Dunia Spektakular: Ironi Politik dan Anti-Politik

22 04 2014

Two anarchists are hiding behind a dumpster, manufacturing molotov cocktails. One anarchist turns to the other and says: “What exactly are we going to target with these mollies?” The second anarchist retorts: “What are you, some kind of intelectual?”

—G.A. Mathias, Right-of-Center Sellouts

Rasanya tak perlu ditegaskan lagi, politik itu menyebalkan.

Aku tahu, definisi politik saat ini jauh lebih kompleks dari sekedar definisi politik gaya Athena yang berasal dari kata polis. Tapi aku tidak ingin menyalahkan kemenjadian politik seperti politik yang dikenal saat ini yang melulu berorientasikan kekuasaan dan bermotifkan ekonomi dengan amat kental. Karena kalau toh politik jadi seperti sekarang ini, bukankah memang ini perkembangannya?

Aku tidak kenal betul seperti apa politik dalam definisi Athena sesungguhnya, karena sepengetahuanku mereka yang sibuk berpolitik di Athena juga adalah para tuan-tuan tanah dan pemilik budak, yang karenanya sepertinya hanya versi lebih antik dari bentuk politik era kontemporer. Dan untuk memahaminya, tentu harus dibahas sesuai konteks pada jamannya. Lebih jauhnya lagi, karena konteksnya amat berbeda dengan masa kini, maka menurutku sudah lupakan saja definisi politik di era Athena.

Singkatnya, politik yang kukenal adalah bentuk politik seperti saat ini. Dan sekali lagi kukatakan, politik itu menyebalkan.

Tapi lantas apa? Saat aku tidak menyukai bentuk politik kontemporer, apapun variannya, apakah lantas sebaiknya aku memilih sikap untuk merengkuh kubu yang anti terhadap politik kontemporer saat ini?

Aku ragu. Karena kubu ini ironisnya seperti berikut: mereka yang saat muda mengaku anti-politik pada gilirannya juga menjadi politikus baru—tentu saja dengan mengambil esensi politik yang sama seperti yang sebelumnya, alias tidak ada bedanya. Perhatikan saja mahasiswa-mahasiswa yang lantang bersuara era 60-an, elit-elit Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang awalnya sedemikian radikal di era Suharto—yang kini selalu mengandalkan lelucon “Kami melakukan ini, mengorbankan diri, demi mendekatkan rakyat pada revolusi” yang makin usang atas pembenaran perilaku mereka saat ini—dan tentu saja, tak terkecuali sebagian dari mereka yang mengaku anti-otoritarian dalam variannya sendiri, menolak partai politik tapi melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan partai, minus urusan legalitas saja.

Coba pikirkan, kalau engkau mengadopsi gaya pengorganisiran partai politik, sekalipun tanpa mengusung nama partai politik, bukankah artinya engkau tak berbeda dengan partai politik?

Itu baru anti-otoritarian dalam varian yang masih lekat aroma politiknya.

Kini mari kita melihat pada mereka yang mana pengikutnya banyak menyatakan diri anti-politik: gerombolan para primitivis, anti-teknologi dan insureksioner—yang sengaja kupisahkan dari kubu anarkis karena mereka di kubu ini menyatakan bahwa para anarkis masa kini telah terlalu terkungkung dalam ideologi anarkisme dan terlalu politis.

Primitivis yang kusebut di sini adalah mereka dalam artian para pengikut ide-ide John Zerzan, deep-ecology-nya Arnae Næss dan beberapa kecenderungan anti-peradaban lainnya. Di dalam kubu ini, hal yang paling umum adalah eksisnya sentimen misantropi dan nihilisme; tak ada masalah bagiku, hanya saja, selalu mereka tak bisa menjawab saat dibawa ke dalam diskusi soal hadirnya pemusnahan manusia secara massal sebagai konsekwensi logis dari ide dasar mereka.

Merunut pada penelitian ilmiah—tentu saja aku menggunakan data ilmiah semenjak para aktivis primitivis dan anti-peradaban juga menggunakan data ilmiah untuk membenarkan argumennya—utopia para aktivis ini, di mana corak produksi masyarakatnya pemburu-peramu, membutuhkan sebuah dunia di mana populasi manusia sedunia ini maksimal hanya sekitar 100 juta orang saja. Lebih dari jumlah tersebut corak produksi pemburu-peramu tak akan lagi dapat berjalan dengan berkesinambungan. Sementara, melongok pada kondisi dunia masa kini, terdapat setidaknya 7 milyar manusia yang hidup di atas planet ini. Maka untuk merealisasikan utopianya, otomatis para aktivis ini perlu ‘melenyapkan’ manusia sebanyak 6.900.000.000 orang—atau sekitar 99% populasi manusia di atas bumi. Bagaimana caranya agar hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana cara melenyapkannya? Sulap? Para aktivis biasanya marah apabila ditanya soal hal ini, tentu saja, karena mereka tidak bisa menjawabnya padahal, sebagaimana tadi telah kuungkapkan, hal itu adalah konsekwensi logis dari konsep yang mereka usung dan gembar-gemborkan. Uniknya justru yang paling jujur adalah beberapa individu eko-fasis seperti Pentti Linkola misalnya, yang mana secara terbuka ia menyarankan dihadirkannya pembasmian massal.

Dengan melihat hal di atas, walaupun mungkin terasa terlalu menyederhanakan, bukankah pada ujungnya bahkan mereka, para aktivis yang mengaku anti-politikpun, berdiri di pijakan yang sama dengan para fasis yang jelas-jelas politis? Linkola sendiri malah menganjurkan untuk dibentuknya pemerintahan totaliter yang brutal sebagai salah satu cara pengurangan populasi besar-besaran. Problematik memang, tapi setidaknya ia berani mengungkapkannya secara terbuka.

Terakhir, walau bukan yang paling akhir, adalah sejumput para insurekionis, yang merupakan campuran kasar antara komunis anti-negara dan anarkis insureksioner yang mengambil inspirasi teoritis dari The Coming Insurrection dari Invisible Committee dan praksis dari kerusuhan di Yunani beberapa tahun ke belakang. Pernyataan tegas mereka yang mengaku tidak memiliki agenda politik apapun, bisa dilihat dari slogan-slogan mereka seperti: “Occupy Everything, Demand Nothing” misalnya. Tapi gambaran umum mereka malahan jadi persis seperti apa yang dikatakan oleh seorang feminis Marxis-otonomis radikal, Silvia Federici, saat ia ditanya mengenai peran feminis dalam aksi insureksioner. Ia berkomentar, “The problem, I believe, is when these actions become an end in themselves, carried out, as ‘We are the Crisis’ states, ‘for no reason’. For in this case, in the absence of any articulated objective, what comes to the foreground tends to be the glorification of risk-taking.”

Aksi mereka, menjadi tujuan mereka, diakui atau tidak. Mereka tidak ingin apapun, selain melakukan aksi yang konon insureksional itu. Ada aroma bravado yang kuat di sini. Dan dengan melihat hal tersebut, jadi apa beda mereka dengan para pecandu perang, seperti misalnya para hooligan Serbia yang dipersenjatai, diberi kebebasan absolut bertindak apapun, dan dikirim oleh para politisi Serbia untuk menghabisi kaum muslim Bosnia beberapa waktu lalu? Masih lekat dalam ingatanku soal kasus tersebut. Atau untuk contoh lain, para preman yang dikirim oleh para korporat, yang biasanya juga didukung oleh aparat kepolisian, ke pedesaan-pedesaan untuk mengusir para petani agar tanahnya dapat dirampas korporasi? Aku tak melihat ada beda yang signifikan di antara para insureksioner dan para hooligan serta preman tersebut. Semuanya sama-sama melakukan sesuatu hanya karena mereka suka atas apa yang mereka lakukan, tak ada alasan lain. Bedanya hanya bahwa para hooligan Serbia dan para preman tersebut mendapat upah yang cukup baik dan bebas dari tanggung jawab apapun.

Dengan demikian, dalam pandanganku, mereka yang menyatakan anti-politik pada akhirnya cenderung berdiri di pijakan yang sama, berdampingan dengan para fasis.

Pada akhirnya juga, saat berbicara mengenai politik dan kita tahu momen beraroma politik belum lama ini adalah soalan Pemilu, dalam Pemilu lalu, para pemilih yang dengan bangga memilih, mereka yang golput dan menggembar-gemborkan bahwa golput itu adalah hak, termasuk mereka yang menyatakan anti-politik tapi berkelakuan sama dengan mereka yang politis, semua adalah manusia-manusia politis. Semua tak ada bedanya. Pada taraf tertentu pula, sebagaimana politik itu menyebalkan, maka mereka juga menyebalkan.





