Tentang Dunia Modern: Busana (Bag.II) – Hak Tinggi

14 09 2014

To wear dreams on one’s feet is to begin to give reality to one’s dreams.

—Robert Vivier

IMG-20140913-WA0005

Perempuan yang paling stylish-pun akan mengakui bahwa mengenakan high heels, sepatu berhak tinggi, adalah sebuah penderitaan. Patut ditambahkan, bahwa pemakaiannya yang terlalu lama menimbulkan berbagai keluhan, belum termasuk kerusakan permanen pada urat syaraf dan persendian.

Beberapa feminis menganggap bahwa hal tersebut adalah salah satu bentuk dari implikasi sistem patriarki di mana perempuan menderita hanya demi memuaskan tatapan kaum lelaki. Beberapa perempuan lainnya menganggap hak tinggi adalah sesuatu yang bodoh—tentu saja mereka yang mengenakannya dianggap bodoh—karena bukankah pakaian seharusnya memberikan rasa nyaman pada penggunanya, bukannya memberikan derita?

Ada cukup banyak opini lain yang negatif tentang hak tinggi yang rasanya tak perlulah kupaparkan satu persatu di sini, tetapi mengesampingkan opini-opini tersebut, ironisnya, mengapa perempuan banyak yang masih tetap saja mengenakannya?

Mengutip buku Sense and Sensibility, di dalamnya Jane Austen mendeskripsikan karakter Elinor Dashwood sebagai berikut: “delicate complexion, regular features, and… remarkably pretty figure.” Sementara ia mendeskripsikan Marianne, saudari Elinor sebagai berikut: “still handsomer. Her form, though not so correct as her sister’s, in having the advantage of height, was more striking.”

Hak tinggi membuat perempuan terlihat lebih tinggi. Hak tinggi membuat kaki terlihat lebih jenjang, membuat tulang belakang lebih tegak karena tubuh sang pengguna secara alamiah bereaksi demi menjaga keseimbangan. Dan demi keseimbangan ini juga, membuat posisi dada lebih membusung dan pantat mengencang dan tampak lebih menonjol. Bentuk tubuh yang tentu saja setidaknya di mataku tampak lebih ideal.

Dan mengundang. Tentu saja.

Bisa jadi para feminis ada benarnya, sebagaimana pernyataan Caroline Cox, seorang pemerhati dan peneliti sejarah busana juga membenarkan pendapat para feminis dengan menyatakan: “Men like an exaggerated female figures.”

Ironis memang.

Bahkan lebih ironis lagi saat menyadari bahwa seturut sejarah, hak tinggi justru bukan diciptakan untuk perempuan. Hak tinggi adalah milik lelaki. Bukan sekedar lelaki malah, melainkan justru kelompok yang paling macho dari kaum lelaki: tentara.

Elizabeth Semmelhack dari Museum Bata Shoe Toronto, mengisahkan bahwa hak tinggi bermula di Persia di mana para tentara penunggang kuda mengalami kesulitan menjaga keseimbangan mereka saat mereka harus menembakkan anak panah dari busur mereka. Maka para desainer peralatan perang mereka menciptakan sepatu yang mana haknya dibuat lebih tinggi, agar bisa mengait pada dudukan kaki yang terikat di pelana kuda para tentara, yang membuat para tentara tersebut dapat menjaga keseimbangan dengan jauh lebih baik bahkan saat memanah sambil berdiri dan kuda berlari kencang.

Saat Persia melancarkan misi diplomatik perdananya ke Eropa Barat di abad ke-16, para bangsawan Eropa terkagum-kagum dengan tampilan hak tinggi para tentara berkuda Persia. Mengesampingkan perang-perang yang terjadi sebagai akibat perjumpaannya dengan bangsa Persia, toh pertukaran kebudayaan tetap terjadi. Para bangsawan Eropa mulai meminta para desainer busana mereka membuat sepatu mereka berhak tinggi, di mana para pemakainya juga mendapat kenaikan status sosial. Pendeknya: hak tinggi adalah simbol kelas atas.

Perempuan mulai mengadopsi perangkat busana tersebut justru setelahnya, saat trend busana mulai beralih menjadi trend androgini. Perempuan justru mengenakan hak tinggi agar terlihat lebih macho.

Hingga tiba pada saatnya, masa modern, di mana hak tinggi secara eksklusif menjadi milik para perempuan. Seperti yang kita hidupi saat ini dan para perempuan juga menyadari bahwa hak tinggi membuat tampilan penggunanya lebih unggul, sebagaimana kita semua juga tahu bahwa diakui atau tidak, kita hidup di dunia yang penuh persaingan.

Di tengah persaingan ini pula, soalan tinggi, yang bagaimanapun juga adalah sebuah fenomena yang relatif, toh hal ini memberikan keunggulan tertentu, setidaknya tidak terlalu pendek. Penampilan juga relatif. Terlalu relatif malah. Mungkin apabila perempuan dapat memutuskan secara kolektif apa sepatu yang akan mereka kenakan, mayoritas bisa jadi mengenyahkan hak tinggi. Tetapi karena individu dapat meraih keunggulan-keunggulan tertentu dengan cara mengenakannya, kesepakatan soal sepatu menjadi sesuatu yang sulit dilihat secara hitam dan putih.

Aku juga baru tahu keunggulan lain dari hak tinggi beberapa saat lalu, saat sebelumnya bersamamu kita menghadiri sebuah resepsi pernikahan di ballroom hotel. Aku selalu mengagumimu yang lancar berjalan dengan mengenakan hak tinggi—yang kini kau kenakan yang berwarna kelabu dari sekian koleksi hak tinggimu. Engkau memang luar biasa. Engkau tampak cantik sekali malam itu, memadu padankan hak tinggi kelabu dengan gaun merah gelap backless, v-neck rendah dan make up yang tertata minimal tetapi presisi.

Ada kelemahannya dalam soalan make up tentu saja, karena aku jadi harus ekstra hati-hati saat berciuman denganmu. Takut merusak make up katamu, karena pesta belum usai.

Tapi kembali lagi soal hak tinggi, keunggulan lainnya kita berdua baru sadari saat kita menyelinap ke toilet lantai atas di tengah pesta. Hak tinggi membuat posisi yang sulit jadi mudah. Kita bisa melakukannya dengan mudah tanpa harus mengusutkan tatanan busanamu. Jelajah penetrasi yang bisa kulakukan jauh lebih dalam, dari depan mudah, dari belakang jauh lebih mudah lagi. Depan, belakang, angkat sebelah kakimu dan aku juga melakukannya dari kanan dan kiri. Aku juga bisa bertekuk lutut menikmati guratan urat-uratmu yang mulai tampak seiring usiamu, jenjang kaki dan otot kencangmu saat engkau duduk di atas kloset duduk. Fantastis.





Perbincangan: Tentang Pernikahan

2 09 2014

We might be so much better off if we didn’t have a sex drive; for most of our lives, it causes us nothing but trouble and distress.

—Alain de Botton

Beberapa saat lalu, seorang perempuan muda berkisah padaku soal betapa sakit dirinya saat kekasihnya ketahuan bersetubuh dengan perempuan lain. Padahal kekasihnya tersebut telah berjanji akan menikah dengannya. Alasan kekasihnya tersebut, tentu saja dengan dibumbui banyak pembenaran, adalah bahwa ia pada dasarnya adalah seorang polyamor walaupun ia memilih menikah dengan sang perempuan. Sang perempuan muda ini, memilih berkisah padaku, karena secara jujur ia menyatakan bahwa ia menyimpan dendam padaku. Dendam. Karena ia merasa bahwa kekasihnya tersebut pasti terpengaruh oleh diriku.

