Tentang Dunia Kontemporer: Busana (Bag.I)

17 05 2013

“Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.”

—Coco Chanel

Converse-chucks-black-red

Satu malam, di tengah kesibukan pekerjaanku yang rasanya tak kunjung selesai, pikiranku melayang kemana-mana. Ke masa lalu. Selalu ke masa lalu. Tapi tidak. Kali ini bukan pada seorang perempuan atau siapapun juga. Kali ini aku teringat pada sepatu kesayanganku dulu yang entah bagaimana nasibnya setelah dipinjam oleh salah seorang kawanku—Converse Chuck Taylor Black and Red Special Edition. Sepatu yang kini tak lagi diproduksi, rasanya tak mungkin ada lagi yang menjualnya walaupun di pasar loak, kecuali aku memiliki mesin waktu atau mobil DMC Delorean karya Dr. Emmet “Doc” Brown yang bisa membawaku ke masa lalu.

Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa sepatu pada akhirnya akan berfungsi tak berbeda dengan sepatu lainnya. Sepatu eksis hanya dalam nilai fungsinya, yaitu digunakan untuk melindungi kaki. Selesai. Di luar itu, tak ada lagi nilai penting yang bisa digali dari sepasang sepatu. Itu juga yang pada satu hari diutarakan oleh seorang kawanku kala beberapa saat lalu aku bersikeras ingin mendapatkan topi jenis tertentu yang bukan kebetulan memang sulit didapatkan di Jakarta. “Model dan jenis pakaian itu tak penting. Pakaian adalah pakaian untuk digunakan, tak lebih,” ujarnya kala tersebut.

Tak penting, katanya. Tak penting?

Sebentar.

Aku bukan kritikus ataupun desainer adi-busana, tapi memang tidak butuh untuk jadi ahli kalau sekedar untuk paham bahwa pilihan busana, atau busana itu sendiri, juga secara tak langsung mengirimkan pesan. Isi pesan tersebutlah yang semakin kemari semakin menjadi komponen penting dari bentuk dan gerak sosial masyarakat, dari kultur. Dan ada beberapa alasan mengapa hal itu seperti demikian.

Pertama, busana membantu mendefinisikan serta membentuk kultur popular, yang pada gilirannya, menyetir kultur-kultur dalam ruang lingkup yang lebih besar. Pasca naik daunnya film Ada Apa Dengan Cinta, gadis-gadis SLTA mengenakan kaos kaki tinggi dan mulai berlomba memanjangkan rambut agar mirip dengan Cinta yang diperankan Dian Sastro. Dari awal memang tidak bisa dipungkiri bahwa televisi dan film menyebarkan trend busana, hanya semakin kemari media tersebut semakin menguatkan pijakannya dalam soalan memberi pengaruh pada trend busana.

Dalam pola yang sama, industri musik dan busana juga semakin berhubungan dekat. Majalah-majalah musik—Rolling Stone, Spin, Vibe, untuk menyebut beberapanya—seringkali menampilkan lembar busananya sendiri, biasanya dengan mengaitkannya dengan profil musisi-musisi yang amat peduli penampilan. Pada 1986 Council of Fashion Designers of America memberikan penghargaan khusus pada MTV karena perannya yang amat berpengaruh pada soalan trend busana. Produsen-produsen busana berlomba menjadi sponsor utama bagi pilihan busana yang digunakan untuk tampil oleh para musisi di atas panggung.

Dan tak hanya film dan musik, tentu saja, karena toh pada dasarnya semua trend kultural selalu memiliki komponen busana; seseorang tak akan dapat mengadopsi sebuah peran kultural tanpa melihat bagian integralnya. Engkau tak akan dapat menjadi seorang punk tanpa memahami dan terutama mengenakan pakem busana punk.