Tentang Menjadi Manusia Indonesia: Identitas

6 04 2014

Di negeri ini, kekuatan politik pertama yang berani mengusung nama Indonesia adalah Partai Komunis Indonesia (PKI), saat negeri ini masih di bawah koloni Belanda. Pemberontakan modern pertama yang mana para pelaku pemberontakan memiliki kesadaran akan harga diri, posisi kelas dan nilai kebangsaan, adalah pemberontakan melawan kolonial Belanda di tahun 1926. Pemberontakan yang gagal tentu saja, tapi poinnya bukan soal kemenangan, melainkan untuk mencanangkan identitas soal siapa bangsa bernama Indonesia. Pemberontakan terorganisir pertama tersebut diorganisir oleh PKI. Keputusan untuk mengambil kesempatan, saat Jepang ditaklukan pasca pemboman Hiroshima dan Nagasaki, untuk memroklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 1945, didorong oleh pemuda-pemudi gila, nekad dan radikal, yang sebagiannya adalah anggota PKI. Maka tercetuslah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di 17 Agustus 1945. Pemberontakan PKI di Madiun pada 1948, adalah juga pemberontakan untuk memperkuat status dan harga diri ke-Indonesia-an setelah buntunya perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda, yang ditengahi oleh PBB. Orang-orang gila dengan mimpi tinggi dalam genggaman mereka.

Aku tahu sejarah negeriku. Aku paham bagaimana kini aku bisa hidup di sini seperti saat ini. Aku mengerti bagaimana aku bisa memiliki paspor bertuliskan Indonesia dan nama negeri asalku Indonesia setiap kali seseorang bertanya padaku di luar negeri darimana aku berasal. Penanda geografis belaka memang, tapi setidaknya itu identitas yang kusandang. Aku tidak bisa berkata bahwa aku sekedar warga bumi, warga dunia, karena kulitku berbeda, karena bahasaku berbeda dan aku tidak menyukai ide untuk membuat satu bahasa dunia. Aku menyetujui adanya bahasa universal untuk memudahkan komunikasi, tetapi aku tidak menyetujui dilenyapkannya bahasa ibu. Lingkunganku berbeda dan nilai-nilai yang kuanut berbeda.

Setiap kali aku melangkah di negeri lain, aku tahu dan sadar sepenuhnya bahwa aku bukan mereka. Aku bisa memelajari bahasa mereka, cara hidup mereka, apapun soal mereka, tapi aku tetap bukan mereka.

Aku tidak menyukai PKI. Lebih dalamnya lagi, aku tidak setuju dengan konsep-konsep yang diajukan oleh Lenin—sesuatu yang dijadikan panduan gerakan oleh PKI, diimbuhi dengan varian Stalinisme. Belum lagi melihat banyak error yang dilakukan oleh PKI, error yang dilakukan oleh partai-partai komunis di negeri lain, terutama di era Perang Dingin. Aku tidak ingin hidup di bawah rezim yang dibangun oleh para Leninis dan Stalinis.

Tapi di negeriku, di Indonesia, aku merasa aku harus memberi mereka kredit yang selayaknya. Atas apa yang telah mereka perbuat, lakukan dan korbankan. Bukankah apa yang ada sekarang adalah hasil dari apa yang terjadi sebelum-sebelumnya?

Maka saat belum lama berselang seorang perempuan, anarkis-feminis-traveller-kulit putih, menafikkan gunanya memahami Leninisme tanpa pernah memahami apa itu Leninisme, tanpa memahami apa peran yang pernah dilakukan para pengikutnya hingga hadirnya identitas Indonesia saat ini, dan mengatakannya persis di hadapanku, aku merasa tidak bisa tinggal diam. Ini tempatku, ini tanah di mana identitasku bermula, aku tahu dan paham sejarahku yang penuh darah, tapi ini tetap negeriku. Supremasi kulit putih sudah berakhir di sini sejak 1926, kolonialisme kulit putih sudah berakhir di sini sejak 1945, dan apabila kini seorang kulit putih masih merasa lebih superior di sini, di tahun 2014—walaupun ia tidak secara gamblang mengakuinya—adalah hal yang terbaik yang bisa kulakukan saat aku mengusirnya pergi dari tanahku.

Lagipula aku benci orang dungu yang merasa paham akan sesuatu padahal sesungguhnya ia hanya tahu dari apa yang ia dengar dari orang lain. Sungguh, bagiku kedunguan itu jauh lebih memuakkan daripada kegilaan.





Le Jeune Homme Amoureux

2 04 2014

Age is an issue of mind over matter. If you don’t mind, it doesn’t matter.
—Mark Twain

Dalam bulan-bulan terakhir, kini, sebelumnya, aku menyadari bahwa diriku lebih banyak tertawa dan sekaligus tak peduli. Dan mataku selalu tertuju padamu. Pada imajinasi akan dirimu.

Aku suka caramu tertawa. Tawa yang seringkali lepas dan nampak seperti ia yang tak memiliki beban perasaan bersalah dan dosa.

Tapi ada kalanya kita berjalan beriringan dalam diam, diterpa angin malam yang terkadang agak menusuk. Bulan, yang sebagiannya tertutup awan, membuat kita dapat dengan mudah melihat pucuk-pucuk pepohonan bergoyang, berayun lembut, hingga pohon-pohon tersebut menjadi hidup.

—Bisakah kita percaya pada mata, ilusi dan imajinasi?

Tanyamu. Atau mungkin tanyaku. Tak dibutuhkan jawaban memang, dan kita berdua menutup malam dengan pertanyaan tersebut.

Malam selanjutnya hujan turun dengan lebat di tempatmu dan juga tempatku. Kita tak lagi melewati malam bersama-sama. Kita berdua tidak kunjung menutup mata, di bawah atap yang berbeda, lingkungan tetangga yang berbeda, tetapi mendengarkan irama hujan yang sama. Dan kita sadar bahwa malam itu kita sebenarnya tidak bisa tidur terpisah.

Hanya saja kita tidak mengungkapkannya.

Dan seperti selalu, malam tanpa kantuk, di bawah siraman hujan yang berdesir teratur, dengan gelap yang tak kubiarkan diganggu terang artifisial lampu kamarku, membuatku memertanyakan dan mulai berbincang dengan diriku sendiri, tentang diriku sendiri.

Mengapa aku memilih untuk mengencani perempuan yang lebih tua usianya dariku? Aku saja memasuki usia 40 di tahun ini, jadi usia berapa pasangan kencanku kali ini apabila ia lebih tua dariku? Mengapa aku tertarik, setelah sekian lama aku selalu memiliki sekian pasangan di usia di bawah 25 tahun—beberapa mulai berkencan denganku di usia di bawah 20 tahun malah.

Sebenarnya memang tipikal, nyaris klise malah, saat melihat seorang lelaki yang lebih tua bergandengan tangan dengan seorang perempuan yang jauh lebih muda. Bahkan hal tersebut nyaris menjadi standar di kalangan para lelaki sendiri. Tetapi, seperti yang sisi kebenaran dari anarkis ungkapkan, bukankah standarisasi itu membosankan?

Ada banyak alasan dan aku hanya akan memaparkan beberapa di sini. Pertama, perempuan yang lebih tua bukan hanya lebih dewasa dan matang, atau juga independen secara finansial, tetapi yang lebih menarik adalah bahwa mereka merupakan kekasih yang baik dan biasanya tidak akan membuat kalut pikiranmu. Sebagai perbandingan, aku mengutip komentar seorang kawan perempuanku tentang kebiasaanku mengencani gadis-gadis belia di bawah 20 tahun sebagai berikut, “Bukankah mereka lebih banyak memberimu masalah dibandingkan dengan apa yang kau dapat?” Kini, kupikir kawanku ada benarnya. Dengan ia yang lebih tua dariku, aku tak mendapatkan masalah tersebut.

Mungkin sekarang, setidaknya bagiku, aku menyadari realisasi dari poin positif berkencan dengan perempuan yang lebih tua. Secara umum, lelaki selalu mengeluh tentang betapa pasangan perempuan mereka tidak paham apa yang mereka inginkan dan betapa pasangan-pasangan tersebut menyedot isi dompet mereka. Mungkin tidak masalah bagi para lelaki yang memiliki penghasilan tinggi, tapi bagi yang berpenghasilan pas-pasan, dengan upaya kerja yang melelahkan untuk mendapatkan uang, bagiku perempuan-perempuan yang menghisap uang kita seperti vacuum-cleaner sebaiknya mulai dihindari. Jadi, kupikir, mengapa tidak mulai untuk mengubah standarisasi yang ada? Mengapa tidak mencoba untuk mengencani perempuan-perempuan yang dapat menghargai lelaki, bukan mereka yang memperlakukan lelakinya seperti mesin ATM?

Rentang sekian tahun yang dijalani dalam hidup selalu memberi pengalaman berbeda. Itu dasar idenya.

