivitas kita: Sudah sampai, Bu, katanya.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 67 other followers