Kedua, perhatikan bagaimana semakin maraknya selebriti dalam dunia adi-busana yang awalnya berkutat dan membatasi diri dalam ranah industri busana juga mulai merambah ranah politik. Sebelum era 60-an, sepertinya sulit membayangkan seorang model diundang sebagai pembicara di panggung politik; dewasa ini model bisa diminta untuk membicarakan apapun, dari soalan hubungan internasional—sebagaimana yang dilakukan oleh Iman, isteri David Bowie, yang berbicara soal perbudakan di Sudan—hingga menjadi juru bicara dari sebuah kampanye kesehatan seperti yang dilakukan oleh Lauren Hutton dengan terapi hormonnya. Atau contoh yang lain, saat di tahun 1998 di mana Naomi Campbell dan Kate Moss selesai melakukan sesi pemotretan di Havana, mereka berdua melayangkan pesan kepada Castro untuk berjumpa. Castro lantas menemui mereka berdua dan berbincang selama 90 menit penuh—setengah jam lebih lama daripada waktu yang ia berikan untuk Paus. Bahkan pemimpin Kuba tersebut memerlihatkan bahwa dirinya cukup aktif dalam memerhatikan trend adi-busana, memberikan selamat kepada Moss karena telah memulai ‘revolusi’ dalam dunia model.

Faktor ketiga, trend busana memengaruhi secara resiprokal dalam merefleksikan trend sejarah. “Fashion is a mirror of history,” ujar Louis IV. Benar. Hak pilih bagi perempuan di Amerika Serikat, berbarengan dengan naik daunnya trend di kalangan perempuan di mana perempuan mulai mengenakan celana, rok yang lebih mini, pakaian longgar dan rambut model bob. Busana berakselerasi dengan gerak sejarah—bukan hanya sekedar berarti busana pilihan tersebut membuat perempuan untuk dapat bergerak lebih lincah dan cepat. Pengadopsian busana tertentu menjadi salah satu indikasi gerak sosial, bahkan juga pernyataan filosofis. Coba perhatikan bagaimana F. Scott Fitzgerald mencantumkan salah satu cerita pendek terkenalnya “Bernice Bobs Her Hair” dalam sebuah buku berjudul Flappers and Philosophers.

Pada akhirnya, dan yang paling penting, pernyataan tegas dari pilihan berbusana menjadi signifikan karena busana mendefinisikan apa yang diyakini oleh individu maupun sosial. Apa yang kita—atau oleh sosial—dianggap atraktif dan gaya bukanlah sesuatu yang remeh temeh lagi, karena ia merefleksikan secara signifikan apa yang kita anggap berharga, apa yang kita anggap indah, bagaimana kita harap kita tampilkan dan hadirkan. Dan pada akhirnya, busana menyatakan sebuah undangan pada sebuah perbincangan—sesuatu yang setidaknya mau tidak mau dianggap sebagai sesuatu yang serius.

Tidakkah pertanyaan “Apa artinya indah?” adalah sebuah pertanyaan esensial? Karena hal itu memang sama sekali tidak berkaitan dengan bagaimana caranya bertahan hidup—seperti makan, minum, bernafas—tetapi ia berkaitan erat dengan persoalan mengapa kita mengingini hidup.

Mereka yang menganggap semua hal tersebut tak penting, karenanya mungkin juga tak akan paham bagaimana bagiku bentuk presisi topi army cap amat penting dan karenanya aku rela bersusah payah mencari ke setiap penjuru hanya demi kepresisiannya tersebut, bagaimana aku berburu jaket parka dengan tipe yang juga harus tepat, bagaimana aku bertanya kesana kemari demi mendapatkan sepatu Dr. Martens 3 lubang. Serta mengapa aku lebih memilih produk-produk tersebut walaupun bekas dan berada di pasar loak dibandingkan baru tetapi bukan yang benar-benar tepat.





Ubud, Mei 2013: Tentang Seorang Kawan

9 05 2013

“It is more fun to talk with someone who doesn’t use long, difficult words but rather short, easy words like “What about lunch?”

—A. A. Milne, Winnie the Pooh

Kali ini Bali tidak sepanas saat terakhir kali aku kemari.

Selepas menandaskan potongan pork chop terakhirku, aku masih ingin duduk menikmati malam yang sepi ini. Sebenarnya tidak terlalu sepi memang, tapi kawasan tempatku menginap cukup sepi. Jangan bandingkan dengan Kuta yang tampaknya tak pernah sepi. Malam di sini tidak terlalu banyak orang. Hanya suara jangkrik, perbincangan orang lain yang sayup-sayup, gemericik air. Dilengkapi dengan hawa yang tidak terlalu panas.