Sebentar. Mungkin lebih tepat kusebut mantan kekasih. Karena sang lelaki, akibat perbuatannya tersebut, telah didepak keluar dari kehidupan sang perempuan dan rencana pernikahannya batal.

Aku ingin tertawa sebenarnya, tapi berhubung aku adalah manusia yang cukup peka dan perempuan ini bukan kawan dekatku, aku hanya mengangguk-angguk tanda simpati akan deritanya. Mungkin kalau ia adalah kawan dekatku, aku akan menepuk-nepuk pundaknya. Tentu saja sambil meringis.

Apa yang membuatku ingin tertawa adalah dua hal: (1) ia yang menyatakan bahwa pada dasarnya polyamor; (2) kekasihnya yang terpengaruh oleh diriku yang jelas bukan seorang polyamori.

Dua hal yang konyol, pikirku.

Hal konyol lain adalah keharusan setiap orang yang memiliki status kekasih, untuk menjadi manusia sempurna. Sempurna dalam artian ia mampu memberi fokus hidupnya pada cinta, hasrat libidinal dan sekaligus pembangunan keluarga dengan satu orang saja. Aku pernah menulis soal ini sebelumnya. Memang ada manusia-manusia seperti itu, tapi itu adalah sesuatu yang jarang. Amat jarang. Sisanya? Silakan menahan diri hingga mati, mematikan hasrat dan menyesalah hidup sebagai manusia.

Tapi aku tak membahas kekonyolan-kekonyolan tadi itu pada sang perempuan. Padanya aku hanya berkata bahwa kalau itu menyakitinya, memang apa yang ia lakukan sudah tepat, yaitu mendepaknya pergi.

 

*****

 

Every lie is two lies—the lie we tell others and the lie we tell ourselves to justify it.

Robert Brault

Seorang perempuan lain, rekan kerjaku, berulang kali melihat bahwa ada beberapa perempuan yang keluar masuk dari dan ke dalam kamarku. Pada satu saat kala suasana kantor sedang santai ia mengungkit dan memulai obrolan soal hal tersebut.

—Kemarin itu cewekmu?

Mantan, jawabku.

Seorang rekan kerja lainnya, juga perempuan, yang mana kamarnya bersebelahan dengan kamarku, ikut berkomentar mendengar topik seperti ini.

—Kamarnya dia sih memang tempat mesum. Isteri orang juga disikat.

Aku sempat mengernyit, tapi kemudian tertawa. Ia juga tertawa. Hanya rekan kerjaku yang pertama yang tidak. Wajahnya terlihat serius.

Ia berkata datar saat tawa kami mereda.

—Kenapa sih lelaki selalu selingkuh?

Aku tidak selingkuh, sanggahku. Aku memang selalu keberatan disebut selingkuh.

Ia tampak tak setuju. Raut wajahnya mengatakan hal tersebut.

Pertama, paparku, selingkuh adalah berbohong pada pasangan soal diriku yang memiliki kekasih lain atau jatuh cinta pada perempuan lain. Dan aku tidak pernah berbohong pada isteriku soal hal tersebut. Kedua, lanjutku, memangnya kenapa dengan orang yang selingkuh?

—Karena itu adalah perilaku pengkhianat dan pembohong. Siapa yang suka dibohongi?

Nadanya agak meninggi. Rekan kerjaku yang kedua pura-pura sibuk dengan pekerjaannya, tapi aku tahu telinganya dipasang baik-baik.

Aku menatapnya dan berkata dengan intonasi lambat, terus terang aku sering berhubungan dengan mereka yang telah memiliki kekasih, isteri seseorang malah. Jadi aku akan paparkan apa yang kutahu dari perbincanganku dengan mereka di mana intinya, mereka merasa bahwa pasangan mereka tidak memuaskan semua sisi kehidupan mereka.

Manusia memiliki tiga sisi, hasrat untuk mencinta, hasrat untuk seks, dan hasrat untuk membangun keluarga.

Dalam kehidupan modern, relasi cinta seakan harus selalu berujung dengan pernikahan. Dengan kata lain, pernikahan adalah sebuah institusi berbasis cinta. Tapi apakah engkau sadar, bahwa sesungguhnya penyeragaman dan standarisasi jenis pernikahan ini baru dimulai di abad ke-18? Di era sebelumnya, seringkali pasangan menikah sekedar karena keduanya dianggap sudah masuk masanya, untuk memerluas kekerabatan, alat perdamaian, alat untuk melindungi aset keluarga. Perhatikan saja, bukankah kini mereka yang menikah karena dijodohkan oleh orangtua kedua belah pihak sering dicibir dengan pertanyaan, “Memangnya ini masih jaman Siti Nurbaya?” Seakan hal tersebut adalah hal yang begitu buruk dan harus dienyahkan karena ketinggalan jaman.

Aku sendiri memang menikahi isteriku, membawanya lari, karena orangtua isteriku hendak menikahkan dirinya dengan lelaki lain. Tapi bukan berarti aku tidak memahami bahwa dalam beberapa poin pernikahan jaman dulu memang berguna, karena basis masyarakat masih bertaut erat dengan urusan kekeluargaan. Tidak seperti masa kini yang sudah begitu teratomisasi.

Borjuis-borjuis Eropa Baratlah yang untuk pertama kalinya mencanangkan bahwa pernikahan itu harus berbasis pada satu hal dan hanya satu hal: cinta sejati. Dan perlahan pernikahan bertransformasi dari sebuah institusi menjadi sebuah ikatan perasaan. Dari sebuah ritus eksternal yang harus dilalui menjadi sebuah ritus internal yang terikat secara emosional.

Pernikahan berubah. Relasi sepasang kekasih juga berubah. Semua berubah.

Masalahnya, manusia tidak berubah.

Bukankah ikatan berdasarkan perasaan adalah sebuah ikatan yang sesungguhnya justru amatlah rapuh, semenjak perasaan memang bisa diingkari, tetapi sesungguhnya tidak bisa dikontrol? Misalnya, secara tak sengaja kita berjumpa dengan seseorang yang entah bagaimana begitu menarik dan membuat kita tak bisa lepas menatapnya, memerhatikannya. Apakah kita lantas harus menghancurkan keluarga yang kita bangun hanya karena kita mengakui dan menerima ketertarikan tersebut? Saat kita secara tak sengaja tertarik secara seksual dengan seseorang dan mendapat respon yang sama, lalu bersepakat untuk melepaskan hasrat selama dua jam di sebuah hotel murahan. Apakah lantas kita harus merusak segala relasi yang sudah kita bangun hanya karena urusan seks yang tak lebih dari dua jam?

Hanya karena seseorang memilih jujur kepada dirinya sendiri dan menyalurkan hasratnya, ia beresiko merusak sebuah relasi yang lebih ia hargai dan lebih intim. Individu berpikir seperti bagaimana mayoritas masyarakatnya berpikir. Hal tersebut yang menjadi alasan mengapa norma-norma sosial eksis, karena individu-individu di dalamnya menyetujui norma-norma tersebut.

Dengan kata lain, individu dalam masyarakat hanya memiliki dua pilihan: mengingkari hasratnya—sementara pada dasarnya manusia memiliki tiga hasrat dasar—atau merusak apa yang sudah ia bangun.