Para perempuan di usia 20-an memang energik, ambisius, dan selalu haus akan pengalaman baru. Para perempuan di usia 30-an, mereka sudah mencapai tingkat kehidupan yang berbeda, apalagi dengan adanya kenyataan bahwa rata-rata sudah mulai memiliki anak. Para perempuan di usia tersebut mulai berpikir bahwa uang tidak tumbuh dari pohon uang dan mereka rela bekerja keras untuk hal tersebut—kelemahannya: mereka lebih memikirkan karir dibanding pengalaman hidup. Mereka mulai kehilangan antusias akan hidup dan, terus terang, mulai terasa membosankan. Perempuan di usia 40-an, mereka mulai mendapatkan posisi yang mapan, independen secara finansial, mereka mulai menyadari lagi bahwa masih ada dunia untuk dieksplorasi. Mereka mulai menerima dunia apa adanya, dengan carut marutnya. Pendeknya, tidak seantusias mereka di usia 20—yang terlalu spontan dan sering berujung terlibat masalah, entah itu finansial ataupun relasi sosial, dan tentu saja engkau yang harus ikut membereskannya—tetapi juga sekaligus tidak semembosankan mereka di usia 30-an yang berpikir betapa hidup ini hanya diisi oleh kebutuhan mengais nafkah demi anak-anaknya.

Memang, aku tidak berkata bahwa ada kesempurnaan dalam diri mereka di usia 40-an ke atas. Tidak sama sekali. Dalam setiap pilihan, selalu ada konsekwensi negatif yang harus ditanggung. Tetapi dari pengalamanku, bagaimanapun juga, toh pada akhirnya aku lebih rela menanggung konsekwensi tersebut untuk apa yang bisa aku rengkuh.

Dalam soal pengalaman, perempuan di usia 40 ke atas mungkin tidak lagi seceria diri mereka di usia sebelumnya, tetapi bukankah menakjubkan untuk melihat bagaimana ekstra 10 atau 20 tahun lebih telah memberi mereka pengalaman yang mana engkau dapat belajar darinya? Mereka tidak lagi merengek dan menyudutkanmu karena tidak mengerti apa yang mereka mau—biasanya para perempuan di usia 20-an tak mengerti apa yang mereka sendiri mau tetapi menyalahkan para lelaki karena tidak mengerti apa yang mereka mau. Perempuan di usia 40-an ke atas tahu benar apa yang mereka mau dan bagaimana mendapatkannya—termasuk bahwa mereka mampu memanipulasimu, baik secara fisik atau mental. Tapi pada intinya, mereka tahu benar apa yang mereka mau. Mereka telah menyadari bahwa menyimpan harap agar para lelaki akan tahu apa yang mereka mau adalah sama dengan membuang waktu. Mereka sudah menerima bahwa dunia tidak berjalan seperti dongeng Cinderella dan Putri Tidur. Mereka menyadari bahwa lelaki—serta siapapun—memang tak bisa diandalkan untuk dapat mengerti tetapi tidak mengutuki kondisi demikian. Mereka tak menyandarkan diri pada siapapun selain diri mereka sendiri. Mereka begitu independen.

Dalam soal independensi tersebut juga, perempuan di usia 40-an ke atas lebih mapan dalam urusan finansial, seperti sudah kuungkit di atas, tidak berharap para lelaki mendukung sepenuhnya karena mereka sadar betul bahwa ada kebebasan yang harus mereka bayar untuk finansial yang mereka dapatkan. Mereka tidak mau melepaskan begitu saja kebebasan tersebut. Ironisnya, hal ini sebenarnya juga jelas membuat lelaki bisa menarik nafas lega—kita tidak perlu berpikir soal isi dompet kita dan anggaran bulanan setiap kali pergi berkencan. Pendeknya, dengan perempuan-perempuan di usia tersebut, engkau tidak akan pailit.

Lalu soal kedewasaan. Mereka para perempuan tersebut tahu bagaimana menghargai berbagai hal dalam hidup. Mereka tidak berpikir acak, mendapatkan apapun acak sehingga juga sering mengalami kehilangan yang juga acak, seakan-akan segala hal hanya datang dan pergi tanpa apresiasi. Mereka justru lebih baik dalam menyikapi ideal-ideal materialistik—tahu bahwa beberapa materi mampu membuat mereka lebih hidup sekaligus tahu bahwa materi juga bukan satu-satunya jalan. Uniknya juga, aku jadi bisa berbincang, berdiskusi, berpikir ulang, tentang banyak hal dalam topik-topik yang mendalam. Aku justru mendapatkan banyak referensi baru untuk terus menerus menyegarkan pikiranku dan jalan hidup yang kupilih. Bukankah hidup ini adalah sebuah pengalaman akan perjalanan?

Dan terlebih lagi, bersama perempuan di atas usia 40-an, jauh lebih terasa saat dalam kondisi liburan. Perempuan-perempuan muda, cenderung memiliki kebiasaan yang mengganggu soal betapa mereka selalu ingin melakukan sesuatu dan mencoba hal-hal baru, cepat bosan tetapi juga sekaligus tidak mampu mendalami sesuatu terlalu lama. Perempuan di atas usia 40-an tidak. Mereka lebih suka memilih sesuatu dan bisa berlama-lama untuk satu hal tersebut dan tidak mudah terganggu hanya karena soalan bosan.

Sementara soal seks juga menarik. Perempuan di usia 40-an ke atas memiliki pengalaman dan penerimaan yang jauh lebih baik. Apabila tidak pengalaman dalam posisi atau teknik bercinta, mereka memiliki kelebihan untuk menerima dan mengimbangi. Aku tidak perlu membujuk-bujuk, membual dan meracau kemana-mana hanya karena aku ingin menjajal teknik baru sebagaimana yang kulakukan saat aku bersama mereka yang berusia 20-an. Aku cukup menjelaskan keinginanku—bahkan kadang aku hanya melakukannya saja dan sang perempuan tahu kemana arahku. Kalau satu atau beberapa momen aku sedang dalam kondisi lelah dan tidak bergairah untuk bercinta, aku tidak mendapatkan respon yang merendahkan dan malah ditinggalkan. Aku justru mendapatkan pemahaman, penerimaan dan kehangatan. Seks itu penting, tetapi relasi, kehangatan emosional, kenyamanan, jauh lebih penting lagi. Setidaknya bagiku. Saat aku lelah dan tak bergairah, bukan omelan dan tatapan sinis merendahkan yang kudapat, melainkan pelukan hangat dan usapan lembut yang memahami.

Tentu saja, tidak ada sesuatupun yang sepenuhnya sempurna tanpa cela. Secara fisik, bagaimanapun juga, perempuan di usia 40-an ke atas tidak sama tampilannya dengan mereka yang lebih muda. Ini memang sudah jam biologis. Kesempurnaan fisik jelas berbeda karenanya. Di beberapa bagian, tentu kelihatan, seperti payudara yang lebih kendor, perut yang sedikit berlemak, urat-urat yang lebih kentara dan beberapa kerutan kulit yang mulai kentara—aku bukan penggemar operasi plastik dan intervensi silikon, jadi rasanya aku harus menerima kondisi seperti itu. Tetapi di sisi lain, melihat pola hidup jaman sekarang yang jauh lebih berantakan dan tak sehat dibandingkan era-era sebelumnya, ironisnya seringkali aku menyadari bahwa malahan mereka di usia 40-an ke atas yang tubuhnya lebih fit dibandingkan mereka yang berusia masih di kisaran 20-an. Alasannya juga mudah dilihat: para perempuan di usia 40-an ke atas, yang mandiri secara finansial dan mampu memanajemeni waktu, selalu saja memiliki waktu untuk berolah raga, melakukan banyak gerak badan, dibandingkan mereka yang lebih muda dan selalu saja terlalu sibuk bekerja atau terlalu malas untuk bergerak.

Lagipula, setidaknya bagiku, pertanyaan kawanku benar adanya. Pada akhirnya aku sering merasa lelah berurusan terlalu banyak dengan para perempuan di usia 20-an. Mereka memberiku lebih banyak masalah dibandingkan membantuku mengurangi dan menghadapi masalah.

Jadi bagaimana bisa aku tidak tertarik kepada perempuan di usia 40 tahun ke atas?

Bukan berarti aku kini secara eksklusif memilih untuk tidak berkencan dengan gadis muda, aku hanya mulai menyadari betapa usia yang berbeda memiliki daya tariknya sendiri. Dalam paparanku di atas, aku juga sangat sadar bahwa aku membuat generalisasi di sana sini. Namun poin yang kuutarakan adalah bahwa perempuan, di usia yang dianggap telah melewati masa keemasannya, justru menyimpan sisi keemasannya sendiri. Sesuatu yang seringkali justru jauh lebih kemilau dibandingkan masa-masa sebelumnya.

—Tidakkah kau ingin memutar lagu yang kita berdua tahu, saat ini?

Tanyamu. Atau tanyaku. Dan kita berdua menyusuri lagu yang telah tersimpan di ponsel kami masing-masing, menemukannya dan menekan tombol berbentuk segitiga. Play. Lagu yang kita berdua tahu.

