“Chang.”
Aku mengangkat alisku.
“Vietnam. You know the place right?”
Aku mengangguk.
—Sejarah negerimu selalu diulang-ulang di banyak film, bagaimana bisa aku tidak tahu. Ujarku dalam bahasa Inggris.
Ia tertawa. Aku memperhatikan wajahnya dari jarak yang cukup dekat. Aku berpikir keras, siapa yang mirip dengan wajah perempuan Vietnam ini. Tapi otakku bermain-main denganku, ia tak mau menjawab, padahal mataku merasa mengenali wajahnya.
Ia kembali menghisap rokoknya, seraya wajahnya menatap ke arah panggung.
Di atas panggung, perempuan berdada besar dan berpenampilan minim itu masih bernyanyi seraya menggoyangkan tubuhnya. Meliuk-liuk. Berusaha membelai hasrat seksual para tamu yang datang, sepertinya. Di meja depanku, seorang lelaki Kaukasian memegang bahu seorang perempuan yang sedang memeluk seorang lelaki lain di hadapannya. Sang Kaukasian seraya tertawa-tawa, melakukan gerakan seperti sedang melakukan doggy style. Irama dorongan badannya mengikuti irama musik yang dilantunkan memenuhi ruangan dengan volume tinggi. Orang-orang di sekitar tak ada yang peduli. Sebagian sibuk memerhatikan sang penyanyi. Sebagian lain terlalu mabuk untuk dapat beranjak. Sebagian lagi sibuk berpelukan.
Aku meneguk botol Heineken di tanganku beberapa kali. Lantas aku menatap perempuan yang berdiri bersandar pada meja tinggi di sebelahku. Want some?
Ia tersenyum sambil mengangguk.
Aku melambaikan tangan kala seorang pelayan memandang ke arah kami. Tangan kananku mengangkat botol bir seraya kuacungkan telunjuk tangan kiriku.
Tak sampai satu menit sang pelayan datang sambil menyodorkan botol bir yang sama. Botol yang lantas kuberikan pada sang perempuan.
Ia meneguknya dua kali. Aku memperhatikannya kala ia meneguk bir. Tenggorokannya yang bergerak kala meneguk. Ia menurunkan botolnya dan menatapku seraya menghisap dalam rokoknya. Aku mengalihkan pandangan, kembali memperhatikan sang lelaki Kaukasian. Goyangan pinggulnya berhenti. Kini kedua tangannya yang sibuk meremas-remas buah dada sang perempuan. Sementara sang perempuan melakukan french kiss dengan lelaki di hadapannya. Tapi saat pandanganku menatap mereka, pikiranku mengembara. Berpikir keras soal siapa yang mirip dengan perempuan di sebelahku ini.
Mendadak ada hembusan asap rokok dari sebelahku.
Perlahan aku menoleh. Sang perempuan Vietnam. Ia menatapku lekat, sambil menarik sudut bibir kirinya membentuk senyuman yang menurutku tampak sedikit sinis.
“Wanna do that with me?”
Aku hanya mengangkat bahu, lantas kembali meneguk birku sambil kembali mengarahkan pandanganku ke depan. Chang mendekatiku dan tangan kirinya mulai merangkulku dan membelai punggungku. Aku tetap tidak bergeming. Pikiranku masih sibuk berusaha mengingat. Bintang film. Bukan penyanyi. Aktris Hollywood. Tapi aku tak mampu mengingat siapapun.
Aku tidak sedang jual mahal, Chang menurutku cantik. Tapi aku memang tidak terbiasa melakukannya dengan orang-orang yang tidak kukenal. Dengan mereka yang kukenal saja, aku biasanya tidak langsung mampu melakukan hubungan seksual. Bila tetap kupaksakan, biasanya penisku tidak akan berfungsi. Ia tetap terkulai lemas. Harus dilakukan blowjob dulu sekian lama, baru ia tegak dan keras. Tapi itupun tak bertahan lama, karena begitu penisku hendak melakukan penetrasi, maka ia akan lemas kembali. Maka harus dilakukan blowjob ulang. Saat akan melakukan penetrasi kembali lemas. Blowjob lagi. Dan begitu seterusnya hingga biasanya sang perempuan akan bosan. Aku melakukan hubungan seks dengan baik hanya apabila aku mampu merasa nyaman dengan sang perempuan. Aku harus mengenalnya dengan cukup baik, atau segalanya berantakan. Satu kata salah terucap, maka penisku dapat kembali lunglai. Aku sadar perilaku penisku tersebut, itu karenanya aku tidak tertarik menanggapi ajakan Chang.