Baik. Ini malam yang baik. Ditambah russian black forest sebagai menu penutup. Cukup sempurna untuk menutup hari yang melelahkan. Terbuat dari adonan cake biasa hanya ditambah rum, vodka, dan beberapa campuran alkohol lainnya, kupikir aku suka menu penutup seperti ini. Seharusnya, minuman yang kupesan bukan lime juice melainkan wineRed wine. Tapi sudah jelas, harganya terlalu mahal untuk ukuran dompetku—ya, dompet, pada akhirnya aku memiliki dompet, pemberian isteriku. Sebagaimana aku merasa bahwa aku tidak layak mengeluh dengan apa yang bisa kudapat, rasanya tanpa wine sekalipun, makanan yang tersedia di mejaku sudah jauh lebih baik daripada apapun.

Di meja lain yang berjarak sekitar 10 meter dariku, tiga orang tertawa-tawa ringan. Tidak terlalu keras, tidak terlalu menggangguku. Penyusunan tempat makan ini baik, mereka memisahkan antar meja dengan jarak yang cukup jauh, jadi tiap meja akan mendapat privasinya sendiri. Cocok. Karena aku sendirian kali ini dan sepertinya aku memang sedang ingin menyendiri.

Langit cerah. Langit malam kali ini benar benar cerah.

Sesuatu yang seharusnya kubagi. Karena beberapa hal hanya akan semakin bermakna saat ia dibagi. Seperti momen kali ini.

Mendadak aku merindu kawanku. Seorang kawan yang semenjak akhir tahun lalu selalu menjadi bagian aktif dari aktivitas ponselku. Ia yang ada di setiap aku bangun pagi. Ia yang selalu berbincang tentang apapun dan entah apa, yang serius hingga yang dungu. Ia yang selalu kubagi perjalanan hidup harianku, sebagaimana ia juga membagi perjalanan hidup hariannya.

Kali ini ia pergi ke Hong Kong, satu minggu saja. Blur mengadakan konser di sana dan ia tak hendak tertinggal konser tersebut. Sekalian berjalan-jalan tentunya. Satu minggu saja. Hanya satu minggu.

Tetapi entah mengapa, waktu berjalan begitu lambat.

Tidak seperti biasanya, di mana aku melibatkan affair cinta dengan perempuan-perempuan yang dekat denganku, kali ini aku merasa begitu nyaman dengannya sebagaimana relasi kami sekarang adanya. Tidak lebih, tidak kurang. Karena dengan keberadaannya aku merasa tak membutuhkan kekasih. Relasi perkawanan seperti ini rasanya jauh lebih baik. Dan terus terang aku kehilangan dirinya. Aku merindukannya.

Setidaknya untuk sekedar berbagi cerita, tentang cuaca Bali, yang mana kali ini tidak sepanas seperti saat terakhir aku kemari.





Tentang Dunia Kontemporer: Foto-Diri Digital

28 04 2013

“But beneath the surface of the digital self-portrait there is no ego, no being, to discover, only a deception, a learned expression, a demand, and a deep valley of meaninglessness.” 

A Narcissistic Product of Modern Pop-Egomania

Mabuk membuatku melakukan hal-hal yang kadang tak terpikirkan. Sedikit mabuk kemarin malam sudah mampu membuat aku mengintip halaman-halaman akun Facebook kawan-kawanku. Sudah lama aku tidak melakukannya, selain kadang hanya mengomentari foto ajaib kawan atau mengikuti Facebook page dari film-film yang kusuka. Tak ada yang berubah. Mayoritas masih gemar memotret dirinya sendiri. Tak ada yang berubah.

Apakah engkau pernah bertanya pada dirimu sendiri, tentang mengapa engkau suka melakukan hal ini: memotret diri sendiri, lagi dan lagi? Mengapa engkau ingin menangkap setiap situasi, setiap momen, setiap sensasi? Untuk membuatnya abadi kah? Apakah karena engkau kecanduan tampilan dirimu sendiri, kecanduan eksistensimu sendiri? Ataukah karena alam bawah sadarmu sesungguhnya sadar bahwa apa yang engkau lihat adalah sumber kegelisahan—karena engkau tak pernah yakin akan eksistensi dirimu sendiri kecuali seseorang melihat, seseorang merespon, yang karenanya hal-hal tersebut membuktikan bahwa engkau ada?