Tak lama, irama lagu ini kembali menangkap kita berdua. Alunan lambat, malas, yang mengudara dan menguap, dari ruang ke ruang, dari rumah ke rumah, dan menangkap kita berdua, bagai jala yang ditebar di udara. Irama lagu ini menggapai kita, merangkul kita, sebagaimana yang kukatakan padamu atau yang kau katakan padaku bahwa ternyata amat berharga bertahan hidup hingga usia kita masing-masing saat ini. Bahwa hidup masih layak untuk dijalani.

Tubuhku telah mulai terbiasa untuk mencari dirimu, setelah terlalu banyak berjalan, berkelok dan tersesat. Karena yang kutemukan dalam dirimu bukanlah dermaga karena aku tahu aku sudah memiliki dermagaku sendiri, begitu pula dirimu, tetapi bukan pula laut: sebuah tempat di mana semua sungai bermuara sekaligus tempat di mana kapal besar dan perahu kecil mengangkat sauh.





Singapura, Maret 2014: Kerlip Bintang di Atas Bencoolen

20 03 2014

Starry starry night
Paint your palette blue and gray
Look out on a summers’s day
With eyes that know the darkness in my soul

—Don McLean, Vincent

Aku agak lupa kapan terakhir kali aku kemari, ke hotel ini. 2009? 2010? Aku tak ingat pastinya. Apa yang kuingat bahwa kala tersebut aku menghabiskan malam di atap hotel ini bersama seorang mahasiswi seni di Nanyang University yang kukenal saat aku dikirim oleh tempat kerjaku kemari dan berurusan dengan gadis tersebut. Menatap rembulan yang kala tersebut hadir penuh dan begitu kuning, menenggak bir, berbagi tawa dan selanjutnya aku kehilangan flat cap-favoritku.

Tapi malam ini aku tidak bersama sang mahasiswi—bahkan mungkin ia kini sudah sudah lulus—melainkan bersamamu. Kita kembali punya kesempatan bertemu berdua saja di sini. Selain saat aku bekerja, kita punya semua waktu yang ada. Tak ada bulan kali ini, walau bintang berkedip cukup banyak. Langit di atas Singapura sedang sering diliputi mendung yang sesekali merintikkan hujan. Seperti sore tadi, di mana hujan turun dengan lembut dan hanya sebentar. Namun ternyata hal tersebut sudah cukup membuat atap hotel ini basah dan air masih menggenang di beberapa tempat. Keberuntungan bagi kita, malam ini mendung tidak menutupi bintang.

Angin berhembus cukup kencang sesekali, membuat udara tidak terasa gerah di sini, di bawah temaram beberapa lampu kuning yang menyinari dari beberapa sudut. Aku merapatkan ritsleting jaketku dan menegakkan kerahnya untuk melindungi leherku dari terpaan angin. Aku melirikmu yang berjalan menjajariku. Engkau sibuk membenahi overcoat­ hitam tipismu yang menutupi hingga sekitar 10 centimeter di atas lututmu sambil menjinjing satu kaleng Heineken.

Setelah beberapa saat aku mencari posisi duduk yang kering dan memiliki posisi yang tepat dalam sudut pandang untuk menikmati kota dari atas. Hotel ini memang kurang tinggi untuk bisa mendapatkan sensasi yang maksimal dalam upaya memerhatikan kota dari atas, tapi cukup baik untuk yang bisa didapatkan. Terutama dengan dirimu di sisiku.

Aku menepuk semen konkrit yang kududuki. Tapi sepertinya engkau tak mendengarkan. Engkau masih begitu khusyuk menatap gemerlap lampu kota.

Tempat yang tepat untuk menikmatinya, bukan? Tanyaku.

Engkau menolehkan kepala sedikit, lalu berdehem mengiyakan. Lantas kembali membisu menatap ke hamparan lampu di hadapanmu.

Aku menaruh kaleng birku, lantas berdiri dan melangkah mendekatimu. Berdiri di sebelahmu. Melakukan hal yang sama persis denganmu.

Menit menit berlalu dan kita seperti terpaku, mematung membisu dalam hening dan hembusan angin yang sesekali menerpa. Hingga entah pada menit keberapa, pada akhirnya engkau menolehkan kepalamu, menatapku.

Aku balas menatapmu.

Sepersekian detik saja, tak perlu bermenit-menit, hingga secara otomatis engkau melingkarkan lengan kirimu memelukku dan aku meraih tubuhmu. Merekatkan badan kita dan bibir kita yang tersenyum saling memagut. Basah. Dalam.

Kusadari nafasku berat memburu, sama sepertimu. Pertanda nafsu sudah mulai merasuk dan siap membuncah.

Mendadak engkau melepaskan pelukan.

—Aku perlu ke toilet, bisikmu seraya membalikkan badan dan siap berjalan menuju pintu. Aku tahu, pengaruh bir.

Tapi dengan cepat kuraih lengan atasmu.

Lakukan saja di sini, ujarku.

Engkau menatapku. Diam dan tampak ragu.

Aku tak melepaskan peganganku.

Di sini, ujarku lebih perlahan dengan nada yang penuh penekanan. Sekarang, lanjutku. Toh atap ini masih basah di beberapa tempatnya.

Engkau masih tampak ragu, tapi kemudian perlahan mengangkat overcoat-mu, menaikkan gaun terusan warna tosca-mu sambil sedikit membungkuk. Perlahan kau memelorotkan celana dalam hitammu hingga ke ujung kakimu.

Sesaat engkau nampak kembali meragu.

Kusodorkan tanganku dengan telapak tangan menghadap ke atas.

Engkau masih tampak ragu.

Kemarikan. Ujarku lebih tegas.

Engkau menatapku tanpa ekspresi, tetapi dengan melepaskan celana dalammu perlahan dan menaruhnya di tanganku.

Aku menghirup celana dalammu. Selalu ada aroma yang khas yang kusukai dari celana dalam yang sudah terpakai. Ada karakter yang ditinggalkan disitu dalam kondisinya yang masih hangat dan kadang sedikit lembab.

Engkau masih terpaku di hadapanku. Tak melakukan apapun.

Aku meremas dan mengantongi celana dalam hitammu dalam saku jaketku sambil menatapmu. Aku sudah bilang, di sini, sekarang. Ulangku.

Engkau kembali menaikkan overcoat sekaligus gaunmu dan berjongkok seraya menoleh ke kiri dan ke kanan sesaat.

Tak lama, ada bunyi desir air terdengar dan dari bawah kakimu terlihat air yang menggenang menyebar melebar. Kepalamu tertunduk memerhatikan genangan tersebut yang kian melebar. Ada aroma khas yang juga mengudara. Aroma yang justru dalam momen seperti ini jadi erotis.

Perlahan aku melepas ikat pinggangku dan mulai menurunkan ritsletingku. Lalu melangkah perlahan hingga tepat berdiri di mukamu dan kedua kakiku juga telah berdiri di atas genangan air keemasanmu.

Engkau menengadah menatapku.

Kini bunyi desiran sudah tak ada lagi walau aromanya masih sedikit tersisa. Hanya hening malam dan suara beberapa mesin kendaraan yang melaju di bawah sana yang mengisi sekeliling kita.

Dengan tangan kananku, lembut kuusap rambutmu. Pipimu. Dagumu.

Aku telah selesai membuka ritsleting dan mengeluarkan penisku yang kini sudah tegak teracung tanpa mesti memelorotkan celanaku. Dengan tangan kiriku yang mengusap batang penisku, jempol tangan kananku memainkan bibirmu yang tipis dan tampak melintang keras. Tak lama, dengan jempolku juga kubuka mulutmu. Perlahan kuraih belakang kepalamu dan kudorong menuju penisku yang sedikit demi sedikit masuk seutuhnya ke dalam mulutmu. Kutahan kepalamu sekian detik, hingga engkau tersedak.

Engkau terbatuk-batuk sesaat setelah penisku yang berlumuran liurmu kutarik keluar.

Aku membungkukkan diri, menengadahkan kepalamu agar engkau dapat kembali menatapku. Lalu kukecup bibirmu yang basah dengan lembut.

Lalu kita kembali melakukannya, seperti kita seharusnya lebih sering melakukannya: aku menyetubuhi mulutmu di alam terbuka.

Aku menengadahkan kepalaku saat angin kembali berhembus. Kupejamkan mataku sesaat. Momen yang indah, pikirku. Dalam remang malam dan di bawah langit berbintang, berdiri di atap sebuah hotel, dengan dirimu yang berjongkok di atas genangan air senimu, di hadapanku, yang sembari kuusap-usap rambutmu engkau gerakkan kepalamu maju mundur.