Selain itu, pikiranku sedang sibuk menggali laci-laci tempat ingatanku disimpan.
Tak lama Chang telah menempel ketat punggungku. Tangan kanannya merabai penisku. Membuka retsleting celanaku dan dengan segera menyusup ke dalamnya, berusaha meraih ke dalam.
Aku tetap membiarkannya. Aku tetap menatap ke depan seraya meneguk bir.
Penisku mulai mengeras. Tangannya terus membelai penisku yang masih tertutup celana dalam.
“Let’s put it in mine,” bisiknya di telingaku. Ada hembusan hangat nafasnya. “Just take me to your place.”
—I’m staying at my friend’s house. Sorry.
“There’s a hotel in front of this club.”
—I don’t have any money.
Mendadak tangannya berhenti mengusap penisku yang telah amat keras. Ia juga segera menjauhkan tubuhnya sedikit. Menyandar di sebelahku seraya menatapku tepat di mata.
“What? I’m working here, you know.”
Aku menjelaskan padanya, bahwa aku tahu, dan lantas kuceritakan alasan mengapa aku tidak berminat padanya. Bukan soal fisik, tegasku, melainkan karena aku paham betul perilaku penisku yang memang tidak bisa diatur. Ia tertawa-tawa mendengar penuturanku, terutama saat kukisahkan bahwa aku pernah beberapa kali mencoba dengan seorang yang baru saja kukenal, dan tak berhasil, selain malah menghasilkan anggapan bahwa aku setengah impoten.
—If Paulo Coelho said eleven minutes, I said twenty minutes is minimal. Thirty is okay. But only with the right woman. Otherwise, yes, I’m impotent.
Perempuan ini tertawa-tawa sambil menyalakan rokoknya kembali. Ia bersandar di meja dan tangan kanannya kembali mengusap-usap penisku yang belum juga kututup retsleting celananya. Tapi kini dengan tangan kiri memegang rokok atau kadang memegang botol bir.
Kami mulai saling berbagi kisah. Tertawa-tawa ringan. Matanya yang sipit semakin sipit setiap kali ia tertawa. Perempuan ini berbeda dengan para pelacur lain di klab malam ini. Saat pelacur lain berlomba-lomba mengenakan pakaian minim dan terang-terangan mengundang, Chang justru mengenakan kemeja berwarna lengan panjang putih polos yang ia gabungkan dengan celana denim biru dan stilleto hitam. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai, menutupi kalung yang menggantung di leher serta menjuntai manis di dadanya yang tak terlalu besar. Ia lebih mirip seorang karyawan kantoran, hanya lebih sederhana saja. Beri ia iPad dan ponsel Blackberry di genggamannya, ganti tas tangannya dengan tas kulit yang agak besar, sangkutkan di bahunya, maka ia tak akan bisa dibedakan dengan karyawan kantoran di Jakarta.
Aku masih membiarkan tangannya yang terus membelai penisku seraya pikiranku masih belum berhasil menemukan jawaban, kala mendadak seseorang menepuk bahuku, mengagetkanku. Aku menoleh dan berbalik. Dengan tangan Chang masih di celanaku.
Manager dari perusahaan yang menjadi partner kerjaku di sini.
“Oooh. Hmmm,” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Wajahnya tak bisa menyembunyikan kekagetannya. Aku hanya meringis. Tak lama ia juga meringis, menyeringai tepatnya, dan sorot matanya mulai berubah. “Hmmm.”
Ekspresi wajah yang menyebalkan. Pikirku.
Aku melepaskan tangan Chang. Mengecup pipinya seraya kubenahi retsletingku. Kusambar jaket kulitku yang sedari tadi kubiarkan tergeletak di meja dan kutandaskan botol birku.
Sang manager mendekatiku lantas berbisik: Maggie Q.
Aku terperangah sejenak. Akhirnya! Akhirnya aku mendapatkan jawabannya. Aku menyeringai. Akhirnya aku tahu. Ya. Aku tahu.
Kini aku dapat tidur nyenyak sepulang dari klab malam ini.