“The subject was not feasible as an individual self-consciousness [sic] without its dialectical counterpart (general public),” kata Hegel. Dengan kata lain, tak akan pernah ada subyek tanpa pengamat. Sebagai individupun, engkau tak akan eksis hingga eksistensimu dikonfirmasikan oleh individu lainnya.

Entahlah. Mungkin aku berpikir seperti ini hanya karena ada genangan alkohol dalam tubuhku.





Amayadori: Segala Sesuatu Hanya Eksis dalam Temporaritasnya Masing-Masing

24 04 2013

Ia berdiri di sampingku, menumpukan berat badannya padaku sebagaimana ia menatap, menerawang tepatnya, ke arah lanskap sinar lampu jalanan dan gedung-gedung di waktu malam. Sayangnya tempat kami berdiri tidak terlalu tinggi. Mungkin akan jauh berbeda apabila tempat kami berdiri adalah gedung setinggi 110 lantai dari proyek mercusuar milik Tommy Winata yang belum rampung saat ini. Tapi tak apa, bersamanya saat ini di atap yang tak terlalu tinggi, jauh lebih baik dibandingkan urusan lain yang hanya memberi penat di tengah jadwal kerja yang padat.

—Maukah engkau menyimpan rahasiaku?

Bisiknya seraya tetap menerawang ke depan.

Tentu, ujarku pelan, tapi tanpa keraguan.

—Rahasia tergelapku?

Yang terkelam sekalipun, tegasku.

—Berdirilah di belakangku.

Aku selalu menurutinya, seperti juga yang lantas kulakukan. Aku berdiri di belakangnya, di mana kedua tangannya menggapai ke belakang dan meraih kedua tanganku. Menariknya hingga rapat di sisinya, melalui pinggangnya, tepat di bawah payudaranya.

—Peluk aku.

Bisiknya seraya kedua tangannya menutupi kedua tanganku. Menggenggam telapak tanganku, jemarinya diselipkan di antara jemariku.

—Aku tidak ingin engkau pergi. Tidak sekarang.

Aku ada di sini. Bisikku pelan. Mungkin nyaris tak terdengar.

—Aku akan memberitahumu sesuatu, tetapi engkau tak dapat memberitahukannya pada siapapun juga. Engkau sudah berjanji tadi.

Aku mengangguk.

—Dan aku hanya memberitahumu karena…

Agak lama ia terdiam.

—aku mungkin meminum bir terlalu banyak tadi.

Aku hanya diam.

—Aku harus memberitahumu.

Aku berdehem pelan.

Ia ragu untuk beberapa saat. Aku merasakan jemarinya bergerak maju mundur di atas punggung tanganku; aku berasumsi bahwa ia sedang berpikir tentang apa yang akan ia katakan atau bagaimana mengatakannya.

—Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu.

Mungkin memang karena ia kebanyakan minum bir sehingga ia agak kesulitan berdiri dengan stabil, tetapi aku sekaligus merasakan secara ekstrim bahwa tubuhnya menyandar sepenuhnya padaku.

Mau duduk saja? Tanyaku.

—Tidak. Aku suka seperti ini.

Ia mengatupkan kedua lengannya semakin rapat pada tubuhnya. Dengan tanpa bra yang menopang kedua payudaranya, aku dapat merasakan berat masing-masingnya, bentuk membulatnya sebagaimana ia menarik dan mengeluarkan nafas.

Saat ini aku mulai kesulitan untuk berkonsentrasi pada perbincangan kami. Aku sadar ia sedikit mabuk dan ia mungkin malah tidak berniat berdiri lengket denganku, yang tentu juga tak sadar bahwa kedua tangannya menggerakkan tanganku di bawah payudaranya.

Aku berada dalam bahaya. Bahwa aku akan mengalami ereksi tak lama lagi.

—Apa yang kau suka dari seorang perempuan?

Apapun yang tak kumiliki sebagai seorang lelaki, jawabku. Ia tertawa pendek dan perlahan.

—Dan perempuan juga yang bisa mengubah hidupmu, mematahkan hatimu.

Aku tak tahu apakah ia mengajukan pertanyaan ataukah malah memberikan pernyataan.