Momen yang sempurna walaupun akan berakhir dalam beberapa menit saja, pikirku. Tapi tak ada masalah semenjak semua momen pasti berakhir—termasuk momen terbaik. Tapi bukankah justru karena ada akhir, tak peduli berapa panjang waktunya, maka sebuah momen menjadi sempurna? Seperti kali ini, di sini. Inilah yang kusebut momen yang sempurna. Sungguh, sebanyak apapun aku mengeluh, aku tahu kalau aku mencintai hidup ini.





Tokyo, Maret 2014: 15 Menit yang Abadi (Bag.II)

10 03 2014

Lantai 10 kamar hotel ini, di kota ini, masih termasuk dalam ketegori gedung rendah. Dari jendela yang terbentang seukuran lebar 5 dan tinggi sekitar 1.5 meter, aku bisa melihat jalan raya yang sepi terbentang di bawahku, memisahkan hotel ini dengan gedung-gedung sebelahnya yang rasanya sepertinya gedung kantor. Ada meja sepanjang jendela dan hanya selebar sekitar setengah meter terpentang dari satu sudut jendela hingga ke sudut lainnya. Di meja yang terpentang ini, tersedia kursi yang nyaman, yang sepertinya memang dibuat sebagai padanan meja tersebut. Jadi aku bisa mengetik tulisan ini, misalnya, sambil menikmati pemandangan Tokyo di malam hari. Tapi mengetik itu hanya satu contoh aktivitas saja. Aku bisa melakukan banyak hal di atas meja seraya menatap keluar jendela. Menggambar, menonton televisi, menyeduh minuman hangat. Apapun.

Apapun.

Dan malam ini aku menggunakan meja ini sebagai penumpu kedua tanganmu, saat aku melakukan apa yang memang harus kulakukan: menyetubuhimu.

Jendela yang seperti televisi layar besar ini menyuguhkan pemandangan gedung perkantoran di mana masih banyak lampu dari jendela-jendela tersebut menyala terang. Hanya aku tak bisa melihat apa yang orang-orang kerjakan di dalam sana, karena ada tirai-tirai tipis yang menutupi pandangan dari luar gedung—setidaknya dari pandangan di jendela hotel kami tepatnya. Tapi mungkin malam ini, justru bukan kita yang ada dalam posisi pentonton. Kitalah yang merasa diri layak ditonton.

Aku menyalakan hanya lampu kamar yang kekuningan dan temaram. Tidak terlalu terang, tetapi setidaknya kalau ada yang hendak menonton aksi kita dari gedung sebelah, kupersilakan dengan senang hati. Betapa tidak? Lampu temaram ini, aku yakin, akan mampu memerlihatkan tubuh telanjangmu. Memerlihatkan apa yang kulakukan padamu. Di atas meja kamar ini. Awalnya memang aku tidak membuka tirai jendela. Itu karenanya mengapa engkau tidak keberatan saat kuminta untuk berdiri sedikit menungging dan berpegangan pada ujung meja dengan menghadap jendela. Tapi saat penisku telah memasuki tubuhmu, dengan tetap membiarkannya berada dalam tubuhmu, menjepit tubuhmu erat, dengan sengaja kutarik tali pengontrol tirai dan dalam sekejap jendela kita menjadi sebuah layar pertunjukan film porno amatir gratisan bagi siapapun yang ingin dan kebetulan melihatnya dari luar.

Engkau yang terkejut berusaha keras untuk melepaskan diri dariku, tapi dorongan tubuhku yang menjepit tubuhmu mungkin terlalu kuat. Tetapi mungkin juga justru karena usahamu juga tidak terlalu keras, alias engkau membiarkan hal itu terjadi.

Engkau menunduk, berusaha menyembunyikan wajahmu dengan membiarkan rambutmu tergerai menutupi. Tapi dengan segera kuangkat dagumu dan kusibakkan rambutmu ke belakang.

Biarkan saja. Kita harus memanjakan audiens, bisikku seraya terus menyetubuhimu. Audiens suka melihat ekspresi wajahmu.

Lalu kuletakkan kedua telunjukku di kedua sudut mulutmu, kutarik sebagaimana seorang joki menarik tali kekang kuda tunggangannya. Kepalamu tertarik tengadah, tentu saja, karena aku menarik kedua sudut mulutmu ke belakang. Terus dan terus. Terus dan terus. Hingga liurmu berlelehan keluar membasahi tanganku. Membasahi lehermu. Menetesi payudaramu yang terus berguncang seirama dorongan dan tarikan tubuhku.

Aku tidak tahu apa makna dari reaksimu. Tetapi dari saat tirai dibuka dan kau kupaksa untuk menatap ke depan, yang aku tahu, reaksimu menjadi berbeda. Gerak tubuhmu lebih aktif. Genggaman vaginamu lebih merapat. Dan lenguhan mesummu makin keras. Melenguh, mendesah, mengerang.

Engkau suka tubuhmu dipertontonkan begini, tanyaku pelan di telinga kananmu.

Engkau menggeleng keras. Menolak ide bahwa ternyata dirinya sebegitu mesum. Engkau menolak, tetapi seraya tetap mengerang.

Kutangkap kepalamu dan kusibakkan rambutmu hingga telingamu terbuka tak tertutup rambutmu. Ini yang kusuka, karena aku bisa menjilati daun telingamu. Tentu beserta lubang telingamu. Kusodok-sodokkan pangkal lidahku ke dalam lubang telingamu. Sebagai reaksinya, engkau meronta-ronta. Aku sengaja, aku tahu tentang betapa sensitifnya area telingamu. Maka yang kulakukan adalah justru semakin kencang menyetubuhimu, seraya kujilati telingamu. Kuhisap kadang, kugigit kecil kadang, kujilat kadang. Hingga mendadak engkau menjerit tertahan seraya tubuhmu berguncang keras dan seakan kakimu tak lagi dapat menumpu beban tubuhmu. Tapi aku tidak membiarkanmu terus melorot. Kupeluk rapat tubuhmu dari belakang dan menahannya agar engkau tetap di posisi semula. Satu tanganku bertumpu pada meja, menahan beban kita berdua, sementara satu tangan lagi menahan erat tubuh seraya kuremas payudaramu. Tentu saja karena aku suka payudara seperti milikmu yang berukuran sedang dan sudah mengendor—amat alamiah, jauh berbeda dari tipe-tipe payudara yang dipenuhi silikon. Sementara gigiku menancap di belakang lehermu. Seperti seekor kucing jantan menyetubuhi betinanya.

Dan, hei, bukankah malam ini engkau adalah betinaku?

Aku menarik penisku perlahan dari lubang vaginamu. Mengistirahatkan sesaat karena aku juga merasa bahwa waktuku tak akan lama lagi. Memberi penisku rehat tetapi kujaga agar tak sampai melembek. Hanya beberapa detik, menunggu desiran spermaku kembali turun sesaat, seraya kugosok-gosokkan batang penisku yang basah kuyup pada vaginamu, pada belahan pantatmu.

Kutarik kaki kananmu perlahan ke atas meja. Disusul kaki kirimu. Hingga tak lama engkau telah berada ada dalam posisi seperti berlutut, dengan tulang keringmu berhadap-hadapan dengan meja, dengan payudaramu yang melekat erat pada pahamu. Dengan posisi demikian, kedua bulatan pantatmu yang padat walau agak berlemak terpentang lebar. Engkau sendiri kini berpegangan pada pinggiran bawah batas jendela dan dari refleksi yang agak gelap yang terpantul di kaca jendela di hadapanku, engkau mengatupkan mata. Badanmu masih agak gemetar dan bergoyang-goyang maju mundur pelan seakan menguras seluruh isi cairan dari dalam vaginamu untuk keluar.

Sebelum engkau bereaksi lebih jauh, dengan perlahan kugerakkan kepala penisku ke arah bukaan anusmu, yang berkat  bantuan lendirmu yang melicinkan segalanya maka dengan perlahan—walau tidak terlalu perlahan—tapi pasti, aku mampu mendorong penisku. Masuk. Engkau terkesiap sejenak dan menjerit tertahan. Tangan kananmu sontak menahan pahaku. Tanda agar aku tidak maju lebih jauh.

Shhh. Bisikku.

Lalu kugamit pergelangan tangan kananmu dan kuarahkan kembali ke depan. Seraya kelanjutkan upaya penetrasiku. Tentu. Aku tidak ingin berhenti di sini.

Matamu terpejam rapat. Mulutmu terbuka. Tanpa kata-kata dan tanpa suara. Hanya terbuka. Lagi. Lagi.

Hingga pada akhirnya seluruh penisku sudah berada dalam saluran usus besarmu.

Aku berhenti sesaat. Membiarkan dirimu membiasakan diri sejenak, dengan sebuah benda menjejali anusmu. Memampatkan anusmu.

Beberapa detik aku diam. Hingga kurasakan tubuhmu mulai rileks dan ototmu tak lagi tegang, barulah aku menarik penisku keluar perlahan, untuk kemudian kembali melesak ke dalam. Satu kali. Dua kali. Hingga sekitar kali keenam atau ketujuh, aku bisa melakukannya dengan lancar dan tampaknya engkau tak lagi menolaknya.