Maka, tidak heran apabila lantas individu-individu tersebut mengambil pilihan: berbohong.

Paparku panjang lebar. Tentu saja, karena kami sedang dalam kondisi pekerjaan yang sedang sedikit senggang.

Rekan kerjaku yang kedua tertawa kecil. Ia menatap rekan kerjaku yang pertama.

—Lalu ceritamu waktu itu soal bertemu lelaki di KRL dan sejak itu setiap hari berusaha datang di jam yang sama, berharap bertemu lagi dengan sang lelaki, bagaimana? Suamimu tahu?

Rekan kerjaku yang pertama membela diri.

—Tapi kan hanya untuk melihat. Tidak ada lanjutannya.

Rekan kerjaku yang kedua, yang memang iseng, memancing.

—Karena tidak pernah bertemu lagi makanya tidak ada lanjutannya, bukan?

Siapa yang menjadi pengkhianat dan pembohong sekarang, tanyaku.

Rekan kerjaku yang pertama kehilangan kata-kata. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu tetapi tidak jadi. Kata-katanya seperti tercekat di kerongkongannya.

 

*****

 

I will look for you, I will find you, and I will kill you.

—Bryan Mills, Taken.

Seorang perempuan, mengontakku melalui Whatsapp, menyatakan bahwa ia membaca tulisan-tulisanku di blog konyol ini. Ia berkata bahwa ia mengontakku dengan satu tujuan: bertanya apakah isteriku tahu mengenai kehidupan sehari-hariku.

Tahu, jawabku apa adanya.

Ia tidak marah, tanyanya lagi.

Tidak.

Kok bisa, tanyanya masih penasaran.

Karena ia sudah tahu perilakuku sedari dulu.

Agak lama ia terdiam. Aku juga diam.

Sekitar limabelas menit kemudian ia baru merespon.

Kalau aku jadi isterimu, aku akan membunuhmu. Oh tentu tidak dengan cepat, aku akan melumpuhkanmu, memotong penis tololmu, menyilet seluruh tubuhmu, mengulitimu dan memanggangmu. Hidup-hidup.

 





Pasangan Necis

16 08 2014

Seorang perempuan cantik—ibu-ibu cantik lebih tepatnya—dan seorang lelaki yang kupikir lebih muda 20 tahun darinya, berpakaian necis, muncul dari pintu.

Di udara terbuka begini asap rokok tak akan memenuhi ruang sekitarku, tetapi saat angin sedang tak berhembus seperti saat ini, atmosfir tetap serasa dipenuhi para perokok yang rasanya tak pernah berhenti merokok. Satu habis, ganti satu lagi dan lagi dan lagi. Mungkin hingga obrolan yang mereka semua utarakan habis. Atau mungkin malah sebaliknya, obrolan akan habis saat rokok juga habis. Dalam keadaan seperti demikian, engkau selalu uring-uringan. Tapi aku tidak begitu memerhatikan, karena fokusku teralih pada pasangan tadi.

Pasangan tersebut memilih meja—meja mereka—di sudut yang agak gelap, yang rasanya tidak terlalu banyak dipilih orang.

Aku mengenal mereka. Bukan, bukan mengenal. Aku mulai merasa terbiasa melihat mereka.

Pasangan itu datang setiap hari Jum’at malam, aku tahu semenjak bersamamu beberapa kali kemari pada hari Jum’at malam dan aku selalu melihat mereka. Aku nyaris hafal minuman yang mereka pesan. Double shot vodka, diulang dua kali—untuk sang lelaki—dan bir Bintang satu botol kecil dituang dalam gelas—sang perempuan. Aku tahu apa kesukaan mereka karena sang lelaki selalu memesan sendiri dengan cara beranjak dan memesan di bar. Menunggu di sana malah, hingga ia mendapatkan apa yang ia pesan. Barulah ia kembali ke mejanya.

Terakhir kita ke sana, aku mendengar sang pelayan bertanya dengan hangat, “Seperti biasa?” dan sang lelaki menjawab, “Pasti” dengan kepala sedikit mengangguk dan senyum tipis.

Aku berpikir, apakah mereka juga sebenarnya memerhatikan kita berdua? Apakah mereka memerhatikan apa sepatu yang kau kenakan? Apakah mereka memerhatikan apa minuman yang kita pesan? Apakah mereka seperti kita, berpikir yang sama dengan apa yang kita pikirkan sekarang?

Aku senang memerhatikan mereka, duduk di kursi yang berseberangan dengan mereka. Kadang aku malah berpikir tentang apakah mereka melihat dan memerhatikan kita.

Ruang terbuka di lantai teratas ini menarik beberapa orang. Para lelaki yang datang dengan kemeja dan rapi, metroseksual. Mereka yang datang dengan hanya mengenakan celana pendek dan sendal Croc. Para perempuan yang datang juga rata-rata berdandan kasual. Tidak terlalu dibuat-buat dan berlebihan. Usia para perempuannya ada pada kisaran 25 hingga 30 tahun, yang telah memiliki pekerjaan yang relatif stabil, tetapi tidak seperti yang akan kita semua temui di kafe-kafe. Atau malah di usia 50 tahunan. Para perempuan yang datang dapat digeneralisir dalam dua tipe: partner atau player. Sementara para lelakinya… Entahlah. Lebih beragam malah.

Tetapi kedua orang—pasangan tadi yang kukisahkan di awal—berbeda. Mereka begitu formal. Sang lelaki mengenakan jas dan sang perempuan mengenakan gaun. Sang perempuan, walaupun jelas memiliki relasi khusus dengan sang lelaki dan tampak lembut, justru memiliki sorot mata yang tajam. Menembus bola mataku setiap kali pandangan mata kami bertumbukan. Sementara sang lelaki, aku tidak terlalu bisa menebaknya, mungkin ia tidak lebih dari 30 tahun, tetapi ada sesuatu pada dirinya yang terasa bijaksana, mengetahui sesuatu yang tak diketahui orang lain, seakan ia menyembunyikan sebuah rahasia penting yang tak ia ungkapkan sama sekali.

Setiap kali berjumpa mereka, saat aku pulang bersamamu, aku memikirkan mereka. Berpikir bagaimana apabila mereka diam-diam amat ingin menyentuh tubuhmu. Meletakkan tangan-tangan mereka di seluruh tubuhmu. Di bibirmu.

Di satu momen, saat tak ada orang lain melihat karena sibuk dengan urusannya sendiri, aku memerhatikan mereka. Di antara kedip cahaya dari api lilin yang menyala, aku melihat sang lelaki mengusap leher belakang sang perempuan. Rengkuhan pada pinggang sang perempuan agar duduk lebih dekat. Tangan yang sama yang mengusap rambut sang perempuan dari dahi hingga ke tempurung belakang kepala.

Aku melihat sang lelaki membisikkan sesuatu pada sang perempuan dan menjatuhkan sesuatu saat ia sedang berbisik. Persis di sebelah kiri sang perempuan. Sang perempuan berdiri, membungkuk, berjongkok untuk meraih benda yang dijatuhkan dengan punggungnya menghadap diriku. Bagian tubuh belakangnya tak mengarah pada siapapun selain pada meja di mana kita duduk menikmati vodka dan malam. Aku tidak, sama sekali tidak, melihat jejak garis celana dalam gaun yang ia kenakan. Aku menatapmu seakan meminta konfirmasi. Engkau juga menatapku. Tak ada kata terucap tapi sepertinya kita tahu apa yang masing-masing ingin ucapkan tapi justru tak keluarkan.