Aku memeluknya lebih erat.

Di depan kami, lanskap kota masih terhampar seperti pertama kali tadi kami menjejakkan kaki di sini, di atap rumah ini.

—Dan tubuh perempuan tentu saja.

Aku tertawa pelan.

—Termasuk tubuhku?

Aku tertawa lagi. Ia juga tertawa. Tapi ada sebuah nada kecemasan dalam tawanya kali ini. Seakan khawatir akan jawaban yang mungkin muncul. Aku dapat memakluminya, tubuhnya berlemak. Bisa dibilang gemuk malah. Ia tak pernah percaya bahwa kekasih lamaku, sekitar 15 tahun lalu, memiliki tubuh yang jauh lebih gemuk darinya dan aku tak memiliki masalah dengan hal tersebut.

Perlahan ia menggerakkan kedua tanganku ke perutnya.

—Seperti ini tubuhku.

Lalu di mana masalahnya, tanyaku pelan.

Aku menggerakkan kedua tanganku ke atas, menuju payudaranya. Kedua tangannya yang sedari tadi menunggangi tanganku tetap melekat pada tempatnya.

Tanganku berhenti tepat di kedua payudaranya. Aku menunggu reaksinya.

Satu detik. Dua detik. Waktu terasa berjalan amat lambat. Dunia di sekelilingku tak mengeluarkan bunyi apapun, seakan ada malaikat—atau setan—menekan tombol mute untuk mendramatisir suasana. Hening. Benar-benar hening. Selain bunyi detik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku dan juga di pergelangan tangan kanannya.

Hingga entah detik keberapa, ia mulai menggerakkan kedua tanganku membentuk lingkaran di atas payudaranya. Aku membiarkannya sebagaimana kedua telapak tanganku merasakan putting payudaranya mulai mengeras di balik kaos katunnya yang tipis dan lembut.

Dan aku juga sudah tidak menghitung jumlah detik kala kedua tangannya melepaskan tanganku, sementara aku masih tetap memijat dan meremas pelan kedua payudaranya, dalam irama yang ritmis. Ia menyandarkan tubuhnya padaku dan aku memundurkan kaki kananku sedikit ke belakang untuk menopang berat tubuhnya dengan lebih baik. Bersamaan dengan saat ia sandarkan tubuhnya, ia mendorong pinggulnya tepat ke depan celanaku.

—Ia bangun! Ia sudah kembali!

Serunya mendadak diiringi tawa penuh canda. Seakan adalah sesuatu yang ajaib apabila yang kami lakukan memberi efek tegang pada penisku.

Aku tertawa juga. Menyambung tawanya. Dengan penis yang menggembungkan bagian depan celanaku.

Memang, dalam masa-masa terakhir ini penisku nyaris sulit tegang—selain saat bangun pagi—karena kondisi psikologisku dalam keadaan yang buruk. Setiap kali aku hendak melakukan hubungan seksual, setegang apapun penisku pada awalnya, akan segera melembek begitu dalam kepalaku berkecamuk berbagai beban pikiran, termasuk patah hatiku. Seperti impotensi temporer. Stress, kelelahan akibat jadwal kerjaku yang terlalu padat belakangan ini, juga memberikan nilai lebih pada persoalan kemampuan kerja penisku.

Dan kini penisku telah kembali berfungsi dengan baik. Ia telah kembali.

Kami saling melepaskan pelukan dan genggaman. Ia menatapku dengan wajah yang riang, dengan sorot mata yang seakan menyedot jutaan bintang. Seakan, tulisku barusan. Karena bintang yang sesungguhnya tetap ada di atas sana. Menatap kami berdua, memberitahukan bahwa hidup ini demikian sederhana. Sesederhana seks, yang demikian temporer, di mana ada awalan, pembangunan klimaks dan akhir. Sesederhana sebuah kecupan ringan, yang ia berikan pada bibirku. Kecupan yang disusul dengan kecupan lain dan lainnya dan lainnya, hingga berakhir dalam sebuah ciuman basah dan panjang. Di bawah kilapan bintang-bintang.