Tapi seperti kubilang tadi, aku sendiripun sudah hampir sampai. Tak sampai hitungan keduapuluh—tentu sesungguhnya aku tidak menghitung dengan presisi, aku hanya menduga-duga belaka—aku merasakan desiran-desiran yang makin lama makin dekat pada hulu ledak dan semakin sulit rasanya untuk dibendung. Maka dengan cepat, lagi, aku memeluk tubuhmu, menekan tubuhmu ke depan, membuatmu seperti mencium lututmu sendiri, dan kembali kugigit belakang lehermu. Akan ada jejak di situ. Gigitan kedua malam ini, dan dengan mantap kusemburkan spermaku ke dalam usus besarmu. Lagi dan lagi.

Setelah beberapa saat, aku menarik penisku keluar. Berjalan mundur dan membiarkan kakiku menabrak batas kasur hingga aku jatuh terduduk ke belakang, dengan penisku yang perlahan-lahan mulai terkulai.

Sementara engkau masih dengan posisi yang sama di atas meja. Menjadi tontonan dari gedung sebelah—misalnya memang ada yang menonton, aku tidak tahu, karena dari apa yang kulihat, yang ada hanya jendela-jendela terang yang tertutup tirai. Mungkin ada yang mengintip dari balik tirai. Mungkin saja. Entahlah. Aku tidak peduli. Tidak malam ini.

Dengan sisa-sisa kekuatan tubuhku, aku bangkit. Kuperintahkan dirimu untuk mengambil posisi berjongkok, lantas kuraih cawan kecil di sudut meja. Kutempatkan cawan tersebut persis di bawah pantatmu. Aku tahu benar bahwa apabila ada cairan, apapun itu, sesedikit apapun itu, disemburkan ke dalam anusmu, maka secara otomatis anusmu akan mengeluarkannya tak lama kemudian.

Sambil menunggu, yang memang aku juga tahu tak akan lebih dari satu menit, aku memelukmu dari belakang. Kali ini bukan pelukan penuh nafsu berahi. Aku memelukmu hangat. Kucium pundakmu lembut.

Engkau membalikkan wajahmu. Wajah yang mana kusambut bibirmu dengan ciuman yang berawal dengan lembut tetapi bersambung menjadi saling pagut. Sesaat aku menghentikannya. Menarik bibirku. Kutatap wajahmu dan lantas kubisikkan sesuatu di telingamu, disusul dengan senyummu yang spontan merekah dan lidah kita kembali saling bergulat. Terus dan terus. Entah berapa lama.

Entah berapa lama kita berpelukan, di atas meja, dengan tirai jendela terbuka dari sebuah kamar hotel yang temaram dan dipenuhi aroma kebinatangan. Hingga alarm ponselku berbunyi tanda 15 menit sudah lewat, tanda bahwa seorang rekan kerja akan datang kemari tak lama lagi untuk membicarakan soal pekerjaan, dan karenanya aku harus segera turun ke lobby dalam keadaan segar.





Tokyo, Maret 2014: 15 Menit yang Abadi (Bag.I)

8 03 2014

Your own life while it’s happening to you never has any atmosphere until it’s a memory.

—Andy Warhol

Berdua bersama atasanku, aku rela berhujan-hujanan ke Mori Art Museum di Roppongi. Awalnya, karena aku sedang berjalan-jalan tak tentu arah di Ginza, aku melihat sebuah poster berukuran A4 bergambar Marilyn Monroe karya Andy Warhol. Sebuah iklan tentang pameran retrospektif besar Andy Warhol—terbesar yang pernah diselenggarakan di Jepang malah.

Andy Warhol. Siapa yang tidak ingin hadir?

Setidaknya bagiku. Aku harus hadir. Dan saat atasanku bertanya apa yang ingin kulakukan sore tersebut, aku hanya menjawab satu hal: pameran Andy Warhol. Atasanku yang awalnya sedang ingin menghabiskan hari dengan berbelanja, entah bagaimana memilih untuk mengikutiku ke Roppongi. Kita tahu Warhol, kita sering melihat gambar-gambar di majalah, internet, di manapun karya Warhol, termasuk karya asli Warhol, tapi kapan punya kesempatan melihat pameran retrospektif sang seniman? Melihatnya dengan alur yang benar dan tepat? Pernah? Atasanku hanya mengangguk dan segera mengganti sepatunya dengan sepatu boot dan membawa payung karena untuk ke museum tersebut, harus ditempuh dengan cara hujan-hujanan.

Dan memang, melalui berita kulihat bahwa suhu di Tokyo kini berada nyaris di titik 0. Ditambah hujan gerimis lebat dan angin dingin yang kencang.

Menghadapi cuaca seperti ini, dan aku harus berjalan menuju stasiun kereta, aku sempat nyaris memutuskan untuk membatalkan rencanaku. Tapi tidak, untungnya tidak. Karena, kapan lagi kalau tidak sekarang? Hujan dan angin? Apa masalahnya? Toh aku menggenggam payung. Lagipula, ini adalah salah satu tokoh yang kukagumi di antara sederet tokoh lainnya.

Andy Warhol memang bukan selera banyak seniman, tapi aku kan bukan seniman, jadi aku tidak peduli. Bagiku, walaupun siapapun tak suka seni, apalagi pop art, pameran di Mori Museum ini adalah sebuah pameran penting. “Andy Warhol: 15 Minutes Eternal” ini adalah pameran yang wajib dihadiri. Alasannya sederhana, karena ia membantu menunjukkan dengan jujur tentang bagaimana kehidupan dunia saat ini berjalan. Aku tidak menyesal datang kemari walau harus dengan kaki basah kuyup.

Mereka yang tidak suka Warhol, rata-rata melancarkan kritik bahwa Warhol sama sekali sekedar seorang yang tak punya talenta, sekedar tukang fotokopi, sekedar mereproduksi citraan-citraan harian Amerika dalam konteks artistik. Tapi melihat pameran ini, yang aku tangkap justru satu hal: Andy Warhol adalah salah satu seniman besar yang begitu jujur. Vulgar memang, tetapi jujur. Lagipula, seperti juga yang dipaparkan dengan gamblang oleh Situationist International, siapa di dunia saat ini yang bersih sama sekali dari dosa memfotokopi? Kita semua hanya mencuri dari apa yang telah ada dan berimprovisasi. Bukankah dengan demikian Warhol justru terasa lebih jujur dengan karyanya yang comot sana sini?

Seperti yang ia ungkapkan di salah satu wawancaranya, saat ia ditanya apakah ia ingin menjadi seniman besar, Warhol justru menjawab, aku tidak peduli, aku hanya ingin terkenal. Ia juga tidak peduli apakah karyanya akan dinilai sebagai seni atau bukan. Ia tak berkata apapun yang idealis dan muluk-muluk, sebagaimana seniman lain lakukan—walaupun pada akhirnya juga seniman-seniman lain ini mengidam-idamkan ketenaran. Warhol tidak. Terkenal adalah terkenal, tak ada kaitannya dengan soalan idealisme.

Apabila kita berhadapan dengan grup musik punk rock ngotot berada di jalur do-it-yourself tetapi di sisi lain memendam keinginan dielu-elukan di atas panggung seperti bintang lainnya; berhadapan dengan para radikal yang bersikukuh tetap radikal dan tak tergoyahkan tetapi di sisi lain mengakui butuh uang tetapi terlalu bodoh untuk bisa mencari uang, memendam hasrat akan popularitas dan pengakuan—intip saja Facebook kalau tidak percaya—; dengan keadaan seperti itu, mungkin aku hanya perlu mengingat Warhol: terkenal adalah terkenal, persetan dengan idealisme. Titik.

Tidak ada yang salah dengan menjadi idealis, tapi pertanyaannya: beranikah engkau untuk jujur? Seberapa jauh engkau berani jujur?

Kembali pada pameran dan soalan orisinalitas, di tiap-tiap segmentasi pembabakan hidup Warhol, pameran ini menampilkan kutipan-kutipan dari Warhol yang begitu menarik. Di salah satu kutipannnya tersebut, Warhol mengeluhkan satu hal, bahwa satu saat, orisinalitasnya tidak dihargai—tidak selalu dihargai—yang dengannya ia memutuskan untuk menyerah dari orisinalitas. Berusaha semampu mungkin untuk menjadi sama sekali tidak orisinal. Hal ini mengarah pada beberapa karya yang sama sekali tidak orisinal tetapi membuat ia terkenal: Campbell’s Soup Can dan Marilyn. Pertanyaan pentingnya adalah apakah orisinalitas sebenarnya memang penting? Improvisasi penting, sebagaimana juga Warhol. Tapi orisinalitas?

Entahlah, aku tidak yakin itu adalah hal yang penting. Dan itu yang diutarakan juga dalam kutipan-kutipan Warhol.