Sang lelaki melingkarkan lengannya di bahu sang perempuan. Sang perempuan menyandarkan kepalanya, meraih tangan sang lelaki dan menciumnya. Tidak. Tidak. Bukan menciumi. Mengulum. Sang perempuan mengulum sebentar ibu jari sang lelaki. Sang perempuan meraih lembar buku menu yang tergeletak di atas meja mereka—walaupun sepanjang pengetahuanku mereka tak pernah memesan makanan selain kentang goreng—menutupi wajahnya yang rasanya tadi kulihat sedang mengulum ibu jari sang lelaki, dari tatapanku.

Sang lelaki berbisik. Sang perempuan menyingkirkan buku menu yang menghalangi dan aku baru tersadar bahwa lengan kanan sang perempuan selalu tersembunyi di bawah meja. Tak ada taplak meja memang, tetapi suasana temaram dan hanya diterangi masing-masing mejanya oleh lilin yang dilindungi dari angin oleh sebuah gelas kaca kecil, tentu membuat apa yang terjadi di bawah meja menjadi sama sekali tak nampak.

Sudah sejak beberapa bulan lalu, aku selalu menemukan mereka. Kita tidak kesana setiap minggu, tetapi Jum’at kapan saja kita hadir di sana, mereka akan selalu ada. Bila kita kemari bukan hari Jum’at, mereka tak pernah kelihatan.

Setiap Jum’at malam. Tak pernah terlewat, mungkin. Engkau juga tentu ingat, bukan?

Dan setiap kali aku pulang dari sana dalam keadaan setengah mabuk dan melihat mereka, aku berpikir soal mereka, aku pasti akan selalu membayangkan mereka.

Membayangkan dirimu bersama mereka, malah.

Tetapi siapa sesungguhnya mereka?

 





Le Jeune Homme Amoureux: Mainan

29 07 2014

It is better to conquer yourself than to win a thousand battles. Then the victory is yours. It cannot be taken from you, not by angels or by demons, heaven or hell. 

Buddha

Balik menghadap ke arah sana, kataku.

Engkau tersenyum dan melakukan apa yang kukatakan.

Pentangkan yang lebar. Aku ingin melihat lubangmu lebih jelas, kataku lagi.

Engkau menoleh sambil mengangkat alis. Mengangkat bahumu, tapi tetap, kau lantas melakukan yang kukatakan.

Aku memerhatikan dengan seksama lubangmu.

Bagaimana dengan latihannya, Ci. Tanyaku.

—Setiap pagi dan malam.

Bagus sih. Karena tanpa latihan hal ini tidak akan menyenangkan. Kita berdua tahu soal itu. Coba buka barang yang Cici beli kemarin, pintaku.

Engkau mengangguk dan berjalan meraih tas tanganmu. Sibuk sebentar, menggenggam sebuah kotak kardus kecil lantas berbalik dan mengacungkannya padaku.

—Buka?

Aku mengangguk.

Engkau duduk di atas kasur kemudian sibuk merobek kemasannya. Dalam kemasannya dipenuhi oleh kertas lembut yang kau buka perlahan-lahan seakan menjaga agar kemasannya sama sekali tidak rusak. Di dalamnya lagi, masih ada bungkusan lain yang lebih rapat dan rapi. Mungkin itu karenanya mengapa kau buka dengan amat berhati-hati.

Agak lama, akhirnya selesai. Engkau meringis dan mengacungkannya padaku. Lalu tertawa pelan.

—Besar juga ya? Bisa masuk ya sebesar ini?

Aku juga tertawa.

Engkau juga ikut memilih setelah melihat pilihan gambar mainannya, ujarku sambil tetap tertawa.

Tetap jadi atau batal, sambungku kemudian.

—Jadi.

Engkau mengangguk mantap. Aku tersenyum. Aku suka sikapmu.

Aku berdiri dan membuka lemariku mengambil satu tube Durex Play yang sudah habis setengahnya. Lalu kutarik kursi oranye kemerahanku dan duduk menghadap dirimu.

Engkau masih mengacungkan tanganmu menggenggam mainan tersebut sambil tetap tersenyum.

Sekarang olesi lubangmu dengan ini, kataku seraya kuacungkan tube di tanganku.

Engkau selalu antusias setiap kali memulai permainan baru. Tanpa takut. Tanpa khawatir apapun. Amat berbeda dengan mereka yang usianya jauh lebih muda yang mengaku ingin mencoba apapun, tetapi selalu saja ketakutan saat aku mengajukan permainan baru. Amat berbeda denganmu, yang kini langsung melakukan apa yang kukatakan tanpa pertanyaan, tanpa sanggahan. Menyusul ucapanku tadi, engkau sibuk melumasi jemari dan mengolesi bukaanmu sendiri.

Tambah lagi. Sekarang masukkan satu jari dan berikan pelumasnya di bagian dalam juga, komentarku.

Engkau melakukannya begitu saja. Begitu saja.

Sekarang mainan tadi itu perlu dilumasi juga dengan baik, ujarku seraya mataku terus terfokus memerhatikan bagaimana engkau melumasi bukaanmu.

Mainan itu secara aneh bentuknya sedikit menyerupai tetesan air mata dengan sebuah dudukan kecil di bawahnya. Atau mungkin pohon cemara dengan setiap sudut yang membulat dengan lembut dan halus. Tanpa sudut tajam sedikitpun. Berbahan fiber bening sehingga mirip kaca.

Engkau masih dalam posisi menungging di mana bagian belakangmu menghadapku. Dada dan tubuhmu kau baringkan di atas kasur.

Kini mainan tersebut sudah dilumasi dengan sempurna. Tangan kananmu memegang dudukannya yang kecil tetapi begitu pas di tangan. Lalu engkau menoleh.

—Sekarang?

Kapan Cici siap, ujarku sambil mengangguk.

Lantas kubantu pentangkan kedua bulatan pantatmu, sementara kau sibuk dengan mainan bening tadi. Perlahan kau pastikan ujung atas mainan seperti cemara yang membulat itu pada bukaanmu. Perlahan juga, tangan kananmu mendorongnya masuk. Perlahan. Amat perlahan. Badanmu sempat bersitegang selama sepersekian detik, persis ketika ujung mainan bening tersebut mementangkan bukaanmu sedikit demi sedikit. Dan aku melihat itu semua.

Engkau melakukannya tanpa bicara sama sekali. Amat fokus.

Perlahan-lahan mainan bening tersebut masuk semakin dalam. Senti demi senti. Mengatur nafas. Tegang sejenak. Menarik dan menghembuskan nafas. Rileks. Masuk lebih banyak. Begitu dan begitu terus. Hingga akhirnya, “plop” bagian yang berbentuk air mata itu sudah berada di dalam sepenuhnya dan hanya tersisa pegangannya yang berada di luar. Bukaanmu telah terbuka dengan baik dan kini tertahan. Lubangmu terisi lebih baik dan lebih penuh dibandingkan sebelum-sebelumnya.

Engkau seperti membeku. Tetapi tubuhmu sedikit gemetar.

Aku meraih tubuhmu dan perlahan membalikkannya, menghadapku. Engkau kini dalam posisi berjongkok di hadapanku. Kuangkat dagumu perlahan hingga aku dapat menatap matamu.