Semakin Banyak Dunia Berubah, Semakin Banyak Hal yang Tetap Sama

14 04 2013

We’re flying high
We’re watching the world pass us by
Never want to come down
Never want to put my feet back down
On the ground

—Depeche Mode, Never Let Me Down Again

Awan siang di langit yang cerah ini tampak membentuk sebuah mobil sedan dalam bentuk yang aneh dan berantakan.

—Minumannya?

Aku menoleh. Pramugari ini sedang menjajakan minuman dalam kotak beroda yang entah apa namanya. Aku melirik sepintas pada beberapa jenis minuman yang tertata di atas kotak.

Teh sosro saja, pintaku.

Sang pramugari memberikan sebotol Teh Sosro dalam kemasan botol plastik seraya menyebutkan harganya. Harga yang bisa dibilang kurang ajar memang, karena jauh, amat jauh, lebih tinggi dari harga ecerannya.

Saat aku merogoh sakuku untuk mengeluarkan uang. Lelaki kaukasian yang duduk di sebelahku membuka mulut.

—Bir Bintang, satu yang dingin ya.

Bahasa Indonesianya bagus. Ia pasti sudah tinggal cukup lama di Indonesia.

Sang pramugari menelengkan kepala. Menatapnya ramah, lantas sambil mengangguk tipis berkata sopan.

—Kami tidak menyediakan minuman beralkohol.

Sang kaukasian mengernyit, lalu mengangkat bahu.

Lampu tanda sabuk pengaman dipasang menyala diiringi bunyi bel dan sebuah suara perempuan yang terdengar seperti dikatakan sambil menutup hidung mengatakan bahwa para penumpang diharapkan mengenakan sabuk pengaman karena cuaca mendadak memburuk.

—Kita akan jatuh ke laut lagi. Kamu bisa berenang?

Aku menoleh, memandang sang kaukasian. Pikirku ia pasti sedang mencoba berkelakar tentang pesawat Lion yang jatuh ke laut kemarin.

Bisa, jawabku.

Ia terkekeh, lantas memandang keluar jendela. Tak berkata apa-apa lagi.

Aku melirik kamera di tangan kirinya. Canon DSLR. Entah tipe berapa. Mungkin ia fotografer, atau, entahlah. Aku juga tak bisa menebak profesi seseorang hanya karena ia sekedar menenteng kamera DSLR. Dari warna kulit sang kaukasian yang agak gelap terbakar matahari secara tidak merata, aku menebak bahwa ia pasti sering berada di bawah terik matahari, tetapi bukan peselancar ataupun mereka yang baring-baring di pantai menjemur diri seperti layaknya turis-turis lain di Bali. Mengenakan kaos longgar, warna gelap tak merata, seperti kataku tadi, tampak jelas terutama di bagian lengan atas yang artinya ia terbakar matahari kala mengenakan pakaian. Jelas itu bukan akibat berselancar ataupun berjemur. Pekerjaannya mungkin. Dan ia bukan turis. Aku tidak suka turis.

Ia masih menatap keluar jendela, kala tiba-tiba ia berucap pendek. Tanpa emosi dan tanpa penekanan apapun.

—Ini negaramu.

Tempat aku lahir, tepatnya, ujarku.

Ia hanya tersenyum, sambil mengatur arlojinya. Bali satu jam lebih cepat dibandingkan Jakarta.

—Negara yang mengingatkan saya pada Meksiko.

Kenapa, tanyaku.

—Polisi dan tentaranya. Kamu dengar soal tentara yang menembak empat orang di penjara Yogyakarta? Itu seperti Meksiko.

Di daratan di bawah kami, aturan mainnya sesungguhnya tetap sama dan tak berubah dari era Orde Baru hingga era kini. Sekarang atau sebelumnya. Di bawah sana, seperti juga yang dikisahkan oleh seorang kawanku, bagaimana di kantornya hadir perdebatan bahwa apa yang dilakukan oleh para Kopassus tersebut adalah tindakan ksatria atau tidak. Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan istilah tindakan ksatria dalam kasus tersebut. Sungguh, aku tidak paham. Para eksekutor itu hanya membalaskan kematian kawannya, seperti juga yang pasti akan dilakukan oleh banyak orang lainnya. Di mataku, mereka bukan ksatria melainkan orang biasa. Seperti juga keempat orang yang dieksekusi oleh mereka. Semuanya hanya orang biasa, yang bisa marah dan pada titik tertentu mampu membunuh. Kalau mereka menggunakan taktik militer dalam melancarkan aksinya, itu karena memang mereka menguasai taktik tersebut. Pendeknya, mereka melakukan hal itu karena mereka memang bisa.