Terakhir, dari diskusiku dengan atasanku, yang membuat kami berdua begitu lama menghabiskan waktu di pameran ini—nyaris 3 jam—adalah tentang bagaimana Warhol adalah seorang yang kesepian. Aku teringat pada film yang pernah kutonton sekian tahun lalu, I Shot Andy Warhol. Dalam film itu, audiensi menatap pada dua orang individu kesepian, Andy Warhol dan Valerie Solanas, duduk di sudut yang berseberangan dari sebuah sofa merah terang. Ironisnya, obsesi keduanya pada kekuatan dan keterkenalan membuat mereka justru hanya mampu menonton pesta, seakan mereka berdua adalah komponen asing dari pesta tersebut. Terasing. Valerie Solanas, dengan overcoat yang kedodoran, rambut yang acak-acakan tanpa selera, dan kakinya disilangkan dengan amat maskulin. Sementara Warhol, di sisi lain, berdandan dengan teramat fashionable, wig warna peraknya acak-acakan tetapi penuh gaya, dan kakinya disilangkan secara sempurna dan amat feminin. Solanas, sang pelacur yang demi uang rela bermain seks dengan lelaki ataupun perempuan. Sementara Warhol tak pernah memiliki kontak fisik baik dengan lelaki ataupun perempuan walaupun hidupnya selalu dikelilingi lelaki-lelaki ganteng dan perempuan-perempuan cantik. Ironis dan kontradiktif, tetapi justru keduanya begitu klop.

Aku tak pernah paham mengapa Solanas pada akhirnya menembak Warhol dan menerbitkan tulisan SCUM Manifesto-nya yang terkenal serta digandrungi oleh para feminis itu. Entahlah. Mungkin karena aku kurang paham mengenai Warhol dan Solanas, lagipula aku memang alergi terhadap feminis. Tapi yang kulihat adalah, bukankah pada akhirnya yang tersirat dari relasi antara Warhol dan Solanas adalah sebuah relasi yang ambigu dari dua orang individu yang memang kesepian?

Mendapat kesimpulan demikian dari diskusi kami, aku mendadak terdiam. Atasanku juga. Kami hanya berdiam diri menghadap teks paparan soal pasca penembakan yang dilakukan Solanas. Hingga entah setelah berapa lama terdiam, atasanku berkata, bahwa mungkin memang itu kutukan dunia modern: kesepian. Dan Warhol cukup berhasil menerima hal tersebut sebagaimana ia ungkapkan, bahwa ia sadar apabila dirinya kesepian. Bedanya dengan orang-orang lainnya, Warhol menikahi kesepian tersebut saat yang lain mengingkari. Lalu kami berdua tertawa. Tertawa miris mungkin, karena hal yang kami tertawakan sama sekali tidak lucu.

Hingga, mendadak lagi, kami seperti tersadar bahwa ada jam yang harus ditepati, saat melalui speaker diumumkan bahwa museum akan ditutup dalam waktu setengah jam. Sebelum keluar, kami berjalan melewati ruangan yang dipenuhi memorabilia Warhol. Aku menunjuk beberapa—dibelikan oleh atasanku tentu saja—lantas kukantongi sebuah mug bergambar Campbell Soup dan dua buah gantungan kunci pisang Velvet Underground. Aku memang tidak biasanya tertarik dan rela hadir dalam sebuah pameran seni. Tapi kali ini, ini adalah pameran Warhol. Andy Warhol. Bukankah ia adalah seorang guru yang baik dalam melihat dunia (pasca-)modern ini?





Tokyo, Maret 2014: Antara Masa Lalu, Masa Depan dan Kesendirian

5 03 2014

Tokyo. Kupikir dulu kota ini dihuni oleh orang-orang yang teramat efisien, mengingat bagaimana pasca kekalahan Perang Dunia II mereka teramat cepat membangun negerinya kembali. Terlampau cepat malah untuk ukuranku. Tapi begitu menjejakkan kaki di sini, ternyata kota ini masih kalah efisien dibandingkan dengan Singapura.

Berkembang dengan mengikuti dan melakukan improvisasi dari model metropolitan Paris di era pra Perang Dunia II, kota ini bisa dibilang terlalu cepat pada masanya, tetapi sulit mengikuti perubahan-perubahan di era setelahnya. Terutama dalam soalan restrukturisasi kota. Sederhana memang, seperti bagaimana mengatur platform kereta bawah tanah. Kereta, seperti di Indonesia, menempatkan dua buah rel, dengan arah kereta yang berbeda di tengah, sementara platform berada di kedua sisi rel—artinya lagi, ada pemisahan antar platform. Bila engkau berada di satu platform dan ternyata harus berpindah kereta di platform seberang, engkau harus menuju stasiun-stasiun tertentu dulu untuk bisa pindah. Makan waktu tentu saja.

Sementara di Singapura, platform diletakkan di tengah, diapit oleh kedua rel kereta yang berlawanan arah. Saat engkau berpindah kereta, engkau tak perlu bersusah payah menyeberangi rel melalui tangga-tangga atau elevator sempit. Di sini, engkau harus berjuang melewati tangga-tangga yang seringkali hanya selebar dua meter—atau di beberapa stasiun hanya satu meter saja—dengan menjinjing kopormu. Tidak masalah memang, pada jamannya—mengingat bahwa stasiun-stasiun ini dibangun di masa di mana mobilitas kebanyakan orang tidak segila saat setelah internet dan ponsel pintar diciptakan. Seperti kataku tadi, kota ini maju mendahului jamannya tetapi sekaligus kesulitan untuk mengimbangi percepatan jaman saat ini. Singapura bisa lebih efisien, karena ia bukan belajar dari kota Paris era Perang Dunia I, melainkan dari Hong Kong pasca Perang Dunia II, tentu dengan memberi improvisasi di sana sini.

Aku mendadak teringat dengan kota-kota di Indonesia, pulau Jawa maksudku. Lihat, betapa kota-kota kita tidak dibangun dengan improvisasi yang sekaligus memerhatikan kehidupan kotanya, alias tidak nyambung. Kota Jakarta yang superpadat dan jalanannya macet diberi Transjakarta yang justru memangkas satu jalur dari jalan rayanya yang jelas-jelas tak menampung jumlah kendaraan yang lewat. Sudah demikian, malah Transjakarta ditiru diterapkan di kota-kota lain seperti Bandung dan Yogyakarta. Untuk Yogyakarta cukup baik, karena kota yang biasanya angkutan umumnya mati di kala magrib menjelang, kini masih tetap hidup hingga setidaknya jam 8 malam. Tapi Bandung? Apakah butuh Transbandung? Aku sangsi. Tapi yang pasti, aku sadar, betapa miskinnya negeri tempat tinggalku akan improvisasi. Menjiplak, jangan ditanya. Tetapi improvisasi?

Uniknya lagi, di saat struktur stasiun keretanya terjebak di masa lalu—karena perombakan struktur stasiun kereta bawah tanah tentu amat rumit dan sama sekali tak gampang—justru di sini pula digunakan Sinkansen, bullet train yang memiliki kecepatan 300 km/jam. Kereta peluru, melesat seperti peluru dan bentuknyapun terasa futuristik, walau dalam imajinasiku lokomotifnya tampak seperti moncong platypus dalam ukuran 15 meter. Masa lalu. Masa depan.

Hal lain yang justru juga menarik di Jepang, dari tegangan antara terlalu masa lalu dan masa depan, adalah saat aku melihat orang pertama di stasiun kereta, mengenakan pakaian tradisional Jepang—yang seperti kimono—lengkap dengan sendal kayunya, tetapi mengenakan kacamata Ray Ban dan menenteng MacBook. Lalu orang-orang sekitarnya seperti tak ada yang peduli, begitu juga dirinya. Bayangkan, di stasiun yang ramai, ada orang berpakaian seperti itu dan tak ada yang peduli. Lalu bayangkan juga, engkau mengenakan pakaian tradisional di stasiun Gambir. Ada akulturasi budaya yang entah bagaimana, mungkin aku harus memelajari sejarah Jepang dulu baru bisa membandingkannya dengan Indonesia, bisa melebur dengan baik.

Menarik, karena akulturasi tersebut terjadi di segala lini. Aku bisa melihat bentuk futuristik trolley di bandara Narita dengan manual bahasa Jepang. Aku menemukan makanan tradisional—seperti lemper, tetapi dibungkus plastik dan dengan isi daging babi—dijual di Lawson yang tentu lekat dengan budaya pop. Aku juga teringat dengan budaya-budaya popularnya seperti J-Rock dan J-Pop, bahkan juga dalam budaya marginalnya seperti Japcore. Engkau bisa mendengar dan melihat tampilan yang amat Barat tetapi di saat yang sama engkau juga merasakan nafas Jepang di dalamnya.