Apakah itu air mata, tanyaku.

Engkau mengangguk. Lantas meringis. Tanganmu segera bergerak menghapusnya.

—Lalu?

Coba untuk duduk, kataku.

Engkau menatapku sambil perlahan-lahan menggerakkan badanmu ke belakang dan mengambil posisi duduk di atas karpet.

Begitu duduk, sontak kepalamu tengadah dan matamu menutup sambil mengernyit. Mulutmu terbuka. Aku tahu, engkau berusaha menahan suaramu saat beban tubuhmu saat duduk mendorong mainan bening tadi memasuki dirimu lebih dalam.

Aku berdiri dari kursiku kemudian berlutut di hadapanmu. Kuusap rambutmu perlahan. Engkau masih menutup mata, tapi kernyitan di dahimu telah hilang. Kini yang ada adalah senyumanmu. Kukecup bibir itu pelan. Kugigit lembut dan dalam sepersekian detik lidah kita saling bergumul dalam desah dan basah. Kuraih tangan kirimu dan kuangkat perlahan. Kini posisi dudukmu disangga oleh tangan kananmu ke belakang. Kuhentikan pagutan kita lalu kuganti, kumasukkan, kuhisap jari tengah dan telunjuk kirimu dengan perlahan, seraya mataku masih menatapmu. Engkau juga menatapku lurus.

Tak lama kukeluarkan jemarimu dari mulutku dan kuarahkan pada klitorismu. Kuusap-usapkan perlahan, lantas kulepaskan genggamanku setelah tanganmu otomatis bekerja sendiri.

Kembali mulutku menyerbu mulutmu. Perlahan, engkau mulai mendesah. Nafasmu berat dan memburu. Gerak tubuhmu semakin aktif.

Aku menarik diriku. Berdiri. Kuacungkan tangan kananku yang segera kau sambut dan berdiri perlahan-lahan dengan mainan bening itu masih menempel pada lubangmu. Engkau lantas berdiri dengan posisi yang aneh karena mungkin rasanya memang aneh ada benda yang menancap di bawah belakangmu.

Kubimbing perlahan dirimu agar dirimu berdiri dan menumpukan beban tubuhmu di meja.

Aku berlutut di belakangmu.

Siap, Ci? Tanyaku.

Engkau mengangguk.

Kurenggangkan kedua bongkah pantatmu. Lalu kuraih pegangan mainan bening tadi. Lalu kutarik perlahan. Amat perlahan. Seperlahan saat ia memasuki tubuhmu tadi. Engkau menahan nafas beberapa saat. Lalu menghembuskannya perlahan. Perlahan. Perlahan. Perlahan.

Hingga, “plop”. Mainan itu lepas dari tubuhmu sepenuhnya, seiring dengan hembusan lega nafasmu. Kuperhatikan hasilnya. Mainan bening ini telah meninggalkan lubang dengan pinggiran kemerahan sementara tengahnya gelap menganga.

Diam dulu, Ci. Ujarku seraya aku berdiri dan meletakkan mainan bening itu berdiri di atas meja tepat di hadapanmu. Mainan itu berdiri seperti cemara berbentuk aneh.

Engkau menoleh dan berdehem tanda setuju.

Aku meraih tube Durex yang tadi tergeletak di atas kasurku, seraya aku membuka celanaku. Kubuka tutupnya dan kuolesi dengan baik penisku. Lalu kudekati tubuh telanjangmu. Kujilat pundakmu sedikit.

Kini giliranku, Ci, bisikku perlahan.

Dengan mudah, teramat mudah malah, penisku menelusup ke dalam bukaanmu tadi. Engkau sedikit tersentak. Kupeluk tubuhmu erat dari belakang dan kutancapkan gigiku di pundakmu. Engkau melenguh pelan seraya kepalamu tertengadah. Dengan tangan kananku segera kuraih mainan bening tadi seraya kugerakkan badanku maju mundur teratur. Kuangkat ke hadapan wajahmu.

Kini tangan kiriku meraih leher depanmu. Melingkar di sana dengan tepat, menjaga agar kepalamu tetap tengadah. Tangan kananku dengan perlahan mengarahkan ujung atas mainan bening tumpul itu ke mulutmu seraya gigitanku masih menancap di pundak kananmu.

Selanjutnya, di antara eranganmu, sebagaimana dirimu yang tak pernah mengenal kata menyerah untuk hal apapun, yang selalu mampu mengalahkan dirimu sendiri, tanpa perlu komentar dan kata-kata, engkau membuka mulutmu.





Jagat Raya yang Dilihat Melalui Lensa Kanta: Mainan

22 07 2014

Boys are easy. I mean, there are just a lot of bruises when they’re young. With boys, you get a lot of accidental jabs in the eye and stepping on your feet, and those tantrums they cause when they don’t want to leave the toy store.

—Jodie Foster

62533_10152301551323271_3608869858538614457_n

Semenjak di Jakarta, aku memiliki koleksi mainan. Tepatnya action-figure Star Wars berukuran 3,75 inchi. Termasuk barang murahan untuk kalangan para kolektor Star Wars tetapi tetap mahal apabila diukur dari kapasitas urusan finansialku. Tapi toh aku tetap mengumpulkannya. Aku menyukainya. Aku menyukai kisah fiksi Star Wars dan karenanya aku menyukai koleksi mainan kecilku.

Sesungguhnya, koleksi kecil ini hanyalah sebagian dari ketertarikanku. Komik Eropa, komik Amerika, novel, sejarah, sci-fi, Lego, dan banyak lainnya. Aku memiliki banyak ketertarikan, walau rasanya tidak sebanyak orang lain. Tetapi aku juga cukup spesifik, walau tidak sespesifik orang lain juga. Aku menyukai sebagaimana aku merasa menyukai. Aku menyukai sesuatu karena aku memang menyukai sesuatu tersebut. Tidak peduli orang lain menyukai apa yang kusuka atau tidak. Tidak perlu rasanya pembenaran mengapa aku suka sesuatu hal. Aku suka, karena aku suka. Argumen mengapa aku suka, adalah urusanku, bisa kuutarakan tapi tak pernah ingin kuperdebatkan.

Aku bahagia setiap kali aku mendapatkan satu saja figur Star Wars yang kuinginkan. Aku ulangi: bahagia.

Beberapa orang menganggap bahwa hal ini adalah kebahagiaan semu. Ilusif. Semenjak kebahagiaanku bertautan dengan urusan kebendaan.

Bisa jadi orang-orang tersebut benar. Tapi toh aku tahu aku bahagia dan apa yang tahu perasaanku, bukankah hanya diriku sendiri dan bukan orang lain? Lagipula aku selalu tahu apa yang aku mau, aku inginkan. Misal ada seseorang bertanya padaku sebagaimana Durden bertanya pada anak-anak buahnya soal apa yang mereka inginkan, aku bisa menjawabnya dengan teramat mudah.

Aku bahagia karena figur-figur mainan yang kudapatkan ini merepresentasikan karakter-karakter fiktif yang merupakan sebuah hasil kreasi yang dipikirkan masak-masak. Figur-figur ini melengkapi kamarku, di mana aku suka berada di dalamnya hanya seorang diri sebagaimana orang Inggris yang menyatakan bahwa “Tempatmu berada, seburuk apapun, adalah istanamu.” Satu saat memang aku sadar benar, figur-figur ini akan dapat hilang, patah, rusak dimakan usia. Tentu saja.  Bukankah semua hal memiliki akhir? Aku sadar betul hal tersebut, tetapi aku tidak menjadikan hal itu penghalang kebahagiaanku. Aku bahagia karena setidaknya figur-figur ini pernah menemani hari-hariku.

