“Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we live, what is happening.”
—Coco Chanel
Satu malam, di tengah kesibukan pekerjaanku yang rasanya tak kunjung selesai, pikiranku melayang kemana-mana. Ke masa lalu. Selalu ke masa lalu. Tapi tidak. Kali ini bukan pada seorang perempuan atau siapapun juga. Kali ini aku teringat pada sepatu kesayanganku dulu yang entah bagaimana nasibnya setelah dipinjam oleh salah seorang kawanku—Converse Chuck Taylor Black and Red Special Edition. Sepatu yang kini tak lagi diproduksi, rasanya tak mungkin ada lagi yang menjualnya walaupun di pasar loak, kecuali aku memiliki mesin waktu atau mobil DMC Delorean karya Dr. Emmet “Doc” Brown yang bisa membawaku ke masa lalu.
Mungkin beberapa orang akan berkata bahwa sepatu pada akhirnya akan berfungsi tak berbeda dengan sepatu lainnya. Sepatu eksis hanya dalam nilai fungsinya, yaitu digunakan untuk melindungi kaki. Selesai. Di luar itu, tak ada lagi nilai penting yang bisa digali dari sepasang sepatu. Itu juga yang pada satu hari diutarakan oleh seorang kawanku kala beberapa saat lalu aku bersikeras ingin mendapatkan topi jenis tertentu yang bukan kebetulan memang sulit didapatkan di Jakarta. “Model dan jenis pakaian itu tak penting. Pakaian adalah pakaian untuk digunakan, tak lebih,” ujarnya kala tersebut.
Tak penting, katanya. Tak penting?
Sebentar.
Aku bukan kritikus ataupun desainer adi-busana, tapi memang tidak butuh untuk jadi ahli kalau sekedar untuk paham bahwa pilihan busana, atau busana itu sendiri, juga secara tak langsung mengirimkan pesan. Isi pesan tersebutlah yang semakin kemari semakin menjadi komponen penting dari bentuk dan gerak sosial masyarakat, dari kultur. Dan ada beberapa alasan mengapa hal itu seperti demikian.
Pertama, busana membantu mendefinisikan serta membentuk kultur popular, yang pada gilirannya, menyetir kultur-kultur dalam ruang lingkup yang lebih besar. Pasca naik daunnya film Ada Apa Dengan Cinta, gadis-gadis SLTA mengenakan kaos kaki tinggi dan mulai berlomba memanjangkan rambut agar mirip dengan Cinta yang diperankan Dian Sastro. Dari awal memang tidak bisa dipungkiri bahwa televisi dan film menyebarkan trend busana, hanya semakin kemari media tersebut semakin menguatkan pijakannya dalam soalan memberi pengaruh pada trend busana.
Dalam pola yang sama, industri musik dan busana juga semakin berhubungan dekat. Majalah-majalah musik—Rolling Stone, Spin, Vibe, untuk menyebut beberapanya—seringkali menampilkan lembar busananya sendiri, biasanya dengan mengaitkannya dengan profil musisi-musisi yang amat peduli penampilan. Pada 1986 Council of Fashion Designers of America memberikan penghargaan khusus pada MTV karena perannya yang amat berpengaruh pada soalan trend busana. Produsen-produsen busana berlomba menjadi sponsor utama bagi pilihan busana yang digunakan untuk tampil oleh para musisi di atas panggung.
Dan tak hanya film dan musik, tentu saja, karena toh pada dasarnya semua trend kultural selalu memiliki komponen busana; seseorang tak akan dapat mengadopsi sebuah peran kultural tanpa melihat bagian integralnya. Engkau tak akan dapat menjadi seorang punk tanpa memahami dan terutama mengenakan pakem busana punk.
Kedua, perhatikan bagaimana semakin maraknya selebriti dalam dunia adi-busana yang awalnya berkutat dan membatasi diri dalam ranah industri busana juga mulai merambah ranah politik. Sebelum era 60-an, sepertinya sulit membayangkan seorang model diundang sebagai pembicara di panggung politik; dewasa ini model bisa diminta untuk membicarakan apapun, dari soalan hubungan internasional—sebagaimana yang dilakukan oleh Iman, isteri David Bowie, yang berbicara soal perbudakan di Sudan—hingga menjadi juru bicara dari sebuah kampanye kesehatan seperti yang dilakukan oleh Lauren Hutton dengan terapi hormonnya. Atau contoh yang lain, saat di tahun 1998 di mana Naomi Campbell dan Kate Moss selesai melakukan sesi pemotretan di Havana, mereka berdua melayangkan pesan kepada Castro untuk berjumpa. Castro lantas menemui mereka berdua dan berbincang selama 90 menit penuh—setengah jam lebih lama daripada waktu yang ia berikan untuk Paus. Bahkan pemimpin Kuba tersebut memerlihatkan bahwa dirinya cukup aktif dalam memerhatikan trend adi-busana, memberikan selamat kepada Moss karena telah memulai ‘revolusi’ dalam dunia model.
Faktor ketiga, trend busana memengaruhi secara resiprokal dalam merefleksikan trend sejarah. “Fashion is a mirror of history,” ujar Louis IV. Benar. Hak pilih bagi perempuan di Amerika Serikat, berbarengan dengan naik daunnya trend di kalangan perempuan di mana perempuan mulai mengenakan celana, rok yang lebih mini, pakaian longgar dan rambut model bob. Busana berakselerasi dengan gerak sejarah—bukan hanya sekedar berarti busana pilihan tersebut membuat perempuan untuk dapat bergerak lebih lincah dan cepat. Pengadopsian busana tertentu menjadi salah satu indikasi gerak sosial, bahkan juga pernyataan filosofis. Coba perhatikan bagaimana F. Scott Fitzgerald mencantumkan salah satu cerita pendek terkenalnya “Bernice Bobs Her Hair” dalam sebuah buku berjudul Flappers and Philosophers.
Pada akhirnya, dan yang paling penting, pernyataan tegas dari pilihan berbusana menjadi signifikan karena busana mendefinisikan apa yang diyakini oleh individu maupun sosial. Apa yang kita—atau oleh sosial—dianggap atraktif dan gaya bukanlah sesuatu yang remeh temeh lagi, karena ia merefleksikan secara signifikan apa yang kita anggap berharga, apa yang kita anggap indah, bagaimana kita harap kita tampilkan dan hadirkan. Dan pada akhirnya, busana menyatakan sebuah undangan pada sebuah perbincangan—sesuatu yang setidaknya mau tidak mau dianggap sebagai sesuatu yang serius.
Tidakkah pertanyaan “Apa artinya indah?” adalah sebuah pertanyaan esensial? Karena hal itu memang sama sekali tidak berkaitan dengan bagaimana caranya bertahan hidup—seperti makan, minum, bernafas—tetapi ia berkaitan erat dengan persoalan mengapa kita mengingini hidup.
Mereka yang menganggap semua hal tersebut tak penting, karenanya mungkin juga tak akan paham bagaimana bagiku bentuk presisi topi army cap amat penting dan karenanya aku rela bersusah payah mencari ke setiap penjuru hanya demi kepresisiannya tersebut, bagaimana aku berburu jaket parka dengan tipe yang juga harus tepat, bagaimana aku bertanya kesana kemari demi mendapatkan sepatu Dr. Martens 3 lubang. Serta mengapa aku lebih memilih produk-produk tersebut walaupun bekas dan berada di pasar loak dibandingkan baru tetapi bukan yang benar-benar tepat.

Recent Responses