Di negeri kita, jelas hal itu amat sulit, belum lagi ditambah dengan naik daunnya gerakan-gerakan Arabisasi di kalangan muslim. Bukannya berakulturasi dengan budaya-budaya yang sudah ada di tingkatan lokal, yang ada malah semacam kiblat trend berpakaian ke arah Arab. Hingga sempat ada lelucon di kalangan beberapa kawanku yang aktif di media-sosial, bahwa di Indonesia ada dua jenis trend: mereka yang kebarat-baratan dan mereka yang kearab-araban. Memang mengesampingkan trend lain seperti ke-K-pop-K-pop-an—aku tidak menyebutnya kekorea-koreaan, karena para peminat kubu ini membatasi diri pada K-pop, bukan Korea yang lebih menyeluruh.

Kembali pada soalan Jepang, atasanku yang datang kemari bersamaku bertanya padaku, mengapa ia bisa menemukan makanan tradisional Jepang—tentu dengan modifikasi—di toko seperti Lawson dan diterima oleh masyarakatnya, tetapi kita akan sulit menemukan sekaligus menerima lemper atau nagasari dijual di toko serupa di Jakarta. Tentu saja, itu bukan pertanyaan, itu lebih berupa keheranan saja. Dan tentu, aku juga tidak merasa perlu menjawab.

Jepang bulan Maret. Seharusnya sudah masuk pada musim semi, apabila pergantian musim masih sesuai jadwal. Tetapi entahlah, ujar atasanku jadwal pergantian musim kali ini meleset. Beberapa minggu lalu terjadi badai salju. Lalu kali ini suhu masih berada di kisaran 6–10oC. Aku yang tak bersiap-siap dengan kondisi ini dan terus terang memang tak punya persediaan pakaian musim dingin cukup khawatir. Untungnya atasanku meminjamiku satu jaket musim dingin, long john dan sepasang sarung tangan tebal milik anaknya. Cukup ideal digabungkan dengan jaket kulitku yang mampu menahan serbuan angin dingin. Inipun jujur aku masih cukup kedinginan walaupun tak terlalu parah. Berjalan kaki menyusuri Ginza bersamanya cukup membantu badanku tetap hangat—tentu saja, dibantu dengan beberapa gelas sake. Aku tidak tahu apabila aku benar-benar sendirian. Mungkin aku hanya akan mengabiskan hari-hariku di sini dengan meringkuk di balik selimut hotel, karena untuk membeli pakaian musim dingin di sini harganya pasti cukup mahal—apalagi saat aku berjalan-jalan, model pakaian yang kusuka terpajangnya di etalase Burberry. Kalaupun misal kubeli, aku berpikir, sepulangnya dari Jepang kemana juga aku akan mengenakannya nanti? Jakarta? Bandung? Yang benar saja.

Di sebelah stasiun pusat dan bergigiran dengan convention center, ada sederetan rumah makan ala Jepang. Maksudku, aku tidak tahu apakah ini termasuk dalam menu masakan tradisional, melainkan bahwa tempat-tempat seperti itulah yang sering dikunjungi orang-orang di sini. Entah untuk menghabiskan waktu sepulang kerja, kencan ataupun sekedar menikmati sake hingga agak mabuk.

Kami memasuki salah satu rumah makan tersebut. Aku tidak tahu namanya, karena ditulis dengan aksara kanji, sebagaimana juga hal lain di sini—nyaris apapun ditulis dalam aksara kanji. Saat pintu dibuka, seorang pelayan menyambut kami dalam bahasa Jepang. Kami berdua hanya tersenyum-senyum tak paham, lalu membalasnya dalam bahasa Inggris. Tampaknya mengerti, ia segera masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian ia kembali bersama seorang pelayan lain yang segera berbicara dengan kami dalam bahasa Inggris.

Rumah makan ini padat. Amat padat. Penuh dengan bau keringat dan asap rokok. Berukuran lebar sekitar hanya 5 meter dan panjang 20 meter, ruangan ini jelas cukup pengap. Di sebelah kiri, terdapat meja dengan tempat duduk yang berhadap-hadapan, sementara di sebelah kanan hanyalah tempat duduk yang berbaris mirip tempat duduk bar, menghadap pada dapur di mana para pelayan yang selalu sibuk.

Di tiap-tiap sisi meja yang sebelah kiri, ada dua buah gantungan baju. Gunanya, mereka yang makan, biasanya akan menanggalkan jaket atau mantel tebalnya mengingat Jepang sering mengalami musim dingin. Dan tentu saja, tempat sempit, padat, ada sake pula. Pastinya gerah. Efektif, pikirku. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di negeri dengan empat musim, jadi mungkin saja negeri-negeri lain dengan empat musim akan juga seperti ini, di mana mereka selalu menyediakan tempat gantungan untuk pakaian musim dingin para pengunjung, hanya aku saja yang tidak tahu.

Melihat kepresisian dan ketepatan para pelayannya, terus terang membuatku kagum. Apabila di Jakarta, pelayan terlihat malas-malasan, sementara di Singapura pelayan terasa ketus, Malaysia terasa lebih mirip ke pada Jakarta, sementara di Hong Kong mirip dengan Singapur, ketus dan judes, maka di sini pelayannya ramah tapi efektif. Ia akan segera membantumu kala engkau terlihat kebingungan, tetapi ia juga sekaligus tidak melupakan pekerjaan yang sedang dilakukannya. Misalnya, ia sedang di tengah-tengah proses memasak, ia bisa saja dengan bergegas menemuimu lalu berlari-lari kembali ke depan kompor, kemudian baru kembali lagi menemuimu. Tidak banyak memang yang bisa berbahasa Inggris, tetapi aku bisa memesan dengan cara menunjuk gambar. Problemnya, di beberapa lokasi rumah makannya tak memiliki menu bergambar.

Di rumah makan ini, tentu saja, kami memesan sake. Apalagi? Bukankah dalam setiap kunjungan ke satu negeri kita harus mencicipi minuman khas negeri tersebut?

Disajikan dengan menggunakan batang bambu setinggi sekitar 40 cm dan juga dituangkan ke dalam gelas-gelas dari bambu setinggi 8 cm, minuman tersebut pikirku boleh juga. Kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi, mungkin hanya sebanyak bir. Kuperkirakan tak lebih dari 20%, atau malah kurang. Tapi ya, sake ini lebih terasa nikmat dibandingkan dengan sake botolan yang dulu pernah seorang kawanku bawakan sebagai oleh-oleh. Entah, mungkin suasananya yang membuat rasanya terasa lebih pas. Ada nuansa tradisi Jepang yang justru membuatnya seakan memiliki jiwa. Sake dalam kemasan botol kaca? Apa bedanya dengan bir? Sake tersebut telah kehilangan karakternya.

Malam pertama di Ginza, Tokyo, di tengah gemerlap lampu kota malam hari, kulalui dengan tubuh terisi sake bergelas-gelas bambu. Cukup menahan hawa dingin menusuk yang terus menerus menggempur tubuh.

Hanya satu yang agak kusayangkan.

Apabila Bill Murray dan Scarlet Johannsen menggambarkan dengan ironis tentang betapa sepinya hidup di tengah kota Tokyo yang semarak dalam Lost in Translation, aku justru sebaliknya. Sesungguhnya, aku lebih suka menelusuri sebuah tempat yang sama sekali asing bagiku, seorang diri. Sebagaimana dulu kususuri Singapura, Malaysia, Hong Kong. Bermodalkan hanya selembar peta—bukan digital karena Blackberry penangkapan sinyalnya tidak sebaik iPhone dan Samsung, yang bahkan membuka Google Map saja harus sering melakukan refresh yang kelamaan membuat jengkel—aku bisa mengenal satu kawasan dengan cukup baik. Aku bisa berbincang dengan cukup banyak orang walaupun sulit. Aku berusaha sendiri menemukan apa yang biasanya tak ditemukan. Aku tahu ke tempat dan lokasi seperti apa yang aku suka dan bisa nikmati. Sementara di sini, berjalan-jalan berdua bersama atasanku, aku tak pernah mendapat kesempatan bereksplorasi. Atasanku memang menyenangkan, terutama apabila dalam suasana santai seperti ini dan aku bisa menunjuk apapun yang aku mau tanpa mesti mengeluarkan uang—seperti membelikan tiket untuk hadir ke pameran Andy Warhol dalam perayaan 10 tahun Mori Museum dan membeli mug serta pernak-pernik dari sang seniman nyentrik tersebut, atau mencicipi macam-macam makanan, atau bahkan apabila kuajak ke surga mainan di Naka-Meguro ia pasti setuju—tetapi terus terang aku ingin berjalan menyusuri jalan-jalan di kota nan asing seorang diri.

Bukan aku tidak bersyukur, toh aku sudah berhasil mencapai negeri matahari terbit ini, salah satu kota yang sedari dulu kuingin kunjungi. Tapi seperti kukatakan tadi, aku hanya rindu berada seorang diri.

Sendirian.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 64 other followers