Beberapa orang berkata bahwa uang tidak dapat membeli kebahagiaan.

Bisa jadi orang-orang tersebut benar. Tapi bagiku, uang dapat membantuku dengan sangat baik dalam meraih kebahagiaanku. Tidak sepenuhnya kebahagiaanku diraih dengan uang, tapi uang amat membantu. Mereka yang berkata bahwa uang tak pernah bisa membeli kebahagiaan, mungkin adalah mereka yang memang tidak pernah tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka. Sehingga berapapun banyaknya uang yang mereka punya, tak pernah membuat mereka bahagia. Mungkin standar kebahagiaan mereka terlalu tinggi. Mungkin saja. Tapi aku tidak.

Aku bahagia dengan figur-figur kecil Star Wars-ku. Aku bahagia memiliki seorang isteri yang tidak pernah rewel hanya karena aku memiliki hobi mengumpulkan mainan.

Aku bisa berbahagia dengan hal-hal yang kecil, dapat teraih dan hadir di kehidupanku sehari-hari.





Le Jeune Homme Amoureux: Aku Ingin Terlelap di Sisimu 7 Hari Lagi

10 07 2014

Aku tidak tahu mengapa, tapi beberapa malam semenjak aku menjejakkan kaki kembali di Jakarta, aku begitu gelisah. Tentu saja, awalnya karena jetlag. Tapi tidak selama ini juga mestinya. Dan dalam setiap kali gelisahku tersebut, aku menghubungimu, karena di Jakarta ini, engkaulah yang mengerti bagaimana menemaniku dalam tenang. Dan tentu saja, kita bisa berjumpa. Kukatakan aku sedang ingin berada dekat denganmu. Aku ingin bersamamu.

Engkau takut kehilangan Cici? Tanyamu sambil tertawa.

Mungkin. Jawabku. Sambil tertawa juga. Tapi bukan tertawa lepas sepertimu.

Kukatakan dalam hati, aku benar-benar tidak tahu. Apa yang aku tahu hanyalah dalam hal seperti ini engkau benar-benar sabar.

Seperti malam ini saat engkau memutuskan untuk menemaniku tidur.

Apakah Cici harus telanjang? Tanyamu.

Aku mengangguk seraya membuka bajuku sendiri.

Maka kita berdua telanjang. Aku ereksi sedikit. Tentu saja.

Tapi entah bagaimana, malam ini aku tidak ingin menyetubuhimu. Bukan birahi yang menyelusup dalam diriku malam ini. Engkau tampaknya mengerti. Engkau tidak memintaku melakukan apapun. Engkau hanya diam seraya tangan kananmu membelai-belai lembut penisku seperti seseorang yang dengan penuh kasih membelai hewan piaraannya.

Engkau juga masih diam saat kubenamkan wajahku di ketiakmu yang berambut halus lembut. Kutumpangkan tangan kiriku di atas payudaramu. Aku hanya membelai-belainya, bukan kuremas keras hingga kau mengaduh seperti biasa. Kadang kupilin lembut putingmu, bukan kujepit hingga kau menjerit seperti biasa. Beberapa saat kemudian, aku masih membenamkan wajahku, menghirup aroma ketiakmu yang apabila malam tak pernah menyimpan aroma artifisial, saat aku merasakan bahwa engkau menatapku.

Kutarik wajahku sedikit dan aku melirik pada wajahmu.

Engkau tersenyum lembut.

Lalu tangan kananmu yang sedari tadi mengusap penisku, kini mengusap-usap kepalaku, menepuk-nepuk lembut bahuku. Kau kecup kepalaku perlahan dan lembut seraya kau usap punggungku. Begitu saja. Begitu saja. Dan memang dengan begitu saja itu pulalah penisku mengendur, gairah birahiku menguap entah kemana padahal kita berdua masih telanjang bersisian. Mungkin karena aku merasakan kedamaian.

Kuselipkan tangan kiriku di selangkanganmu. Mengusapnya perlahan. Memainkan rambut pubismu. Hingga entah kapan tepatnya, aku telah tertidur dalam damai.

*****

Saat aku terbangun pagi harinya, aku merasa segar. Kau juga masih ada di sebelahku dan sudah membuka matamu seraya masih berbaring di sebelahku. Kau mengecup keningku.

Aku menatapmu. Engkau balas menatapku sambil tersenyum. Ada guratan-guratan di sudut bibirmu yang tipis dan matamu yang sipit. Aku menyukainya. Kuusap setiap guratan tersebut perlahan. Kau tampak begitu menawan. Kau singkirkan tanganku perlahan lalu kau dekatkan wajahmu. Kau kecup keningku, lagi. Lalu kedua pipiku dan terakhir bibirku.

Seperti lelaki lainnya saat bangun pagi, penisku menegang, ereksi, tetapi bukan karena birahi. Kau menatapku lekat. Tanganmu mengelus penisku—yang semakin menegang dan kini kebangkitannya mulai tercampuri birahi. Engkau menggeser dan mengangkat tubuhmu. Bergeser pelan dan setelah dengan tanganmu kau usapkan rambutmu yang berjatuhan pada wajahmu ke belakang, lidahmu mulai menyusuri batang penisku. Dari ujung ke ujung. Ujung ke ujung. Beberapa kali, lalu kau kulum perlahan.

Hanya sebentar. Lalu kau rebahkan lagi tubuhmu seperti semula dan seperti semula juga kau menatapku lekat dan dekat.

Apa yang ingin kau lakukan pagi ini, tanyamu. Mumpung aku masih di sini.

Aku diam, mataku menerawang ke tempat lain. Tak butuh waktu lama hingga aku membisikkan sesuatu di telingamu. Engkau mengangkat alis seakan heran, tetapi akhirnya mengangguk juga.

Aku bangkit, berdiri dan membuka laci mejaku. Tak lama tangan kananku sudah membawa sebuah mistar dan kulakukan apa yang tadi kubisikkan padamu. Engkau tertawa.

*****

Engkau tertawa geli saat kusampaikan hasil pengukuranku terhadap helai-helai rambut di tubuhmu.

Rambut pubismu rata-rata 6,5 cm. Agak ikal tapi ada cukup banyak yang lurus. Agak aneh juga, karena milikku dan perempuan-perempuan bukan berdarah Cina sepertimu tak pernah memiliki yang lurus.

Rambut ketiakmu pendek, hanya 3 cm. Semuanya lurus dan lembut. Tidak seperti pubismu yang mana satuannya tebal, rambut di ketiakmu halus dan lembut.

Rambut di lenganmu lebih pendek lagi, rata-rata 1 cm. Jauh lebih halus dari rambut manapun. Nyaris tak nampak malah saking halusnya. Warnanyapun terang kecoklatan nyaris sama dengan warna kulitmu.

Sementara rambut di kisaran anusmu rata-rata 2,8 cm. Lurus dan agak melengkung. Lemas karena sama sekali belum pernah dicukur.

Engkau masih terbahak.

Ah, andai engkau tahu betapa inginnya kuabadikan momen tersebut dengan kameraku. Andai engkau mengijinkannya. Andai saja.

Tetapi nyatanya tidak.