Aku tidak melihat pembeda dan alasan mengapa para anggota Kopassus tersebut jadi dianggap ksatria atau malah dikutuk sedemikian rupa. Komentar yang dilontarkan banyak orang didasari urusan politik, seperti biasa, mungkin. Aku muak dengan urusan politik.

Tapi dari sekian banyak hal yang berputar dalam benakku, aku tidak berkomentar sepatahkatapun pada sang kaukasian.

—Ini negaramu.

Baiklah, jawabku singkat.

—Kamu tidak ingin buat sesuatu untuk perbaiki semuanya?

Aku hanya tersenyum.

Sang kaukasian menghela nafas, tapi tak berkata apa-apa lagi. Aku merendahkan sandaran kursi dan menutup mata.





Kupu-Kupu Itu Telah Terbang

9 04 2013

Malam ini, aku hanya butuh alkohol.

Karena aku sedang berpikir keras dengan hati.

Apa yang akan engkau lakukan apabila engkau jatuh cinta pada seseorang tetapi tanpa sadar apa yang engkau lakukan hanyalah mendorong seseorang tersebut jauh hingga ke titik batas sehingga ia memutuskan untuk meninggalkanmu?

Akankah engkau hancur berantakan? Apakah engkau akan berusaha mendapatkannya kembali, walaupun tahu bahwa semua terjadi karena kesalahanmu sendiri?

Atau dapatkah engkau menjalani sisa hidupmu menyadari bahwa engkau mencintainya sepenuh hatimu tetapi engkau juga tahu bahwa apa yang telah terjadi telah terjadi dan tak dapat diperbaiki? Dapatkah engkau memaafkan dirimu sendiri, karena hal tersulit daripada memaafkan orang lain adalah memaafkan dirimu sendiri?

Apa yang akan engkau lakukan?

Kalau aku? Aku tidak tahu, selain hanya mengutuki diriku sendiri karena seseorang tersebut pergi, aku ingin merengkuhnya kembali, tetapi aku berpikir bahwa, akankah kami bisa kembali berbahagia seperti dulu? Pertanyaan bodoh memang, karena mungkin saja dulu yang berbahagia hanya diriku dan tidak dirinya. Bukankah ia pergi meninggalkanku justru karena ia tidak berbahagia denganku?

Dan aku tahu, beberapa luka tak pernah tercipta untuk dapat mengering. Aku juga belajar satu hal: cinta memang tak akan pernah mati, tetapi ia dapat pergi saat kuperlakukan setengah hati.

Itu sebabnya aku pasti memilih meraih botol minuman saja, karena siapapun pasti tahu, minum membantu untuk lupa. Walaupun terkadang juga berarti lupa diri.

Seperti kubilang tadi, malam ini, aku hanya butuh alkohol. Karena aku dirundung rindu. Dan kala rinduku tak dapat bersambut dengan ia yang kucinta, maka aku merindu kawan dekatku, yang dengan alkohol, selalu bersedia menemaniku…





Jakarta 101: Dunia yang Dilihat Melalui Lensa Kanta

3 04 2013

Seorang kenalan dari Inggris datang dan berkeliling Jakarta selama dua bulan. Seorang sosiolog. Seorang yang juga ramah walaupun tak mampu berbahasa Indonesia. Seorang yang rendah hati dan sopan. Berkelana berkeliling di Jakarta, adalah salah satu cara ia mengenal Jakarta, baik kehidupan maupun suasananya. Tidak cukup memang untuk dapat mengenal kehidupan sebuah kota hanya dalam waktu dua bulan saja, tetapi setidaknya, ada sebuah impresi menarik yang ia dapatkan.

Aku bertanya, apa yang ia tangkap tentang Jakarta. Lama ia tak menjawab, sebelum pada akhirnya ia berkata dalam satu kalimat.

Jarang orang miskin di Jakarta, komentarnya, orang miskin banyak di Afrika, tapi di sini, yang banyak adalah orang-orang yang tidak punya uang.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 46 other followers