Tentang Menjadi Manusia Indonesia: Adaptasi atau Mati

5 07 2014

“It’s the perfect place to grow up neurotic.” —Tommy Ramone

Beberapa bulan lalu, di pinggiran Jakarta terjadi benturan antara diberlakukannya jalur transportasi yang serupa Transjakarta, yang menjanjikan ketepatan waktu yang lebih baik, layanan yang lebih nyaman dan keamanan yang terjamin, dengan mereka para pengemudi metromini dan mikrolet. Para pengemudi metromini dan mikrolet marah karena keberadaan angkutan baru itu akan merusak alur mata pencaharian mereka.

Seorang kawan yang kukenal dengan segera menyatakan padaku dukungannya terhadap para pengemudi metromini dan mikrolet. Mereka orang-orang kecil, katanya.

Aku bertanya pada kawanku tersebut, bagaimana ia bekerja setiap hari. Apakah ia menggunakan metromini atau mikrolet.

Tidak jawabnya. Ia menggunakan motor.

Tentu saja, keparat. Umpatku.

Karena aku tidak ingin terlambat, ujarnya lagi.

Bodoh. Kau pikir hanya dirimu yang tak ingin terlambat, umpatku.

Mereka yang mengandalkan metromini dan mikrolet pasti hafal betul, bagaimana para pengemudinya bisa menunggu calon penumpang sekian lama, tak peduli akan waktu yang dibutuhkan para penumpang yang sudah naik ke dalam mobilnya, yang penting muatan penuh. Para pengemudi tak peduli kalaupun kendaraannya berhenti di tengah jalan, mengganggu kendaraan lain dan membahayakan penumpang yang turun. Seringkali juga mobil tak bersedia benar-benar berhenti sehingga penumpang yang turun harus melompat dan kalaupun jatuh, kernetnya malah memaki. Para pengemudi tak peduli apabila para bajingan masuk menganggu penumpang dengan berkata, “Ya Bapak Ibu sekalian, daripada kami harus merampok, daripada kami terpaksa menodong…” Tak semua memang, beberapa pengemudi tidak seperti di atas, tapi hal-hal di atas juga seakan sudah dianggap lazim. Tak ada yang mengeluh selama ini, pengemudi juga tetap seenaknya karena kedua pihak seakan sadar satu hal: karena toh para penumpang tak memiliki alternatif lain. Tapi saat sekarang hadir pilihan lain. Lihat yang terjadi.

Dan kini mereka, para pengemudi itu marah karena para penumpang lebih memilih angkutan lain tersebut?

Dan kini engkau yang menggunakan motor setiap hari berkata padaku bahwa kita harus berpihak pada para pengemudi sialan itu?

Aku bukannya tak peduli pada nasib ‘orang kecil’—aku benci istilah ini—dan juga soalan perang kelas. Satu hal yang pasti, aku tak akan menempatkan kesadaran kelasku pada hal konyol dan bodoh seperti itu.

*****

AFTA direncanakan akan mulai resmi menjadikan Indonesia sebagai salah satu bagiannya di tahun 2015, alias tahun depan. Ketika ditandatangani pertama kali, negara yang terlibat selain Indonesia adalah Brunei, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand. Lantas menyusul di tahun-tahun berikutnya negara Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Tujuan awalnya memang untuk meningkatkan daya saing ekonomi kawasan ASEAN di tingkat global.

Dulu aku melihat hal ini sebagai sebuah ancaman yang mengerikan. Tenaga kerja di Indonesia akan diperas habis-habisan, demikian juga dengan sumber daya alam yang ada. Betapa privatisasi gila-gilaan yang akan menyertai AFTA tersebut hanya akan membawa kesengsaraan yang skalanya juga besar-besaran.

Dulu.

Tapi terus terang, setelah sekian lama tinggal di Jakarta. Setelah sekian lama berjumpa dan berbincang dengan orang-orang di Jakarta, baik di kantor-kantor ber-AC hingga pedagang di sisi jalan, baik pengendara mobil pribadi hingga pengguna metromini rombengannya Jakarta, baik boss korporat maupun petugas kebersihan korporat tersebut, aku justru seakan mendapati apa yang dulu tidak pernah kusadari sebelumnya. Bahwa aku dulu terlalu naif.

Dulu.

Selama nyaris tujuh tahun lamanya, khususnya dua tahun terakhir, aku semakin intens dalam melakukan perjalanan-perjalanan ke luar negeri. Aku berjumpa dengan banyak orang, aku hidup di negeri-negeri yang beragam, menyambangi kawasan-kawasan yang beragam. Aku juga menyadari, bahwa dulu aku tak mampu melihat lebih luas. Aku hanya melihat apa yang aku ingin lihat. Aku terlalu ideologis.

Dulu.

Kini. Aku melihat bagaimana publik menjaga sendiri alat transportasi yang ada. Itu terjadi di Singapura, Hong Kong, Jepang, London. Minimal kemampuan untuk menjaga dan menghormati publik lain seperti dengan tidak membuang sampah sembarangan, itu ada. Di sini? Coba masuk ke Transjakarta. Coba gunakan metromini. Itu baru kebersihan. Belum soal ketepatan waktu. Para pengguna alat transportasi publik di sini tentu paham soal apa yang kubicarakan. Sejauh ini, alat transportasi yang bisa diandalkan baru kereta api, itupun baru nyaman dan masuk akal setelah kepala PT. KAI diganti oleh seorang mantan bankir kenamaan yang dianggap bodoh oleh rekan-rekan sejawatnya karena memilih menataulang PT. KAI dibandingkan memilih bidang usaha yang jauh bergelimang harta.

Apakah harus ada perusahaan privat yang menanggulangi masalah kebersihan? Sebagaimana kita tahu bahwa taman-taman dan perumahan-perumahan privat adalah nyaris satu-satunya lokasi di mana kawasannya bisa terjaga tetap bersih. Apakah harus selalu perusahaan privat untuk menanggulangi masalah keamanan? Apakah harus alat transportasi diurus dengan cara yang diterapkan oleh PT. KAI? Karena pola yang diterapkan oleh PT. KAI adalah pola yang digunakan oleh perusahaan privat. Mau menunggu orang-orang rela berkorban seperti sang direktur PT. KAI saat ini untuk hadir di Indonesia?

Aku bekerja di bidang seni dan desain. Aku berurusan dengan berbagai macam kertas, tinta, dan alat cetak. Terutama kertas. Coba pertanyakan dari negeri mana bahan baku kertas berasal. Tentu saja, Indonesia. Tapi kalau engkau akrab dengan urusan cetak mencetak, tentu engkau tahu bahwa kertas-kertas terbaik semuanya adalah kertas impor.

Aku juga berurusan dengan urusan packing dan juga peti, karena aku berurusan dengan distribusi ekspor impor. Coba pertanyakan negeri mana yang menjadi produsen kayu untuk bahan peti? Tentu saja, Indonesia. Tapi mengapa kualitas peti yang dibuat oleh para tukang di Indonesia mayoritas jauh di bawah standar peti negeri-negeri lain? Apakah di sini, di Indonesia, hanya bisa mengimpor kayu tapi tak memiliki tenaga terlatih untuk mengolah kayu?

Aku berurusan dengan para desainer interior dan arsitek. Aku berurusan dengan para tukang, kuli bangunan dan mandor. Coba tanyakan pada para desainer dan arsitek tersebut, bagaimana kualitas tenaga kerja di sini. Kerapihan, kebersihan, keamanan, ketelitian, kepresisian. Apakah mayoritas para tukang dan kuli di sini mampu mengejar kualitas yang sama dengan di negeri-negeri lain, minimal negara-negara ASEAN?

Pertanyakan mengapa harga sepatu Doc Martens buatan Inggris jauh lebih mahal dibanding harga buatan Thailand atau Cina? Karena kualitasnya berbeda, tentu saja. Buatan Inggris jahitannya lebih tahan lama. Cintai produk dalam negeri, kata orang-orang. Beberapa tahun ke belakang, seorang kawan, seorang skinhead yang sudah jelas gemar mengenakan sepatu boot, membuat sepatunya dengan merk lokal yang sudah cukup ternama. Bentuknya baik. Kulit yang ia pilih juga baik. Tapi saat berbicara kualitas dan ketahanan, ia hanya bisa mengurut dada.

Pertanyakan mengapa produk jus kemasan di supermarket Indonesia berbeda dengan rasa produk yang sama di supermarket luar negeri? Karena di Indonesia terlalu banyak digunakan zat pengawet.

Pertanyakan mengapa rasa makanan apapun di warteg-warteg ibukota ini selalu sama? Ambil sayur apapun. Ambil lauk pauk apapun. Bukankah rasanya selalu mirip, apabila tidak dikatakan sama? Karena juru masak di sini mengandalkan penyedap semata dan untuk menyamarkan semua itu, kita tahu bahwa rasa pedas bisa mengaburkan segalanya. Para pengonsumsi makanan warteg tentu tahu pertanyaan standar saat kita memesan makanan: “Mau pakai sambal?”

Mengapa hal itu tidak terjadi di Singapura, Malaysia, Hong Kong, terutama Jepang?

Dan orang-orang di sini menuntut agar ada kesetaraan upah? Ingin memiliki bayaran dan penghasilan sebanyak mereka yang mampu menghasilkan sesuatu yang lebih baik daripada di sini?

Para pekerja di Indonesia adalah salah satu pekerja yang paling sering menuntut dan mengeluhkan kenaikan upah. Aku tidak menyalahkan mereka. Biaya hidup memang mahal. Tapi pertanyaannya, apakah kualitas kerja mereka juga meningkat? Kita menyalahkan kurs yang tak seimbang. Tapi seberapa sering kita bercermin apakah kemampuan kerja kita juga sudah seimbang?

Beberapa orang menyalahkan pendidikan. Mungkin saja benar. Karena memangnya apa alasan mengapa mereka yang kaya raya berlomba menyekolahkan anaknya di luar negeri? Untuk gengsi? Betul, sebagiannya untuk itu. Tetapi bukan hanya itu juga, para pengusaha itu ingin agar anak mereka sendirilah yang nanti akan mewarisi perusahaannya. Dan mereka tidak ingin anak-anak mereka dididik di sini, yang mana produknya kebanyakan hanya bisa mengeluh dan menyalahkan keadaan, tak memiliki kemampuan berjuang yang tangguh. Saat AFTA datang menjelang, Indonesia malah sibuk menyusun kurikulum pendidikan baru yang konon lebih bermoral tetapi dalam pandanganku justru semakin menyempitkan pikiran. Dengan kondisi demikian, apakah engkau tidak memikirkan anakmu? Masa depan anakmu adalah sebuah dunia yang jauh lebih keras. Apakah kau tega membiarkan anakmu kalah dalam persaingan begitu saja? Kini salahkah mereka yang berusaha mati-matian agar anaknya menuntut ilmu di luar Indonesia?

2015. Sebentar lagi AFTA. Sebentar lagi Indonesia menjadi bagian darinya. Orang-orang di sekelilingku. Para juru kampanye dadakan yang mendadak melek politik dan sadar HAM, ahli sejarah dan paling tahu soal apapun, tak satupun yang kukenal membahas mengenai AFTA. Pilih nomor satu. Pilih nomor dua. Nomor satu gembar-gembor soal nasionalis padahal ia adalah anak dari salah satu orang utama penggagas agar Indonesia terlibat dalam sistem ekonomi kapitalisme global seperti AFTA dan komentar-komentar calon wakilnya sudah menggambarkan dengan jelas usulnya untuk terintegrasi dengan ekonomi global. Nomor dua sudah jelas merengkuh seluruh konsep yang ditawarkan sistem ekonomi dunia baru dengan sisi yang lebih humanis. Kalian pikir ada pilihan? Militer atau bukan, evolusi ekonomi terus berjalan dan akan diterapkan. Para pendukung nomor dua mengandalkan isu kebebasan dari kekuasaan absolut militeristik, tetapi seakan lupa bahwa kebebasan adalah pedang bermata dua yang tak selalu hanya bisa melukai musuh. Pedang ini juga yang di era ‘kebebasan’ pasca era Orde Baru justru lebih banyak melukai si pemegangnya.

Menurutku ada pertanyaan penting yang seharusnya menjadi kepedulian orang-orang di sekelilingku dibandingkan menjadi juru kampanye karbitan. Yaitu, apakah Indonesia mampu bersaing? Ataukah orang-orang di sekelilingku akan tumbang satu persatu dan digantikan oleh orang-orang yang berasal dari bangsa yang berbeda sebagai rekan-rekan kerjaku? Karena sepertinya semakin hari, AFTA adalah salah satu evolusi sistem yang tak terhindarkan dari kapitalisme sebagaimana yang sudah V.I. Lenin prediksikan jauh-jauh hari. Evolusi tak bisa berjalan mundur. Dunia tidak bergerak mundur. Antara opsi pertama, membangun dunia baru seperti apa yang dilakukan oleh para pejuang Zapatista di hutan-hutan Lancandon, Meksiko, atau opsi kedua, beradaptasi dengan evolusi sistem ekonomi tahap lanjutan ini. Atau. Opsi terburuk: kita akan bernasib sama dengan burung Dodo. Aku sadar diri kalau aku tak mampu menjalani opsi pertama dan aku tidak mau opsi terakhir yang berarti punah. Pilihan yang ada bagiku hanya opsi nomor dua: adaptasi.

Itu jalan yang kupilih saat ini. Kelas menengah ngehe? Sebutlah apapun, tapi toh pasca heboh pemilihan calon presiden, itu hal yang mau tak mau akan dipikirkan oleh kita semua. Dan kubilang semua.

Mungkin aku yang berubah hingga kini memiliki pandangan seperti itu? Mungkin saja. Mungkin saja. Mungkin saja dulu aku marah, kawan-kawanku marah, pada dunia ini, bukan benar karena dunia ini terasa tidak adil, melainkan karena sesungguhnya di lubuk hati yang terdalam kami sadar bahwa kami tidak mampu dan kami sadar bahwa kamilah yang pertama-tama akan tersingkir dari arena evolusi dunia. Kami marah karena kami takut. Masalahnya, hidup ini tidak bisa dijalani oleh para penakut, bukan?

Atau apakah kami ini tak berbeda dengan para pengemudi metromini dan mikrolet yang marah yang kukisahkan di awal? Para pengemudi yang dulu besar kepala karena merasa diri penting dan dibutuhkan—hingga hadir alternatif lain dan kemudian hanya bisa marah. Marah karena takut. Marah karena sadar kalau diri mereka akan tersapu dari arena evolusi ekonomi.

Mungkin aku seperti itu.

Dulu.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 74 other followers